
Ambigu
Oleh Uten Sutendy
NARASI –tentang penghematan dan efisiensi anggaran berkumandang mewarnai langit jagat raya. “Kita harus hemat, hindari segala bentuk pemborosan,” katamu.
Esok harinya aku melihat pengawalmu mengenakan kemewahan dan berkendaraan meluncur meliuk-liuk di tengah kemacetan dan sesaknya pejalan kaki.
Narasi anggota korupsi sampai akar seringkali ditulis dan dipidatokan di banyak panggung sepanjang ruang dan waktu. “Negara kita paling kaya sumber alamnya di dunia. Tapi rakyat kita miskin karena korupsi,” kamu sering mengucapkan begitu dalam kerumunan pengikutmu.
Tapi esoknya, jagat media sosial heboh ada berita memuat nama -nama koruptor yang mendapat pengampunan dan penghargaan.
Engkau juga senang berpidato bahwa NKRI harga mati. Persatuan dan kesatuan bangsa nomor satu. “Karena itulah yang menjadi kekuatan kita,” katamu suatu hari.
Tapi kamu seringkali menjauhi akar yang membuat pohon bangsa berdiri kokoh dan rakyat bisa berlindung di bawah pohon dicabut. Sebaliknya kamu merangkul pohon pohon kecil berduri tanpa buah dan akar berkerumun di dalam istana.
Katanya kamu seorang demokrat sejati. Negara kita harus menjadi contoh penerapan demokrasi bagi bangsa-bangsa di dunia.
Tapi kamu malah membuka pintu dan merangkul kelompok oposisi seperti menunjukkan rasa takut ada perbedaan pendapat dan sikap kritis yang berlebihan.
Katanya kamu pemimpin pro-rakyat, berpihak dan mencintai rakyat dengan sepenuh hati.
Tapi sehari-hari kamu senang berkumpul di ruang dingin sambil menghisap cerutu dan menyeruput wine dengan para elite politik yang mengaku refrensentasi rakyat. Rakyat sesungguhnya malah kamu jauhi, jarang sekali kamu menyentuh dan menyentuh hati .
Sekarang kamu bisa merasakan sendiri efek dari segala sikapmu.
Rakyat marah, kemarahan yang timbul karena sikapmu. Ambigu.
Dapatkan perasaan
Tuan Sepuluh




