Kolom Sosial Politik

Pakar di Iran Bisa Berhentikan Pemimpin Tertinggi

30views

 

Oleh: Pasca Muhammad 

PERADABAN Persia yang panjang dan kuat dalam menghadapi tekanan geopolitik karena kontribusi para pakar. Kelompok intelektual inilah yang mendukung kemajuan negara bertahan dalam peradaban tinggi.

Malah, Majelis Pakar Iran (Assembly of Experts) adalah lembaga tinggi di Iran yang bertugas memilih, mengawasi, dan memberhentikan Pemimpin Tertinggi Iran.

Terhormat

Alih-alih digoblogin, para pakar di negara Mullah itu dimanjakan kepala negara. Kompetensi dan keahlian diberi ruang terhormat, terbuka dan luas dibandingkan peran tentara sehingga selalu berada di peringkat atas dunia dalam kemandirian teknologi kemiliteran dan medis.

Tak berlebihan, dunia memuji negara di Persia tersebut berada di peringkat atas dunia untuk dalam jumlah pakar sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Jumlah dan kehandalannya sejajar dengan negara Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan Rusia.

Perlu diketahui, daya tahan Iran yang luar biasa ternyata berkaitan penduduknya unggul kecerdasannya. Rata -rata Intelligence Quotient (IQ) penduduk Iran termasuk yang tertinggi di dunia. Berada di kisaran 104,8 yang menempatkannya di peringkat keempat global.

Data UNESCO mencatat angka melek huruf mencapai sekitar 88,9 persen. Lebih tinggi dari rata-rata global sekitar 80 persen. Bahkan, tingkat literasi generasi muda mendekati 99 persen.

Ekonomi Perlawanan

Khususnya dalam menghadapi embargo internasional yang telah berlangsung sejak tahun 1979, serta invansi militer oleh Israel dan Amerika Serikat, para pakar dan ilmuwan domestik memegang peran krusial sebagai pilar utama ketahanan (survabilitas) ekonomi, militer, dan teknologi.

Isolasi dari sistem keuangan global (seperti SWIFT) dan pembatasan ekspor minyak oleh Barat juga memaksa para pakar Iran merancang strategi adaptasi yang dikenal dengan konsep Economy of Resistance (Ekonomi Perlawanan) yang dalam bahasa Persia disebut Eghtesad-e Maghavemati.

Strategi makroekonomi Iran ini merupakan inisiatif kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei yang sudah diumumkan sejak tahun 2014 membuka peluang Iran menukar minyak atau komoditas dengan barang kebutuhan pokok dari negara mitra.

Dengan menggunakan mata uang lokal dengan negara mitranya Iran berhasil menghindari sistem kliring kliring berbasis dolar (CHIPS).*

 * Pasqa Muhammad, dosen Jurusan Hubungan Internasional FISIP UIN Sunan Gunung Djatiu, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response