Kolom Sosial Politik

Jangan Sampai Anak Hanya Menjadi Tamu di Masa Kecilnya Sendiri

19views

Oleh: Ridhazia

SETIAP 23 Juli, kita memperingati Hari Anak Nasional. Spanduk dipasang, balon diterbangkan, media sosial dipenuhi foto anak-anak yang tersenyum. Semua sepakat, “Anak adalah masa depan bangsa.”

Kalimatnya indah.

Sayangnya, yang sering kita bangun justru gedung untuk orang dewasa, sementara ruang bermain anak perlahan menghilang.

Kita membangun mal, apartemen, ruko, jalan layang, dan kafe. Semua memang penting. Tapi tanpa sadar kita juga mengambil sesuatu yang tak bisa dibangun kembali: masa kecil mereka.

Anak laki-laki masih menggenggam layang-layang. Anak perempuan masih memeluk boneka kesayangannya. Namun mereka kebingungan mencari lapangan. Yang tersisa hanya beton, pagar, dan papan bertuliskan, “Areal Pembangunan.”

Lucunya, orang dewasa sering berkata, “Main di luar bahaya.” Ketika anak memilih bermain gawai di rumah, kita malah mengomel, “Main HP terus!” Anak jadi bingung. Mau main di luar tak ada tempat, di dalam rumah dimarahi. Kadang memang orang dewasanya yang lebih membingungkan.

Soal makanan pun begitu. Beberapa kali kita mendengar anak-anak mengalami keracunan dalam berbagai kegiatan. Makanan disiapkan seadanya, pengawasan ala kadarnya. Ironisnya, kalau konsumsi rapat orang dewasa terlambat sepuluh menit, grup WhatsApp langsung ramai. Tapi kalau makanan anak bermasalah, sering cukup dijawab, “Namanya juga musibah.” Padahal, bagi anak, satu piring makanan yang aman jauh lebih berharga daripada seratus pidato tentang masa depan.

Kita ingin mereka berprestasi. Jadwalnya penuh: sekolah, les, kursus, lomba. Tapi kapan mereka punya waktu berlari sampai bajunya penuh tanah? Kapan mereka tertawa lepas tanpa takut dimarahi? Yang paling menyedihkan, banyak orang tua bekerja keras demi masa depan anak. Itu mulia. Tetapi tanpa disadari, mereka kehilangan masa kini bersama anak.

Suatu hari rumah mungkin sudah lunas. Mobil sudah berganti. Jabatan sudah tercapai. Namun suara kecil yang dulu memanggil, “Ayah… Ibu… lihat aku…”, mungkin telah berubah menjadi suara orang dewasa yang hanya sesekali menelepon karena kini mereka juga sibuk mengejar hidupnya.

Masa kecil tidak mengenal tombol ulang. Anak tidak akan pernah berusia tujuh tahun untuk kedua kalinya. Tidak akan lagi meminta digendong ketika tubuhnya sudah lebih tinggi dari kita.

Malam nanti, sebelum tidur, cobalah tengok anak-anak kita. Mungkin mereka sudah terlelap. Usap pelan rambutnya. Mereka tidak tahu berapa gaji kita, tidak peduli apa jabatan kita, dan tidak mengerti betapa berat pekerjaan kita. Yang mereka tahu hanya satu: besok pagi mereka berharap Ayah dan Ibu masih punya waktu untuk memeluk mereka. Karena bagi anak, cinta tidak diukur dari banyaknya uang yang dibawa pulang, melainkan dari waktu yang kita sisihkan untuk mereka.

Maka Hari Anak Nasional seharusnya bukan sekadar seremoni setahun sekali. Ia adalah pengingat agar kita lebih peduli, bukan hanya kepada anak sendiri, tetapi juga kepada setiap anak di sekitar kita. Sebab ukuran sebuah bangsa bukan hanya tingginya gedung yang berdiri, melainkan seberapa besar hati orang dewasanya menjaga senyum anak-anaknya.

Mungkin yang paling miskin di negeri ini bukan mereka yang tidak punya uang. Tetapi mereka yang tidak lagi punya waktu untuk mendengarkan tawa anak-anak. Sebab uang bisa dicari kembali, jabatan bisa berganti, bahkan rumah bisa dibangun ulang. Tetapi masa kecil seorang anak hanya datang sekali, lalu pergi tanpa pernah menoleh ke belakang.

Jangan sampai ketika kita akhirnya punya banyak waktu, justru anak-anak kita sudah tidak lagi membutuhkan pelukan. Karena saat itu, yang telah berlalu bukan sekadar waktu… melainkan seluruh masa kecil mereka.*

  * Widodo, kolumnis, pemerhati keruwetan sosial, praktisi penyiaran, Ketua Persatuan Penyiar Radio Indonesia (Persiari), bermukim di Pontianak, Kalimantan Barat.

Leave a Response