Opini

Festival Sastra, Kurasi Karya, dan Ongkos Perjalanan

53views
Oleh Muhammad Subhan
Perpusnas Press (Perpustakaan Nasional RI) menghelat festival literasi ILPN (Inkubator Literasi Pustaka Nasional) dan saya diundang menjadi narasumber dalam program Bicara Buku Perpusnas Press. Acara tersebut membahas proses kepenulisan kreatif bersama pegiat literasi lainnya, salah duanya Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, dan sastrawan Kurnia Effendi. Saya berangkat ke Jakarta, ke Gedung Perpusnas RI, dan selama penyelenggaraan kegiatan, seluruh akomodasi dan transportasi difasilitasi dengan sangat profesional.
SAYA juga senang diongkosi jika ada sebuah perhelatan literasi atau sastra yang mengundang, baik secara pribadi maupun terbuka. Sebagai penulis, mendapatkan penghargaan penuh atas jerih payah kreatif tentu merupakan sebuah bentuk kehormatan yang ideal.
Namun, saya juga sangat maklum kalau pada petunjuk teknis (juknis) acara secara tersurat disebutkan bahwa festival yang mereka panaskan hanya mampu menyediakan akomodasi dan penginapan, di luar transportasi kedatangan dan kepulangan. Bagi saya, dalam konteks keterbatasan anggaran yang sering dihadapi dunia literasi kita, komitmen menyediakan fasilitas tersebut sudah luar biasa.
Betapa tidak, misalnya selama sepekan kegiatan itu diselenggarakan, berapa besar biaya yang harus ditanggung panitia untuk konsumsi, penginapan, dan transportasi lokal. Jika sekiranya ada 300-an peserta yang diundang, ditambah narasumber, panitia, dan sukarelawan (volunteer) yang mereka gerakkan, anggaran penyelenggaraan yang dikeluarkan tentu tidak sedikit.
Saya tahu bertahan kerumitan itu karena pada tahun 2018 dan 2022, di Kota Padang Panjang, saya ikut menjadi panitia kegiatan Temu Penyair Asia Tenggara I dan II yang dihelat Pemerintah Kota Padang Panjang melalui Dinas Perpustakaan setempat. Sebelumnya, saya juga terlibat sebagai panitia sejumlah festival lainnya di luar Padang Panjang.
Karena tidak mudah mencari dan mengelola anggaran—belum lagi mengurus peserta (penyair) dengan segala karakter, ego, dan latar belakang—saya berusaha selalu menaruh rasa maklum jika diundang atau mengikuti sebuah festival di kota lain. Sikap maklum ini bukan berarti menormalisasi minimalnya penghargaan terhadap penulis, melainkan sebuah bentuk empati sesama pekerja kebudayaan yang tahu bertahan betapa “berdarah-darahnya” memperjuangkan dana untuk acara sastra.
Oleh karena itu, sebelum memutuskan berangkat, saya membaca dengan cermat juknis acara seperti apa. Saya senang jika undangan melalui tahapan proses karya: mengirim naskah puisi, cerpen, esai, atau novel. Dari karya itu ada proses kuras. Lolos kuras menjadi tiket keberangkatan, meski terkadang harus merogoh isi saku sendiri untuk ongkos perjalanan. Namun betapapun begitu, entah bagaimana, ada-ada saja jalan rezekinya.
Kalau dicatat di atas kertas, kadang tidak masuk akal. Beberapa kawan saya heran. “Kok bisa?” tanya mereka. Mereka tahu, isi kantong penulis seberapalah.
Tapi ya, bisa-bisa saja, jika ada niat kuat dan usaha yang sungguh-sungguh. Sepanjang jalan lurus untuk menuntut ilmu, berbagi ilmu, dan menyambung silaturahmi, selalu saja ada pintu kemudahan yang terbuka. Sepanjang yang saya jalani, semua berjalan dengan baik dan menyenangkan.
Ada beberapa pertemuan sastra yang mengongkosi seluruh biaya perjalanan selama saya ikuti. Misalnya, Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) II di Ancol, Jakarta, pada tahun 2017. Penyelenggaranya Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Sekitar 180 sastrawan hadir dan undangan dilakukan melalui proses kuras karya yang ketat.
Mulanya, kebijakan anggaran sempat tidak menanggung biaya perjalanan peserta. Namun, setelah munculnya gelombang aspirasi dan diskusi kritis dari para sastrawan di ruang publik, pihak penyelenggara akhirnya melakukan penyesuaian anggaran sehingga seluruh ongkos transportasi dapat difasilitasi. Hal ini menunjukkan bahwa ruang dialog antara penggerak sastra dan lembaga pemerintah sebenarnya bisa berjalan dinamis demi melahirkan solusi. Dari Munsi II saat itu, lahir sejumlah rekomendasi.
Festival lain yang mengongkosi saya adalah Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019. Kebetulan saat itu puisi saya terpilih sebagai tiga terbaik. Panitia menghubungi dan memfasilitasi tiket pesawat pergi-pulang, akomodasi, serta penginapan. Festival tersebut menjadi perhelatan yang sangat berkesan. Meski saya sudah menyiapkan payung, hujan tidak turun. Senangnya, saya dapat bersilaturahmi dengan kawan-kawan pegiat sastra dan literasi Kalimantan Selatan, salah satunya Hudan Nur, ngopi dan berdiskusi di bangku panjang kawasan Mingguraya, Banjarbaru.
