Opini

Berpikr dan Berpihak Rasional

Berpikr dan Berpihak Rasional

138views

Oleh Farhan Hellmy (President Dilans Indonesia)

DIMENSI-– persoalan inklusifitas sangatlah kompleks melibatkan berbagai aktor dan kepentingan yang beragam baik pemerintah maupun non-pemerintah. Kepentingannya seringkali tidak sejalan, penyandang disabilitas dan lansia (DILANS) seringkali terpinggirkan. Jumlah warga rentan ini yang diperkirakan lebih dari 1.5 Milyar di dunia, 50 juta diantaranya di Indonesia belum sepenuhnya menjadi basis dalam pengambilan keputusan.

Walaupun fondasi etik sudah dikukuhkan konvensi PBB dan diterjemahkan dalam berbagai peraturan perundangan negara, pelaksanaanya masih terseok-seok. Ini terlihat dari alokasi pendanaan yang tercecer di berbagai lembaga sektoral, yang koherensinya tidak terjaga. Pengarusutamaan seringkali menjadi “celah” untuk menghindari konsolidasi sumberdaya, diantaranya: kesehatan, jaminan sosial, pendidikan, sains dan teknologi, infrastruktur dan lainnya.

Dua hal gamblang terlihat: pertama, prinsip “No One Left Behind” dan “Nothing About Us Without Us” seringkali sekedar slogan dibanding sebagai prinsip.yang serius untuk diterapkan.

Kedua, kapasitas organisasi kelompok rentan ini tidak seimbang dibanding dengan kelompok kepentingan lainnya yang memiliki akses pengetahuan dan modalitas yang melimpah. Terjadi kesenjangan dalam memahami persoalan, apalagi mengkaitkannya dengan isu krisis iklim dan keberlanjutan. Karenanya partisipasi seringkali sekedar pengungkap keluh-kesah dibanding mendesakkan agenda terobosan dalam diskursus kebijakan rasional.

Atas dasar inilah, DILANS Indonesia berkolaborasi dengan Tasrif Modelling Team (TMT), komunitas System Thinking and System Dynamics (ST&SD), ASCODI Lab, dan Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB memperkenalkan pendekatan sistem.

Pada #Road2InclusiFest seri-1, “Investasi Sosial Bermakna” ditampilkan para pakar dan praktisi yang mumpuni di bidang ini: Farhan Helmy, M. Tasrif dan Fauzan (TMT) yang difasilitasi oleh Ina Juniarti (ST&SD).

Dialog berlangsung interaktif, Peserta yang hadir yang secara terbuka mengekspresikan pandangannya. Esensinya, apa yang dilihat dan dirasakan dalam keseharian memerlukan kebijakan inklusif yang sistemik

Leave a Response