Bandung Raya

FK Unisba Dorong Hilirisasi Tanaman Obat di Cililin, Teknologi Pengering Sederhana Buka Peluang Ekonomi Baru bagi Petani

72views

CILILIN, bandungpos.id – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada hilirisasi tanaman obat. Kegiatan yang berlangsung pada 8–9 Agustus 2026 di Kampung Wangun, Desa Karya Mukti, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung tersebut mengusung tema “Hilirisasi Tanaman Obat melalui Teknologi Pengeringan Sederhana untuk Meningkatkan Kemandirian dan Nilai Ekonomi Petani Kampung Wangun.”

Program ini menjadi wujud nyata pelaksanaan tridarma perguruan tinggi sekaligus upaya mentransformasikan potensi tanaman obat lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi melalui penerapan teknologi tepat guna.

Kampung Wangun memiliki lahan yang sangat potensial untuk budidaya berbagai jenis tanaman obat. Kekayaan sumber daya alam tersebut semakin bernilai karena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap bahan baku herbal, pangan fungsional, dan produk kesehatan berbasis tanaman alami.

Namun, hingga kini sebagian besar hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk segar. Kondisi tersebut menyebabkan umur simpan produk relatif singkat dan kualitasnya mudah menurun setelah panen. Selain itu, masyarakat masih membutuhkan peningkatan pengetahuan mengenai hilirisasi tanaman obat, pengolahan pascapanen, pemanfaatan teknologi sederhana, hingga pengembangan produk bernilai ekonomi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Tim PKM FK Unisba menghadirkan program pemberdayaan yang mengombinasikan edukasi, pelatihan, dan praktik langsung. Materi yang diberikan meliputi potensi ekonomi tanaman obat, teknik pengolahan pascapanen, penggunaan teknologi pengering sederhana, pengendalian mutu bahan baku, serta penguatan jiwa kewirausahaan kelompok tani.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Lelly Yuniarti, S.Si., M.Kes., dengan anggota tim Dr. Noormartani, dr., M.Kes., Eka Hendryanny, dr., M.Kes., dan Widayanti, dr., M.Kes. Pelaksanaan program juga menjadi bagian dari implementasi integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang Farmakologi dan Naturopati.

Teknologi Pengeringan Tingkatkan Kualitas dan Daya Simpan

Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah teknologi pengeringan sederhana. Teknologi tersebut dirancang agar mudah diterapkan oleh masyarakat dalam mengolah tanaman obat setelah panen sehingga kualitas produk tetap terjaga.

Melalui proses pengeringan yang lebih terkontrol, tanaman obat memiliki daya simpan lebih lama, lebih mudah dikemas dan disimpan, serta berpotensi menjadi bahan baku herbal berkualitas tinggi dengan nilai jual yang lebih baik.

Peserta pelatihan memperoleh pembelajaran menyeluruh mulai dari pemilihan bahan, sortasi, pencucian, pemotongan, proses pengeringan, penyimpanan, hingga teknik pengemasan. Selain itu, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan, konsistensi proses produksi, serta standar mutu produk.

Metode pelatihan dikemas secara partisipatif melalui penyuluhan, demonstrasi, dan praktik lapangan sehingga peserta dapat langsung mempraktikkan teknik pengolahan yang telah dipelajari.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, Tim PKM FK Unisba menyerahkan satu unit mesin pengering sederhana kepada pengurus RT dan Kelompok Tani Hurip Barokah.

Keberadaan mesin tersebut diharapkan mampu membantu masyarakat mengolah hasil panen secara lebih efisien, menjaga kualitas bahan baku, meminimalkan kerusakan pascapanen, serta menghasilkan tanaman obat kering dengan mutu yang lebih seragam.

Penyerahan mesin juga menjadi bagian dari proses transfer teknologi. Sebelum alat digunakan secara mandiri, peserta mendapatkan pelatihan mengenai cara pengoperasian, pengaturan proses pengeringan, pemeliharaan mesin, hingga prosedur penggunaan yang aman.

Dengan demikian, mesin pengering tidak hanya menjadi sarana produksi, tetapi juga menjadi aset kelompok yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam mengembangkan usaha berbasis tanaman obat.

Menumbuhkan Kemandirian dan Jiwa Wirausaha

Program PKM FK Unisba juga diarahkan untuk mengubah pola pikir masyarakat agar tanaman obat tidak lagi hanya dijual sebagai komoditas mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.

Untuk mendukung tujuan tersebut, tim memberikan pelatihan mengenai kewirausahaan, pengemasan produk, inovasi pengembangan usaha, hingga pembentukan unit usaha kelompok. Melalui kegiatan ini, Kelompok Tani Hurip Barokah didorong membangun sistem produksi bersama agar ilmu, teknologi, dan keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pengelolaan mesin pengering secara kolektif juga diharapkan mampu memperkuat kelembagaan kelompok, meningkatkan tanggung jawab terhadap aset bersama, serta memperluas kapasitas masyarakat dalam mengembangkan ekonomi produktif berbasis tanaman obat.

Ke depan, kelompok tani diharapkan mampu menghasilkan bahan baku herbal kering yang lebih terstandar, memperbaiki kualitas kemasan, memperluas jaringan pemasaran, dan membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

Sebagai bagian dari program, Tim PKM FK Unisba juga melaksanakan monitoring dan evaluasi untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta, keterampilan teknis, kemampuan mengoperasikan mesin pengering, serta kesiapan masyarakat dalam mengembangkan usaha.

Keberhasilan program ditargetkan terlihat dari meningkatnya pemahaman mengenai hilirisasi tanaman obat, berkembangnya keterampilan pengolahan pascapanen, optimalnya pemanfaatan mesin pengering, terbentuknya unit usaha kelompok, hingga meningkatnya nilai tambah produk herbal yang dihasilkan.

Selain pelatihan, peserta juga menerima buku saku sebagai panduan praktis yang dapat digunakan dalam mengembangkan pengolahan tanaman obat setelah kegiatan PKM berakhir.

Hilirisasi Riset untuk Mendorong Ekonomi Desa

Program ini menjadi salah satu implementasi unggulan PKM Fakultas Kedokteran Unisba dalam pemanfaatan bahan alam untuk kesehatan sekaligus bentuk hilirisasi hasil penelitian agar dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.

Melalui penerapan teknologi pengeringan sederhana, petani diharapkan mampu mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan kualitas produk, serta memperoleh nilai jual yang lebih tinggi. Tanaman obat yang sebelumnya hanya dipasarkan dalam kondisi segar kini memiliki peluang untuk diolah menjadi bahan baku herbal kering yang lebih awet dan bernilai ekonomi.

Kolaborasi antara FK Unisba, pemerintah setempat, dan Kelompok Tani Hurip Barokah diharapkan menjadi fondasi dalam membangun kemandirian masyarakat berbasis potensi lokal. Dengan pendampingan berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi yang tepat, Kampung Wangun memiliki peluang besar berkembang sebagai sentra tanaman obat yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan. (askur/nmn)

Leave a Response