Festival lain yang mengongkosi adalah ketika esai saya terpilih sebagai tiga terbaik pada Festival Sastra Bengkulu 2019. Festival ini digerakkan oleh Mustafa Ismail, Willy Ana, dkk. Panitia memfasilitasi biaya keberangkatan dan pulang, akomodasi, serta kebutuhan lainnya. Saya berangkat ke Bengkulu setelah menyelesaikan sebuah perjalanan jurnalistik ke Bali dan Jogja. Transit di Jakarta, lalu terbang ke Bengkulu. Dari Bengkulu, saya melakukan perjalanan darat menggunakan bus umum ke Padang Panjang.
Saya juga mendapat fasilitas penuh ketika terpilih dan diundang sebagai salah satu penulis Emerging Writers Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Dari Sumatra Barat, selain saya ada Mohammad Isa Gautama. Dalam proses kuras dengan sekitar 913 karya masuk, saya mengirim novel, sementara Mohammad Isa Gautama mengirim puisi. Salah seorang kuratornya adalah Seno Gumira Ajidarma. Panitia UWRF memfasilitasi semuanya, dan saya mengikuti seluruh program festival internasional yang keren ini.
Pada tahun 2023, Perpusnas Press (Perpustakaan Nasional RI) menghelat festival literasi ILPN (Inkubator Literasi Pustaka Nasional) dan saya diundang menjadi narasumber dalam program Bicara Buku Perpusnas Press. Acara tersebut membahas proses kepenulisan kreatif bersama pegiat literasi lainnya, salah duanya Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, dan sastrawan Kurnia Effendi. Saya berangkat ke Jakarta, ke Gedung Perpusnas RI, dan selama penyelenggaraan kegiatan, seluruh akomodasi dan transportasi difasilitasi dengan sangat profesional.
Itu beberapa festival di antara sejumlah festival lain yang saya hadiri dengan dukungan penuh dari panitia.
Namun, tentu tidak sedikit pula festival yang saya ikuti secara mandiri tanpa sokongan ongkos perjalanan, karena sejak awal juknis acara memang sudah menyatakannya secara terbuka dan transparan.
Misalnya, beberapa perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) di Riau yang gerakan penyair Kunni Masrohanti dkk. Festival Sastra Pasaman pada 2019 yang pergerakan Arbi Tanjung dkk. Saya juga hadir pada Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2019 yang diinisiasi sastrawan Datok Rida K. Liamsi. Saya hadir pada Pertemuan Penyair 8 Negara di Banda Aceh pada tahun 2016 yang penggerak penyair D. Kemalawati dkk.
Saya juga hadir di Pertemuan Penyair Pasie Karam atau Temu Penyair Nusantara di Aceh Barat pada tahun 2016, serangkai dengan kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh Barat (PKAB) II yang digerakkan oleh Teuku Ahmad Dadek dkk. Lalu Pertemuan Sastra Numera di Rumah Pena Kuala Lumpur pada tahun 2012, serta Temu Sastra Indonesia–Malaysia 2015 di Bandung. Selain itu, saya juga menghadiri Kemah Seniman pada tahun 2021 yang diinisiasi penyair (alm.) Iyut Fitra bersama Komunitas Seni Intro Payakumbuh. Dan masih banyak festival lainnya yang saya datangi dengan biaya mandiri.
Meski tidak diongkosi, saya tetap memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada panitia yang mengundang, juga kepada para kurator yang telah memilih karya saya. Bagi saya, kepastian bahwa karya lolos kurasi adalah sebuah bentuk penghargaan intelektual yang tidak bisa dinilai dengan uang. Fasilitas penginapan dan penginapan layak yang disediakan panitia di lokasi pun sudah sangat meringankan beban perjalanan.
Ketika saya memilih berangkat secara mandiri, bukan berarti saya memiliki kelonggaran finansial yang berlebihan. Sama sekali tidak. Namun, seperti yang saya katakan di atas, jika niat itu ada, selalu saja ada jalan yang membentang. Saya berulang kali merasakan “keajaiban” itu.
Bagi saya pribadi, sebuah pertemuan sastra bukan semata-mata urusan transaksional siapa membayar siapa. Yang jauh lebih esensial adalah kesempatan untuk bertemu, bertukar pikiran, memungut gagasan, mendengarkan pengalaman orang lain, dan melihat bentangan dunia sastra dari sudut pandang yang lebih luas. Tidak semua hal berharga dalam hidup ini dapat dikonversi ke dalam angka-angka biaya perjalanan.
Selama masih diberi kesempatan, kesehatan, dan kemampuan, baik diongkosi maupun tidak, saya akan tetap berusaha hadir pada pertemuan-pertemuan sastra atau literasi yang memberi ruang sehat bagi perkembangan karya dan gagasan.
Namun tentu saja, kita juga harus realistis dan bijak dalam mengukur diri. Kalaupun sumber keuangan mandiri sedang tidak memungkinkan sementara niat ada, saya tidak akan memaksakan diri hingga duduk sendiri. Saya tidak akan menyampaikan permohonan maaf dan pesan jujur ​​kepada panitia yang telah dengan tulus mengundang, bahwa saya belum dapat berangkat karena keterbatasan situasi. Dan, secara keseluruhan, saya kira dapat berkomunikasi dengan baik. Bagaimanapun, sebuah festival dibangun atas dasar gotong royong kebudayaan, di mana rasa saling menghargai antara pengkarya dan penyelenggara adalah modal paling berharga yang tidak selalu harus diukur dengan kalkulasi keuntungan rugi **(MUHAMMAD SUBHAN)

Leave a Response