
2views
Oleh Muhammad Subhan
Masyaallah. Menginspirasi sekali, Bang. Terima kasih untuk hidangan pagi yang bergizi ini. Sehat dan sukses selalu. Saya pernah membaca buku Cara Belajar Yang Efektif. Saya praktekkan dan Alhamdulillah bisa “Mengubah” hidup saya ( Sajuri & Maya Asytaqu Ilayk)
COBA diingat-ingat, buku apa pertama kali yang membuat Anda suka membaca, bahkan barangkali menulis, hingga sekarang atau setidaknya pada suatu masa dalam hidup Anda?
Saya mencoba mengingat-ingat lagi. Buku itu berjudul “Mengarang Itu Gampang” karya Arswendo Atmowiloto. Saya temukan pada pertengahan 1990-an.
Gara-gara buku itu, saya makin gila membaca. Lalu, entah bagaimana, tiba-tiba saja muncul keinginan untuk menulis.
Membaca dan menulis, bagi saya, bukan lagi sekadar hobi. Dari dua aktivitas yang ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan itu, saya bekerja dan menjalani hidup hingga sekarang.
Buku Arswendo itu seperti magnet yang menarik saya masuk lebih jauh ke dunia karang-mengarang, dunia yang pada awalnya justru terasa asing dan tidak terlalu menarik ketika pertama kali saya akrabi.
Itulah buku yang kemudian membuat saya jatuh hati pada dunia tulis-menulis. Hingga kini, dan mungkin entah sampai kapan.
Buku itu saya pinjam dari sebuah perpustakaan masyarakat di tengah Kota Lhokseumawe. Bukan perpustakaan pemerintah. Saya bahkan tidak tahu siapa pemiliknya. Koleksinya lumayan banyak, dan saya rajin datang meminjam buku-buku di sana. Ketika itu saya masih duduk di kelas dua SMP.
Saya bersekolah di Kruenggeukueh, begitu pula rumah kami. Sebuah kawasan yang tampak “kaya” karena dikelilingi perusahaan-perusahaan besar. Di sana ada Pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM), Pabrik Pupuk ASEAN, dan Arun LNG.
Namun, waktu itu saya belum benar-benar memahami makna “kaya”. Sebab, di kaki perusahaan-perusahaan itu, di tengah konflik Aceh yang berkepanjangan, saya justru melihat dan mendengar banyak orang kampung menjerit karena kesusahan. Susah secara ekonomi. Potret kontras sekali.
Buku yang saya pinjam itu sempat tidak kembali kepada pemiliknya. Saya membacanya berulang-ulang sampai lusuh. Barulah ketika saya hendak pindah, merantau, atau lebih tepatnya pulang ke kampung ibu di Ranah Minang, setelah ayah saya yang orang Aceh itu wafat, buku tersebut saya kembalikan. Berat rasanya.
Entah kenapa saya begitu jatuh cinta pada buku itu. Mungkin karena buku tersebut terasa seperti seorang guru yang bijaksana, yang sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya. Arswendo tahu benar siapa pembacanya, seorang anak sekolah yang baru suka membaca, baru mengenal dunia karang-mengarang.
Dan, gara-gara buku itu pula, anak kecil yang kini sudah dewasa ini memilih jalan hidup dari dunia tulis-menulis.
Saya sungguh harus berterima kasih kepada Arswendo. Buku “Mengarang Itu Gampang” diam-diam mengubah jalan hidup saya. Sejak itu saya ingin menjadi pengarang seperti dirinya. Saya pun melupakan cita-cita masa kecil menjadi pilot pesawat tempur.
Di zaman konflik Aceh, pesawat tempur kerap meraung di langit. Sebagai anak kecil, saya membayangkan betapa asyiknya menerbangkan burung besi dengan rudal di perutnya. Namun, sebuah buku ternyata mampu membelokkan arah mimpi seseorang.
Kesukaan membaca sebenarnya sudah tumbuh sejak SD. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga SMA, terutama karena banyaknya majalah dan buku sastra terbitan Balai Pustaka di perpustakaan sekolah. Dari sanalah saya mulai akrab dengan pena, kertas, dan mesin tik.
