
Oleh: Ridhazia
FRASA “goblok” berasal dari bahasa Jawa yang berarti sangat bodoh atau tidak tahu apa-apa.
Dalam bahasa Sunda frasa “goblok” mengalami pergeseran pengucapan huruf akhir ‘k’ diganti ‘g’ menjadi “goblog” dan kerap dihaluskan lagu menjadi “géblég”.
Kemudian kata “goblok” diserap ke dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan mengejek, mengkritik, atau bercanda dalam pertemanan terbatas.
Belakangan, frasa “goblok” digunakan dalam pidato sejumlah sesi sambutan resmi Preisiden Prabowo dan kemudian menjadi sorotan publik.
Presiden menggunakan frasa “goblok” saat menyampaikannya pidato pada puncak perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat malam, 18 September 2026.
Frasa yang menjadi viral dan menuai kontroversi tersebut berbunyi:
“Saya bersumpah untuk melihat Indonesia sejahtera, itu sumpah saya. Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok.”*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.



