
Oleh: Endah Hamzah
PADA April 1966, Jalan Braga di Bandung, yang dikenal sebagai kawasan elite dan tenang, tiba-tiba berubah menjadi medan protes besar-besaran. Peristiwa ini dikenal dengan nama Braga Membara, mencerminkan api kemarahan rakyat yang berkobar di sepanjang jalan. Ribuan mahasiswa dan pemuda dari Kesatuan Aksi Pemuda Indonesia (KAPI) dan Komite Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) turun ke jalan, membawa tuntutan rakyat dalam Tritura: pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), penurunan harga, dan pencopotan Subandrio dari jabatannya.
Subandrio dan Kepemimpinannya
Salah satu tokoh sentral dalam gejolak politik ini adalah Marsekal TNI (Purn.) (Tit.) dr. H. Soebandrio, atau Subandrio (15 September 1914 – 3 Juli 2004). Pada tahun 1956, Presiden Soekarno memanggil Subandrio ke Jakarta untuk menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, yang kemudian diangkat menjadi Menteri Luar Negeri. Pada tahun 1960, Subandrio dipromosikan sebagai Wakil Perdana Menteri Kedua, dan pada tahun 1962, ia diangkat menjadi Menteri Hubungan Ekonomi Luar Negeri. Selain memegang ketiga posisi strategis ini, ia juga bertindak sebagai kepala intelijen, menjadikannya salah satu tokoh terkuat di bawah pemerintahan Presiden Soekarno hingga tahun 1966.
Sebagai arsitek utama kebijakan luar negeri sayap kiri Indonesia, Subandrio menggalang aliansi dengan Republik Rakyat Tiongkok dan memprakarsai kebijakan “konfrontasi” terhadap Malaysia, yang memicu ketegangan besar dengan kekuatan Barat, terutama Amerika Serikat dan Britania Raya. Krisis Selat Sunda pada tahun 1964 menjadi salah satu bukti ketegangan ini, di mana kapal induk Inggris HMS Victorious melintasi perairan Indonesia tanpa izin. Kebijakan luar negeri Subandrio inilah yang membuatnya menjadi salah satu tokoh yang paling diperdebatkan dalam sejarah politik Indonesia.
Tuntutan Mahasiswa
Setelah insiden G30S/PKI pada tahun 1965, Subandrio dicopot dari jabatannya dan dituduh memiliki keterkaitan dengan PKI meskipun tidak ada bukti langsung yang menunjukkan keterlibatannya dalam gerakan tersebut. Pada saat peristiwa tersebut terjadi, Subandrio diketahui sedang berada di Sumatra untuk urusan dinas. Namun, posisi pentingnya sebagai Menteri Luar Negeri dan kepala intelijen membuatnya dianggap oleh publik sebagai salah satu simbol kegagalan pemerintah dalam menangani ancaman dari dalam negeri.
Dalam gejolak politik yang semakin memanas, Subandrio dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (MAHMILU). Eksekusi ini akhirnya ditunda setelah intervensi dari pemerintah Britania Raya melalui Ratu Elizabeth II, mengingat hubungan diplomatik yang pernah terjalin saat Subandrio menjabat sebagai duta besar pertama Indonesia untuk Inggris. Permintaan pengampunan ini berhasil mengubah hukuman mati Subandrio menjadi hukuman penjara seumur hidup. Setelah menghabiskan 29 tahun di penjara, ia dibebaskan pada 1995 karena alasan kesehatan dan menjalani sisa hidupnya di Jakarta hingga meninggal pada tahun 2004.
Gejolak Demonstrasi di Jalan Braga
Pada April 1966, Jalan Braga yang biasanya menjadi pusat hiburan kalangan elite berubah total saat mahasiswa KAPI dan KAMI bergerak dengan tuntutan Tritura. Mereka menghancurkan etalase toko-toko yang ada, mengambil potret Bung Karno dari etalase, dan membantingnya ke jalan, diinjak-injak, serta disobek-sobek sebagai simbol protes mereka. Pemandangan ini menjadi cerminan dari kekecewaan mendalam terhadap kepemimpinan yang dianggap tidak mendengar aspirasi rakyat.
Massa kemudian bergerak dari Jalan Braga ke Jalan Asia Afrika, melewati bangunan-bangunan ikonik seperti Toko Sarinah, Kantor Bank BJB, dan Hotel Savoy Homann. Coretan-coretan protes menghiasi dinding sepanjang jalan tersebut, dengan slogan-slogan seperti “Gantung Subandrio!”, “Bubarkan PKI!”, dan “Turunkan Harga!” yang menggema di setiap sudut jalan. Peristiwa ini menandakan bahwa rakyat tidak akan diam ketika ketidakadilan dirasakan di sekitar mereka.
Warisan dari Peristiwa “Braga Membara”
Peristiwa “Braga Membara” menunjukkan bahwa kekuatan rakyat dapat mengubah wajah sejarah. Jalan Braga yang dikenal sebagai pusat kehidupan mewah berubah menjadi arena perjuangan rakyat. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa keinginan untuk perubahan dapat meletus kapan saja dan di mana saja, bahkan di pusat kota yang biasanya damai.
Subandrio tetap menjadi sosok yang dikenang dalam sejarah Indonesia, baik sebagai tokoh yang berpengaruh dalam kebijakan luar negeri maupun sebagai simbol pergulatan politik yang rumit pada masa itu. Peristiwa “Braga Membara” tetap menjadi pengingat bahwa kekuatan rakyat dapat mengguncang tatanan yang dianggap tidak berpihak pada mereka. Warisan dari peristiwa ini adalah semangat keberanian dan perubahan yang terus dikenang, mengukir sejarah di jalan yang dulunya tenang dan mewah namun kini dikenang sebagai saksi dari hati nurani bangsa.*
* Hj Endah Hamzah, wartawan senior Bandung Pos sejak 1965, mantan pegawai Penerangan Kodam (Pendam) Siliwangi, bermukim di Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

