
SERANG, Bandungpos Id. -Duel panas Persib Bandung kontra Dewa United, Senin (20/4), berakhir imbang 2-2, namun laga ini bukan tentang sepak bola, melainkan tentang ketidakadilan yang terang-benderang. Sorotan utama tertuju pada kinerja wasit Yoko Supriyanto yang memalukan, ditambah kebijakan tak masuk akal yang melarang Bobotoh hadir di tribun. Suporter yang seharusnya menjadi kekuatan ke-12, justru dipaksa menelan pil pahit hanya dari layar kaca tanpa bisa hadir membela timnya secara langsung.

Kontroversi memuncak pada gol pertama yang sungguh tidak masuk akal. Bola yang sudah jelas-jelas melampaui garis lapangan sebelum kembali masuk dan berujung gol, justru dilegalkan begitu saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mata wasit dan VAR seolah tertutup rapat, membiarkan keputusan fatal ini merampok hak tim tamu secara terang-terangan.
Belum cukup satu, kejahatan terulang pada gol kedua. Terlihat sangat jelas adanya pelanggaran tangan (handball) yang dilakukan pemain lawan saat mengontrol bola, namun hal ini luput dari perhatian atau sengaja diabaikan. Dua keputusan “buta” ini membuktikan bahwa pertandingan ini dikendalikan bukan oleh aturan main, melainkan oleh niat untuk merugikan Persib.
Ketidakkonsistenan wasit sangat mencolok dan merusak jalannya permainan. Banyak pelanggaran keras yang dilakukan pemain tuan rumah dibiarkan bergulir, sementara kesalahan kecil pemain Persib justru dihukum. Ia seolah sengaja memecah ritme permainan dan membiarkan laga berjalan keras demi menguntungkan satu pihak.
Pasca-pertandingan, Pelatih Persib, Bojan Hodak, tak kuasa menahan emosi dan mengecam keras kinerja pengadil tersebut. Ia menegaskan bahwa timnya telah dirampok haknya untuk meraih tiga poin penuh akibat keputusan yang tidak profesional dan curang. Menurutnya, usaha keras pemain di lapangan menjadi sia-sia hanya karena ketidakberpihakan wasit yang seharusnya menjadi penengah yang adil.
Hodak juga menyoroti kegagalan sistem VAR yang seharusnya menjadi jaminan keadilan, namun justru tampak lambat dan “bisu” di momen-momen krusial. Ia menuntut adanya evaluasi serius dan tindakan tegas agar kejadian memalukan seperti ini tidak terulang lagi. Laga ini menjadi bukti pahit bahwa di sepak bola Indonesia, musuh terbesar terkadang bukan lawan di seberang lapangan, melainkan ketidakadilan yang datang dari tengah lapangan. (ask/Id)***