Mesin tik, waktu itu, adalah benda mewah yang sangat saya impikan. Harganya mahal, sementara ekonomi keluarga tidak memungkinkan. Saya sering membayangkan kapan bisa memilikinya.
Untunglah ada seorang kawan yang baik hati. Ia meminjamkan mesin tiknya kepada saya. Kadang lama juga mesin itu tergeletak di rumah saya. Suara ketak-ketiknya membuat telinga emak saya panas dan wajahnya merah menahan kesal.
“Ketak-ketik setiap hari itu berisik sekali. Memang ada dapat uang?” begitu katanya selalu.
Itulah ujian pertama saya ketika bersentuhan dengan dunia tulis-menulis. Suara emak memperlihatkan ketidaksukaannya pada aktivitas yang menurut beliau tak menjanjikan apa-apa.
Dan memang, zaman itu zaman susah. Aceh sedang tidak baik-baik saja. Kontak senjata sering terjadi. Pekerjaan sulit. Sekolah pun tidak nyaman. Karena itulah, selepas SMA saya memilih merantau ke Padang.
Syukurlah, kini Aceh telah damai. Telah aman.
Di rantau, tahun-tahun pertama terasa sangat berat. Saya tidak datang sendirian. Ada ibu dan tiga adik yang saya bawa dan harus diselamatkan setelah ayah tiada. Saya harus bekerja. Harus mencari uang. Namun, banyak pintu pekerjaan tertutup bagi anak baru tamat SMA seperti saya.
Di titik itulah saya berpikir pekerjaan apa yang bisa saya lakukan tanpa meninggalkan hobi membaca dan menulis?
Maka, muncullah hasrat untuk bersungguh-sungguh menulis. Bukan lagi sekadar mengusir suntuk, sebaliknya menulis untuk bertahan hidup.
Pada tahun-tahun awal merantau itu, di tengah kesulitan hidup yang rasanya sudah sampai di puncak, saya menekadkan diri menulis sebanyak-banyaknya. Tulisan-tulisan itu saya kirim ke koran-koran di Padang dan Jakarta. Tentu saja, pada awalnya banyak yang ditolak.
Nyaris saya menyerah. Namun, untunglah, saya teringat kata-kata guru bahasa Indonesia saya di Aceh, guru yang pertama kali mendorong saya mengirim tulisan ke koran.
“Kalau kau berhenti, semua selesai.” Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga saya.
Saya tidak mau selesai. Apa yang sudah dimulai harus saya tuntaskan.
Akhirnya, setelah berkali-kali mengirim tulisan, beberapa mulai dimuat. Dari satu koran ke koran lain. Honor menulis pada masa itu masih cukup sehat untuk menopang hidup.
Produktivitas menulis kemudian membawa saya masuk ke dunia jurnalistik. Menjadi wartawan memang tidak gampang, tapi menyenangkan. Selama lebih lima belas tahun menjadi juru tinta di berbagai media, saya memperoleh pengalaman dan perjalanan yang luar biasa.
Sebagiannya saya catat dalam karya jurnalistik. Sebagian lainnya saya fiksikan menjadi puisi, cerpen, dan novel.
Buku Arswendo memang ajaib. “Mengarang Itu Gampang”, meski kenyataannya, ketika dibawa ke lapangan kehidupan, mengarang tidak pernah benar-benar gampang. Ada benturan, penolakan, kesulitan ekonomi, kejenuhan, bahkan keraguan dari orang-orang terdekat.
Namun, justru dari mengarang itulah saya menemukan jalan keluar ketika pintu-pintu pekerjaan lain tertutup.
Ternyata, orang bisa hidup dari menulis.
Sampai hari ini saya tetap memilih menulis. Tidak bekerja di instansi mana pun. Menulis telah menjadi jalan hidup yang saya jalani dengan segala suka dan dukanya.
Dan setiap kali Hari Buku Nasional tiba, seperti pada tanggal 17 Mei ini, ingatan saya selalu terbang kembali pada sebuah buku lusuh yang pernah saya pinjam terlalu lama dari sebuah perpustakaan kecil di sudut Kota Lhokseumawe. Buku itu tak ada lagi di tangan saya, tapi jejaknya abadi membentuk seluruh sisa hidup yang saya jalani hari ini.** (MUHAMMAD SUBHAN)
add a comment





