Bandung Raya

Disbudpar Kota Bandung Tuntaskan Patrakomala Coffee Club dengan Diskusi Pembangunan Ekosistem Kreatif Berkelanjutan

531views

METRO BANDUNG, bandugpos.id – Sejak diinisiasi tahun 2018, Patrakomala Coffee Club menjadi ruang setia bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk berdiskusi, mengidentifikasi, dan memberikan pencerahan kepada pemerintah untuk menyusun regulasi berdasarkan kebutuhan masyarakat. Sebagaimana Kota Bandung yang cukup subur dengan inisiatif dari 17 subsektor ekonomi kreatif beserta permasalahannya yang kompleks, kegiatan ini menjadi forum untuk mengadvokasi industri kreatif yang berkelanjutan.

Terkait dengan jangka waktu penyelenggaraan kegiatan, Sanny Megawati, selaku Ketua Tim Pengembangan Kreativitas, Media, dan Teknologi Disbudpar Kota Bandung menjelaskan bahwa setiap tahunnya, Patrakomala Coffee Club menghadirkan sekitar 30 sampai 40 episode. Adapun untuk tahun 2024, rangkaian kegiatan yang digelar hanya berkisar 15 episode.

“Sejak berdiri pada 2018 silam, Patrakomala Coffee Club  menjadi forum bagi masyarakat untuk memetakan potensi ekonomi kreatif di Kota Bandung. Yang mana setiap tahunnya, kami menggelar sekitar 30 sampai 40 kali. Untuk tahun ini (2024), kami hanya menggelar 15 kali. Dalam lima pertemuan terakhir, kami juga berkolaborasi dengan Komite Penataan dan Pengembangan Ekonomi Kreatif yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Nomor 398 Tahun 2022. Sedangkan terkait mekanisme pembentukan komite tersebut merujuk pada Peraturan Wali Kota Nomor. 40 Tahun 2022,” jelas Sanny.

Terkait dengan lokasi yang dipilih, Sanny menjelaskan alasan mengapa kafe dijadikan sebagai latar tempat rangkaian kegiatan ini.

“Supaya kegiatan ini lebih terbuka bagi masyarakat sekaligus menciptakan suasana yang santai dan akrab, kami memilih kafe sebagai latar tempat diskusi. Dengan begitu, kami berharap dapat menarik perhatian lebih banyak orang dan memberikan kesempatan untuk menjangkau berbagai kalangan,” jelasnya.

“Kemudian, secara filosofis, kafe merupakan simbol interaksi sosial dan kebersamaan. Tempat ini memungkinkan orang untuk berkumpul, berbagi ide, dan merayakan keberagaman pendapat. Dengan demikian, kami ingin menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi dalam membangun komunitas yang lebih kuat, itu juga mengapa kami menamakan program ini Patrakomala Coffee Club,” lanjutnya.

Episode Terakhir

Jum’at, (11/10), bertempat di Dreezel Coffee Hasanudin, Jalan Hasanudin, Bandung, Patrakomala Coffee Club digelar untuk terakhir kalinya pada edisi tahun ini, dengan mengusung tema “Peran Strategis Budaya dalam Mendorong Pembangunan Kota Kreatif yang Berkelanjutan”. Terkait dengan audiens yang dilibatkan, kegiatan ini dibuka untuk masyarakat umum. Selain itu, kegiatan ini juga mengundang beberapa pembicara, diantaranya Djaelani (Direktur Lembaga Jendela Ide), Budi Dalton (Budayawan), dan R. Rizky A. Adiwilaga, S.H. (Konsultan HKI).

Adapun konten yang ditawarkan pada episode ini adalah mengenai integrasi budaya dalam pembangunan kota kreatif, salah satunya melalui perlindungan hak kekayaan intelektual. Sanny kembali lagi menjelaskan tentang peran pemerintah dalam membuat regulasi yang mendukung keberlanjutan industri kreatif.

“Dalam hal ini, pemerintah memberikan perlindungan hak kekayaan intelektual sebagai upaya konkret. Maka dari itu, banyak sekali pelaku kreatif berbasis intellectual property (IP) di Bandung. Dan ini diberikan oleh pemerintah secara gratis,” ungkapnya.

“Dengan dijaminnya hak-hak kreatif para pelaku usaha oleh pemerintah, maka masyarakat tidak perlu takut untuk berinovasi di Bandung,” tambahnya.

Di sela-sela diskusi, Sanny juga memaparkan tentang pengembangan industri gim di Kota Bandung. Karena diantara banyaknya industri kreatif, industri gim menjadi salah satu sektor yang cukup digandrungi sekaligus menjanjikan. Di Kota Bandung sendiri, sudah eksis sebuah komunitas lokal yang menaungi industri terkait, yaitu Game Dev Bandung, dengan partisipasi di dalamnya sekitar 890 member. Tidak hanya itu, Kota Bandung juga menjadi basis beberapa perusahaan pengembangan gim, diantaranya adalah Agape Games, Agate, Arsanesia, Cresent Sun, Digital Happiness, Dragon Emperors, dan MassHive Media. Yang mana gim-gim yang dikeluarkan merupakan produk asli hasil karya anak bangsa.

Pasar Eropa dan Amerika

Tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, gim-gim yang dirilis oleh perusahaan-perusahaan tersebut juga telah menembus pasar Eropa dan Amerika. Salah satunya adalah Potion Permit, sebuah gim RPG yang dikembangkan oleh MassHive Media. Sejak dirilis pada tahun 2022, gim ini telah meraih kesuksesan yang signifikan dan tersedia di berbagai platform, termasuk Windows, Nintendo Switch, PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox One, dan Xbox Series X/S.

Menurut analisis dari Steam, estimasi pendapatan bruto yang dihasilkan oleh Potion Permit mencapai sekitar $1,397,218. Setelah memperhitungkan berbagai potongan seperti penetapan harga regional, diskon, pengembalian dana, dan biaya platform seperti Steam, estimasi pendapatan bersih yang diterima developer adalah sekitar $412,179. Gim ini juga berhasil menarik sekitar 143.000 pemain, dengan perkiraan 9.000 pemain aktif di platform Steam.

“Berdasarkan rapat kerja dengan Menteri Dalam Negeri, Pak Tito Karnavian, beliau menjelaskan bahwa industri gim di Kota Bandung sangat potensial untuk dimonetisasi. Bahkan, sampai berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bandung sekitar 1 juta 400 dollar dalam satu bulannya,” jelas Sanny.

Tentunya hal ini tercapai berkat kontribusi dari lembaga pendidikan di Kota Bandung yang mendukung tumbuhnya talenta – talenta dalam usaha pengembang gim. Diantara program studi dari perguruan tinggi yang menjadi basis belajar para mahasiswa yang berminat di bidang ini, yaitu

  • Program studi Desain Komunikasi Visual
  • Program studi Teknik Informatika dan Ilmu Komputer
  • Program studi Film dan Animasi

Kesuksesan tersebut juga turut mengundang pengakuan dari lembaga internasional UNESCO Creative Cities Network (UCCN), yang mana hal ini membuka akses yang lebih luas bagi Kota Bandung dalam pembinaan talenta dan pengembangan industri gim, khususnya dalam industri kreatif secara keseluruhan.

Dengan pamitnya Patrakomala Coffee Club, diharapkan pengembangan ekosistem kreatif di Kota Bandung terus meningkat. Sehingga, Kota Bandung sudah siap untuk menuju industri kreatif yang bisa bersaing dan berdaya banding di tingkat internasional, sekaligus berdampak terhadap sosial, lingkungan, dan ekonomi.(dimas/bnn)

Leave a Response