Oleh Ridhazia
Mengadopsi teknologi baru AI sebagai keniscayaan tak terhindarkan. Sejumlah perusahaan media, seperti BBC, Washington Post, atau Bloomberg telah menggunakan bantuan perangkat cerdas untuk menopang kinerja jurnalisme klasik tanpa ada keraguan lagi.
Dalam bingkai keskeptisan saya, AI selain menjanjikan peluang baru, sekaligus telah menjadi ancaman signifikan atas eksistensial jurnalisme “acta diurna” pada era Republik Romawi tahun 131 SM.
Jurnalisme Bot.
AI — yang pertama disebut pada Konferensi Dartmouth tahun 1956 — patut diduga bakal menjadi bab penutup jejak perjalanan sejarah jurnalisme klasik.
Sekaligus menjadi pembuka kelahiran jurnalistik terbarukan ketika platform teknologi pencarian (bot) yang dapat memenuhi keingintahuan publik dan memiliki banyak jawaban secara real time tentang peristiwa apa pun, melampaui batas kesanggupan manusia yang disebut jurnalis.
Hanya dengan menggunakan kata-kata kunci yang disebut “prompts” atau perintah jurnalisme baru berbasis mesin pencarian akan menjadi penyedia informasi yang lebih setia membantu publik menemukan esai opini dan artikel dengan analisis dan penafsiran data yang lebih akurat dan komprehensif.
Diawali Resah
AI telah membuat para jurnalis resah. Kerugian terbesar yang mungkin ditimbulkan oleh AI karena jumlah pekerjaan mengolah informasi dan memberitakan dapat diotomatisasi dengan AI akan jauh lebih besar dan cepat.
Itu sebabnya, perusahaan media terkemuka dunia seperti BBC, Washington Post, atau Bloomber pada gilirannya menggunakan bantuan perangkat cerdas ini tanpa keraguan lagi. Tapi tenggelam dalam keresahan tentang masa depan sang jurnalis.
Keresahan serupa pernah dilakukan pada tahun 2023. Sebuah komisi khusus yang diketuai oleh Maria Ressa, seorang jurnalis penerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2021 mencoba membuat norma baru dengan menerbitkan Piagam Paris tentang AI dan Jurnalisme.
Diasumsikan AI yang tumbuh secara eksponensial dan menjadi tidak terkendali belakangan ini sebagaimana dikatakan Elon Musk pada gilirannya akan menghancurkan umat manusia ” tanpa perasaan dan sakit hati”. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.





