KOLOM MEDIA LAWAS

Koran Kuning, Wajah Sensasional Pers Populer Indonesia

32views

Oleh: Kin Sanubary

HALAMAN  muka mingguan Inti Jaya edisi akhir minggu kedua Mei 1984 memperlihatkan wajah khas pers populer Indonesia era 1980-90an. Judul besar, foto dramatis, dan berita sensasional menjadi daya tarik utama untuk memikat pembaca kios koran.

Sorotan utamanya adalah kasus kriminal berjudul besar: “Mayat Terpotong 13 Jl. Sudirman Ternyata Yasioshi Miata (Jepang)”, sebuah kasus mutilasi yang sempat menggegerkan Jakarta. Selain kriminalitas, halaman depan juga dipenuhi gosip artis, isu seksualitas, skandal rumah tangga, hingga perkara moralitas seperti “Kalender Porno”.

Nama-nama populer seperti Eva Arnaz, Rhoma Irama, Minati Atmanegara, Lina Budiarti, dan Cathy Lengkong tampil berdampingan dengan berita kriminal, perceraian, percintaan, hingga kisah sensasional lain. Perpaduan antara tragedi, hiburan, dan sensasi seperti ini menjadi ciri kuat media mingguan pada masa Orde Baru.

Fenomena tersebut dikenal sebagai “koran kuning” atau yellow journalism, yakni gaya jurnalistik yang mengandalkan judul bombastis, dramatisasi fakta, dan eksploitasi sisi emosional pembaca. Fokusnya bukan hanya informasi, tetapi juga efek kejut dan hiburan.

Di Indonesia, koran kuning berkembang pesat sejak 1970-an hingga 1990-an. Media seperti Pos Kota, Sentana, Barata, Lampu Merah, Lampu Hijau, Meteor Jogja, hingga Inti Jaya dikenal luas karena gaya pemberitaannya yang keras, lugas, dan penuh sensasi. Berita kriminal, kecelakaan, perselingkuhan, hingga skandal seksual menjadi “jualan utama” yang dekat dengan kehidupan masyarakat urban.

Ciri khas koran kuning antara lain:
judul besar dan provokatif,
foto dramatis tanpa banyak sensor,
bahasa lugas dan emosional,
fokus pada konflik, tragedi, dan penyimpangan sosial.

Meski kerap dikritik karena dianggap mengabaikan etika jurnalistik, koran kuning memiliki pembaca loyal. Kehadirannya menjadi bagian penting sejarah pers Indonesia sekaligus cermin budaya baca masyarakat pada zamannya.

Kini, ketika media cetak mulai tergeser media digital, gaya koran kuning memang perlahan memudar. Namun jejaknya masih terasa dalam sebagian pemberitaan media daring yang tetap mengandalkan sensasi dan klik pembaca. Fenomena ini menunjukkan bahwa sejak dulu media tidak hanya menjual informasi, tetapi juga emosi, hiburan, dan drama kehidupan sehari-hari.*

* Kin Sanubary, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, penerima Penghargaan PWI Jawa Barat 2023 kategori pelestari media massa nasional,  bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Leave a Response