Bambang, Perlu Sinergi GPMB, BAK Contohkan Bupati Maros
Kabupaten Maros Jadi Contoh Dalam diskusi itu, BAK mencontohkan Kabupaten Maros sebagai salah satu daerah yang menunjukkan dukungan pemerintah terhadap gerakan literasi. Ia menyebut dukungan Bupati Maros Dr.H.A.S.Chaidir Syam, S.IP.M.H. terhadap kegiatan literasi dan perpustakaan sebagai modal penting dalam membangun ekosistem literasi daerah. Maros, kata BAK , juga telah mengambil langkah strategis melalui terbitnya Peraturan Daerah tentang Pembudayaan Minat Baca atas inisiatif Bupati Chaidir Syam bersama DPRD Maros, Chaidir Syam juga membentuk Tim Pendamping Literasi Daerah atas SK Bupati Maros.


JAWA TIMUR, Bandungpos–Sesi Diskusi Santai Literasi bertajuk “Strategi Mengembangkan Program Literasi yang Berdampak Nyata di Masyarakat Jawa Timur.” dalam rangkaian Road to 25 Tahun GPMB, menuju Puncak Perayaan 25 Oktober 2026, menampilkan Pembicara Bambang Prakoso, S.Sos.M.IP. Ketua Gerakan Pembudayaan Minat Baca Provinsi Jawa Timur, hadir Sekjend PP GPMB Nuradi Indrawijaya, S.Pd., Korwil GPMB Sulawesi Prof. Dr. Hamna, M.Pd. Ketua Umum Gareulis Hj.R Yulia Yulianti, M.Pd., Ketua GPMB Kabupaten Maros Bachtiar Adnan Kusuma, dan Rianto Muradi GPMB Kota Bandung. Host M. Kh Rachman Ridhatullah (Founder & Managing Director QUARTIAN Creative Change Management Specialist) yang juga Ketua I PP GPMB
Dari Diskusi Zoom, Bambang Prakoso menegaskan pentingnya sinergi dan kolaborasi GPMB di Provinsi, Kab dan Kota.
Sementara Bachtiar Adnan Kusuma memantik perlunya Perubahan Paradigma GPMB. Ketua Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Maros yang juga Ketua Forum Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional, Bachtiar Adnan Kusuma, didaulat Host M. Kh Rachman Ridhatullah menyampaikan pendapatnya tentang GPMB.
Bachtiar Adnan Kusuma, menegaskan saatnya mindset tentang GPMB didorong untuk mengubah paradigma dan memperkuat sinergi dengan pemerintah serta berbagai elemen gerakan literasi. GPMB, kata BAK semestinya tidak hanya diposisikan sebagai bagian dari perpustakaan, tetapi harus tetap menjadi gerakan relawan yang mandiri, kreatif, dan terbuka terhadap kolaborasi.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi virtual melalui Zoom yang digelar Pengurus Pusat GPMB menyambut 25 Tahun GPMB pada Oktober 2026 mendatang.
Bachtiar menegaskan, GPMB memiliki sejarah panjang sebagai gerakan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat di deklarasikan pada 25 Oktober 2001 di Istana Bogor, dengan melibatkan sejumlah elemen literasi, termasuk Perpustakaan Nasional, penulis, pustakawan, dan pegiat literasi.
“Jangan menganggap bahwa GPMB itu semacam anak yang dilahirkan dan hidupnya dalam perpustakaan, tergantung dan harus mandiri” ujar Bachtiar dalam diskusi tersebut.
Menurutnya, paradigma hubungan antara perpustakaan dan GPMB perlu diperbarui. Perpustakaan dapat berperan sebagai pendukung sekaligus mitra utama, sementara GPMB diberi ruang lebih luas untuk merancang dan melaksanakan kegiatan literasi.
Bachtiar Adnan Kusuma menilai, GPMB tidak boleh terus bergantung pada program dan anggaran perpustakaan. Sebaliknya, pengurus GPMB harus memiliki kreativitas, inovasi, serta networking yang kuat untuk membangun kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, penulis, pegiat literasi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan Bupati, Walikota dan Gubernur. Menurut Bachtiar, keberadaan gubernur, bupati, wali kota, hingga politisi yang memiliki kepedulian terhadap literasi akan menjadi kekuatan penting dalam memperluas jaringan gerakan GPMB.
Kabupaten Maros Jadi Contoh
Dalam diskusi itu, BAK mencontohkan Kabupaten Maros sebagai salah satu daerah yang menunjukkan dukungan pemerintah terhadap gerakan literasi. Ia menyebut dukungan Bupati Maros Dr.H.A.S.Chaidir Syam, S.IP.M.H. terhadap kegiatan literasi dan perpustakaan sebagai modal penting dalam membangun ekosistem literasi daerah.
Maros, kata BAK , juga telah mengambil langkah strategis melalui terbitnya Peraturan Daerah tentang Pembudayaan Minat Baca atas inisiatif Bupati Chaidir Syam bersama DPRD Maros, Chaidir Syam juga membentuk Tim Pendamping Literasi Daerah atas SK Bupati Maros.
Selain itu, kata Deklarator Nasional Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia dan Sekjend Asosiasi Penulis Profesional Indonesia 2017-2022 ini, Bupati Chaidir Syam memprakarsai terbentuknya Bunda Literasi Kabupaten, Kecamatan, Desa dan Kelurahan serta merintis hadirnya Perpustakaan Desa di Maros.
Namun, dukungan pemerintah tersebut, menurutnya, harus tetap menempatkan GPMB sebagai gerakan kerelawanan.
“GPMB itu adalah gerakan volunteer. Kalau pengurus GPMB tidak memiliki kreativitas, inovasi, dan networking yang bagus, maka jangan berharap bisa berkembang,” tegasnya.
Bachtiar juga mengingatkan bahwa gerakan literasi tidak boleh berhenti pada kegiatan membaca. Masyarakat yang telah memiliki kegemaran membaca perlu didorong untuk menulis dan menghasilkan karya.
“Setelah senang membaca, kita ajak masyarakat itu bisa juga menulis,” katanya. Diskusi virtual tersebut pada akhirnya menegaskan bahwa masa depan GPMB sangat ditentukan oleh kemampuan membangun sinergi, kolaborasi, kreativitas, inovasi, dan jejaring, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai gerakan relawan pembudayaan minat baca.





