Demam Berdarah di Bumi yang Memanas: Ini Kata En-Roads
Demam Berdarah di Bumi yang Memanas: Ini Kata En-Roads


KOTA BANDUNG, BANDUNGPOS–Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bandung terus meningkat. Pada tahun 2024 saja, tercatat lebih dari 7.146 kasus dan 28 kematian. Di seluruh Indonesia, Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 200.000 kasus dan 1.430 kematian.
Beberapa faktor menjadi penyebab meningkatnya kasus, termasuk kesehatan lingkungan yang buruk, urbanisasi yang cepat, serta kondisi iklim yang semakin tidak menentu. Suhu udara yang naik dan curah hujan ekstrem — keduanya dipicu oleh perubahan iklim — juga menyebabkan bencana hidrometeorologi yang membantu risiko kesehatan.
Kemarin, saya ikut serta bersama warga menjalani “fogging” di lingkungan tempat tinggal. Fogging adalah ritual yang sudah biasa di sini, namun sifatnya hanya melindungi sementara. Begitu ada laporan kasus baru, fogging kembali dilakukan. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar:
Apa sebenarnya pengaruh perubahan iklim terhadap meningkatnya kasus demam berdarah?
Setidaknya ada tiga faktor yang dirasakan:
Suhu Kenaikan. Demam berdarah ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Suhu yang lebih hangat mempercepat siklus hidup nyamuk. Virus demam berdarah juga berinkubasi lebih cepat di dalam tubuh nyamuk (periode inkubasi ekstrinsik lebih singkat), sehingga nyamuk lebih cepat menular. Suhu tinggi juga memperluas wilayah penyebaran nyamuk ke daerah yang sebelumnya lebih sejuk, termasuk dataran tinggi.
Pola Hujan. Hujan deras menciptakan berkumpulnya udara — di selokan tersumbat, wadah terbuka, atau kolam kecil — yang ideal sebagai tempat berkembang biak nyamuk. Ironisnya, kekeringan pun meningkatkan risiko, karena orang biasanya menyimpan udara dalam wadah tanpa penutup, yang juga menjadi habitat nyamuk.
* Kelembapan. Tingkat kelembapan tinggi memperpanjang umur nyamuk, sehingga peluang penularan semakin besar.
Dampak yang Teramati dan Diproyeksikan
Perluasan Wilayah: Dulu terbatas di daerah tropis, kini DBD muncul di wilayah subtropis dan dataran tinggi (misalnya Nepal, Amerika Latin, Afrika Timur). Musim Penularan Lebih Panjang: Suhu hangat memperpanjang periode aktif nyamuk; di beberapa wilayah, risiko DBD kini berlangsung sepanjang tahun.
Wabah Lebih Sering: Variabilitas iklim, seperti fenomena El Niño, terbukti terkait terjadinya kasus DBD di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Pasifik.
Hasil Simulasi En-ROADS
Untuk memvisualisasikan risiko tersebut, saya menggunakan model simulasi iklim En-ROADS (Energy Rapid Tinjauan dan Dukungan Keputusan) guna melihat bagaimana kenaikan suhu dan kelembapan penularan DBD bila dunia gagal melakukan intervensi serius.
En-ROADS menyertakan 18 parameter yang saling mempengaruhi sistem iklim. Saya menguji tiga skenario: Business-as-usual (BAU): Suhu global naik hingga +3,3°C pada tahun 2100. * Aksi moderat: Suhu stabil di sekitar +2,0°C. * Aksi ambisius: Suhu dibatasi hanya +1,8°C.
Hasilnya cukup jelas: bahkan dengan aksi moderat, peningkatan suhu dan kelembapan tetap meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan nyamuk, termasuk DBD.
Saya menjalankan simulasi ini untuk Kota Bandung, Semarang, dan Yogyakarta — tiga kota yang saya amati selama lima tahun terakhir. Polanya konsisten: semakin tinggi tekanan iklim, semakin besar pula risiko kesehatan masyarakat.
Kita masih bisa beradaptasi, tetapi hanya jika pemanasan global dapat dijaga pada suhu di bawah 2°C — idealnya 1,5°C. Artinya, konsisten pada janji Perjanjian Paris: emisi harus dipangkas setengahnya pada tahun 2030, dan dunia mencapai net zero pada tahun 2050. Jika tidak, wabah-wabah akan semakin parah.
Dampak pada Kelompok Rentan :
Dampak ini tidak akan dirasakan sama rata. Penyayang disabilitas, lansia, perempuan, dan kelompok masyarakat miskin akan menghadapi risiko paling besar:
Layanan kesehatan yang tidak aksesibel menghambat pencegahan dan pengobatan. Beban kesehatan akibat iklim menambah peran pengasuhan, terutama bagi perempuan. Kelompok rentan sering tinggal di wilayah rawan dengan sanitasi buruk dan infrastruktur minim.
Ini bukan hanya soal DBD. Ini soal ketahanan iklim yang inklusif — memastikan kelompok rentan tidak ditinggalkan dalam strategi adaptasi dan mitigasi.
Semoga refleksi singkat ini bisa menjadi literasi bersama. Bagi yang tertarik, bisa mencoba langsung simulasi En-ROADS di sini: https://en-roads.climateinteractive.org.
Karena pada akhirnya, perubahan iklim bukan hanya krisis lingkungan. Ia adalah krisis kesehatan, krisis keadilan sosial, dan panggilan untuk kemiskinan yang inklusif. ** ( release/BNN)





