
Adakah Orang Jahat?
Oleh: Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin)
Saya mulai bertanya kepada Anda sekarang, adakah orang yang benar-benar jahat atau jahat? Jawablah, di dalam hati saja. Pertanyaan ini sebenarnya sudah dibahas dari berbagai sudut pandang, istilahnya pertanyaan klasik, namun tetap menarik untuk didiskusikan.
SERING orang mengatakan “dia jahat.” Apakah orang yang dimaksud jahat benaran, maksudnya jahat dalam segala hal, atau sebutlah perilakunya seperti Setan? Saya ingin menyatakan dan mungkin seperti Anda juga bahwa tidak ada orang yang sepenuhnya jahat dan tidak ada orang yang sepenuhnya baik. Tidak ada orang yang baik dalam segala hal, dan tidak ada orang yang buruk dalam segala hal.
Betul, kebaikan dan kejahatan tidak mungkin bercampur tapi keduanya bisa dipraktikkan oleh seseorang di waktu yang berbeda. Namun, potensi kebaikan itulah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri manusia.
Nabi kita menegaskan bahwa setiap yang lahirkan semua dalam keadaan “fitrah”. Ada ahli yang menyebutnya sebagai “kertas putih.” Kata “putih” itu bermakna baik karena putih menunjuk pada kesucian.
Dalam teori perkembangan yang dianut para ahli, semua sepakat bahwa orang itu pada dasarnya baik. Artinya ketika seseorang itu tumbuh tanpa intervensi lingkungan sekalipun, pasti yang muncul adalah perilaku yang terpancar dari potensi sifat baik.
Bayangkan menaruh seorang bayi di hutan tanpa intervensi pergaulan manusia, pasti dia akan tetap tumbuh menjadi baik, karena insting kebaikannya akan bekerja. Tapi cukup membayangkan saja, jangan lakukan karena pasti Anda percaya orang jahat. Lagian, bayi siapa juga mau ditaruh di hutan.
Ada contoh lebih konkrit. Isteri saya punya kucing kesayangan di rumah. Betul kesayangan, karena pekerjaannya hanya makan, buang air, tidur, dan mengeong. Kucing itu lebih sering melompati pagar dibandingkan seisi rumah yang lain.
Kucing itu diberikan oleh temannya sejak masih bayi. Selama hidupnya, kucing itu sama sekali tidak pernah bergaul dengan kucing lain. Jangankan bergaul, menginjak tanah saja tidak pernah. Tapi kenapa dia pintar sekali menyergap. Kenapa tahu bahwa cecak itu adalah buruan kucing. Kenapa kalau ada pergerakan tikus di atas plafon, jadi waspada. Menjawabnya, karena itulah bawaannya, karakter diri yang dibawa sejak lahir.
Sampai di sini, saya ingin mengatakan bahwa kejahatan yang dipraktikkan oleh manusia adalah hasil dari tindakan di luar dirinya, yaitu lingkungan sosialnya. Jadi sebenarnya tidak ada penjahat dalam arti semua perilakunya mengandung kejahatan. Penjahat itu kata yang seharusnya tidak berdiri sendiri. Karena bukanlah seorang pun yang murni penjahat. Lahirlah istilah, penjahat perang, penjahat berkerah putih, penjahat berkerah hitam, dan penjahat yang bajunya tanpa kerah. Mungkin rusak waktu diburu warga kompleks. **Penulis Rektor UIN Alauddin, bertempat tinggal di Kota Makasar.
Editor : Rianto Muradi




