Olahraga

Atlet Difabel Tidak Perlu Minder Merintis Dunia Usaha

215views

 

Bandung, BANDUNGPOS.ID – Dipenghujung tahun 2025 National Paralympic Commiitte Indonesia (NPCI) Jawa Barat kian produktif menggelar berbagai pelatihan. Yang paling anyar adalah “Pelatihan Keterampilan Atlet dan Mantan Atlet” yang digelar di Hotel Serela Jalan LLRE. Martadinata Kota Bandung, Kamis (18/12/2025).

Pelatihan diikuti 27 pengurus cabang (Pengcab) NPCI kota/kabupaten se Jabar dan berlangsung dua hari, 18-19 Desember 2025. Topik yang paling menyedot perhatian peserta adalah seputar kesempatan untuk berwirausaha dengan bekal dedikasi, loyalitas dan toleransi.

Topik tersebut diurai oleh sosok yang memang kapabel d bidangnya, yakni pengusaha rumah makan (RM) khas sunda Ampera, Yuheni. Alumnus Institut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN) ini  membahas tuntas dan lugas seputar peluang bisnis kuliner bagi insan NPCI Jabar.

Yuheni adalah putri kelima dari pasangan H. Tatang Sujani dan St. E. Rochaety, perintis rumah makan Ampera pada 1963. Menurutnya, setiap orang pasti memiliki motivasi untuk maju dan ini fakta tak terbantahkan.

“Hidup itu memang keras, perlu perjuangan, ikhtiar dan doa. Teman-teman disabilitas ini semuanya punya skill. Mereka hebat, jago-jago. Motivasinya juga luar biasa. Abdi mah eleh (saya sih kalah). Saya mah tidak mungkin jadi juara. Tapi mereka (penyandang disabilitas) sudah juara dimana-mana, dapat medali, dapat bonus uang,” ujar Yuheni di sesi jeda kepelatihan.

Soal rintisan usaha yang (mungkin) akan dilakukan teman-teman difabel, Yuheni menegaskan semuanya pasti berangkat dari nol. Ini siklus normal di dunia usaha. Semua akan bertahap dan tumbuh.

“Tak perlu modal besar. Memangnya bapak saya dulu pakai modal besar ? Enggak tuh. Pokokna wani we heula (berani saja dulu). Bismilah saja. Masing-masing punya keahlian. Keahlian didepan mata yang dimiliki teman-teman difabel, ya itulah bisnisnya,” papar pecinta sepeda motor gede alias moge ini.

RM Ampera menurut Yuheni terbuka untuk teman-teman difabel melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) tentu dengan kapasitas dan kapabilitas yang mereka miliki. Sejauh ini – lanjut Yuheni, RM Ampera cukup ramah disabilitas terutama dari sisi aksesibilitas.

“Saya ingin teman-teman difabel ini semuanya jadi bos, biarlah karyawan lain yang bekerja. Jujur, saya punya otak kanan yang tidak bisa kerja. Sementara otak kiri ada di karyawan yang memang mampu bekerja. Untuk jadi bos memang butuh proses. Tapi  itu harus dijalani. Ya berproseslah,” kata Yuheni.

Ditempat yang sama Ketua I Bidang Organisasi NPCI Jabar Komara mengatakan, bonus yang diterima atlet penyandang disabilitas idealnya bisa dimanfaatkan secara positif, misalnya merintis usaha agar si atlet yang bersangkutan bisa berdikari kelak dikemudian hari.

“Mengapa kita mengambil nara sumber dari RM Ampera, karena lewat proses perjalanan waktu terbukti mereka sukses. Nah RM Ampera ini merupakan salah satu bagian, bagaimana memberi motivasi kepada atlet jangan sampai bonus uang prestasi habis tanpa menyisakan sesuatu yang bermanfaat,” tutur Komara.

Menurutnya, kendala yang mungkin dihadapi atlet penyandang disabilitas untuk merintis dunia usaha adalah faktor minder, tidak percaya diri. Kendala seperti ini seyogyanya bisa diredam, misalnya dengan tetap bersemangat dan berfilosofi pada jargon nu “keyeng tangtu pareng” ( jika sungguh-sunggh tujuan pasti tercapai).

“Motivasi dari diri sendiri dan keluarga itu sangat penting. Disisi lain jika hibah di satu pengcab memungkinkan bisa membantu rintisan usaha atlet, saya kira lakukan saja. Kami (NPCI Jabar) punya keinginan seperti itu,” kata Komara. (den)

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Response