Catatan Media

Catatan Kursi Paling Pinggir, Sebuah Renungan Perjalanan Literasi

10views

Oleh Bacthiar Adnan Kusuma. S.Sos. MM

Di tengah riuh jargon pembangunan dan seremoni yang kadang terasa formalitas, kegiatan “Nusa Membaca” dalam item Semesta Buku justru menghadirkan ruang diskusi yang lebih jujur dan membumi. Buku yang dibedah kali ini adalah “Mengayuh Dua Zaman” karya Chaidir Syam, sebuah catatan perjalanan kepemimpinan yang tidak lahir di masa normal-normal saja.

BUKU  ini menarik karena tidak hanya menjual keberhasilan, tetapi juga membuka cerita tentang bagaimana sebuah pemerintahan daerah harus “mengayuh” di tengah dua gelombang besar. Periode pertama dihantam pandemi Covid-19 yang memaksa anggaran direfocusing; sementara periode kedua masuk ke era efisiensi anggaran nasional di masa Prabowo Subianto dengan prioritas program MBG. Akibatnya, banyak agenda pembangunan daerah harus berhadapan langsung dengan kenyataan pahit: fiskal kabupaten tidak selalu sekuat ekspektasi publik.

Di sinilah diskusi menjadi menarik. Kadang masyarakat hanya melihat hasil akhir, tanpa memahami bagaimana pemerintah daerah juga sering menjadi “korban keadaan” antara tuntutan rakyat dan keterbatasan anggaran. Kritik tentu tetap penting, tapi memahami konteks juga bagian dari kedewasaan demokrasi.

Acara ini diinisiasi tokoh literasi nasional Bachtiar Adnan Kusuma bekerja sama dengan Gramedia Pettarani. Hadir dalam forum ini antara lain Bupati Maros Chaidir Syam bersama Bunda Literasi Maros Ibu Ulfiah, Plt Kadis Perpustakaan Provinsi Sulsel Prof. Jupri, budayawan Yudistira Sukatanya, akademisi Unhas Dr. A. Lukman Irwan, Dr. Fadli Nasir Andi, Dr. Partono, Raja Pantun Sulsel, Branch Manager Gramedia, dan tentu saja… saya, Herman Lilo, yang hadir manis di kursi paling pinggir sebagai pemandu sorak.  Kadang dari kursi paling pinggir, justru kita bisa melihat panggung dengan lebih utuh.  **  Bachtiar Adnan Kusuma, tokoh literasi Nasional dan Ketua GPMB Kabupaten Maros

Leave a Response