Quo Vadis Arah Gerakan Literasi di Indonesia : Menyambut Program Kolaborasi PP GPMB & PP GLN Gareulis
Quo Vadis Arah Gerakan Literasi di Indonesia : Menyambut Program Kolaborasi PP GPMB & PP GLN Gareulis

Oleh :M Kh Rachman Ridhatullah, S.Sos., M.Si. (Ketua I PP GPMB 2023-2027 dan Dewan Penasehat PP GLN Gareulis 2025-2030)
Di era ketika semua orang bisa membaca, justru muncul pertanyaan yang lebih mengganggu : apakah kita sudah benar-benar memahami apa yang kita baca? Sebab, setiap hari, kita menggeser layar ratusan kali. Judul dibaca, isi dilewati. Opini dibentuk, tanpa proses berpikir yang utuh. Kita hidup dalam banjir informasi, tetapi ironisnya, semakin sulit membedakan mana yang benar, mana yang sekadar viral. Di tengah situasi inilah kolaborasi Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) dan Gerakan Literasi Nasional (GLN) Gareulis hadir. Sebuah keputusan strategis yang di atas kertas, terdengar cukup memberikan harapan : membangun masyarakat yang gemar membaca, menulis, dan berpikir kritis. Tapi pertanyaan pentingnya : apakah kolaborasi program kedua organisasi gerakan literasi ini cukup kuat untuk melawan perubahan zaman yang begitu cepat?
Era Scroll Cepat Dulu, literasi berarti bisa membaca buku sampai selesai. Hari ini, literasi diuji oleh notifikasi, algoritma, dan konten berdurasi 15 detik. Sejatinya, kita tidak kekurangan bacaan, namun kita kekurangan kedalaman. Sebab, budaya membaca pelan—yang memungkinkan kita merenung dan berpikir—perlahan digantikan oleh budaya scrolling. Mata bergerak cepat, tetapi pikiran tidak sempat mencerna. Kita tahu banyak hal, tapi memahami sangat sedikit. Inilah tantangan literasi hari ini: bukan lagi soal akses, melainkan soal kualitas kesadaran berpikir.
Harus diakui, GPMB & GLN Gareulis bukan tanpa prestasi. Keduanya cukup berhasil menghidupkan gairah literasi di berbagai ruang : kajian, seminar, atapun pelatihan literasi rutin diselenggarakan, sekolah mulai aktif dengan program membaca, komunitas literasi tumbuh, lomba dan festival bermunculan. Ada energi. Ada semangat. Ada gerakan. Namun, di sinilah paradoksnya : pada kedua organisasi gerakan literasi ini terlihat ramai dalam aktivitas, namun relatif masih belum begitu terasa berdampak secara lebih dalam.
Kita melihat banyak kegiatan literasi. Namun, sejujurnya, apakah kita telah melihat perubahan cara berpikir masyarakat ataupun para birokrat yang selama ini telah berinteraksi dengan berbagai program literasi tersebut? Kita menyaksikan banyak lomba menulis. Tapi apakah kita melihat lahirnya budaya menulis yang konsisten? Sering kali, literasi berhenti sebagai event, bukan habit.
Mari jujur sejenak. Berapa banyak program literasi yang hanya hidup saat lomba berlangsung?
Berapa banyak peserta yang membaca karena ingin menang, bukan karena ingin memahami? Literasi yang seharusnya menjadi kebiasaan sehari-hari, justru berubah menjadi agenda tahunan. Dirayakan, lalu dilupakan. Inilah jebakan terbesar: literasi yang sibuk terlihat, tetapi sepi dampak.
Tantangan Pendekatan Baru
Sementara itu, dunia di luar bergerak jauh lebih cepat. Anak-anak hari ini tidak hanya membaca buku. Mereka belajar dari TikTok, berdiskusi di Instagram, atau membangun opini dari YouTube. Di sinilah masalah berikutnya muncul : banyak program literasi masih berjalan dengan logika lama—offline, formal, dan kaku—sementara kehidupan nyata masyarakat sudah sepenuhnya digital. Jika literasi tidak hadir di ruang yang sama dengan keseharian masyarakat, maka ia akan ditinggalkan. Sederhana saja :
anak muda tidak akan datang ke literasi—literasilah yang harus mendatangi mereka.
Kita hidup di zaman ketika hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Ketika opini lebih dipercaya daripada fakta. Ketika emosi mengalahkan logika. Tanpa literasi yang kuat, masyarakat tidak hanya menjadi tidak tahu—tetapi bisa menjadi mudah dimanipulasi.
Di titik ini, literasi bukan lagi sekedar program pendidikan. Ia adalah alat pertahanan sosial. Dan di sinilah GPMB & GLN Gareulis seharusnya mengambil peran lebih besar—bukan sekadar mengajak membaca, tetapi membangun kemampuan berpikir kritis yang nyata.
Dari Gerakan ke Ekosistem
Kalau kolaborasi program literasi GPMB & GLN Gareulis ingin tetap relevan, ada satu hal yang harus dilakukan: berubah. Bukan hanya sekadar membuat atau menambah program baru, tetapi mengubah cara berpikir; dari posisi organisasi pergerakan menjadi pengembang ekosistem program literasi. Mengubah kegiatan menjadi kebiasaan. Mengubah lomba menjadi gaya hidup. Sebab, di lapangan, literasi harus juga bersaing dengan kegiatan hiburan. Kalau tidak, ia akan kalah menarik untuk dikunjungi dan diikuti.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan tentang program, tapi tentang arah : Apakah kita ingin masyarakat yang sekadar bisa membaca? Atau masyarakat yang benar-benar mampu berpikir? Karena kalau jawabannya yang kedua, maka cara kita membangun literasi tidak bisa lagi biasa-biasa saja.
Kolaborasi program antara GPMB & GLN Gareulis adalah awal yang baik. Tapi awal saja tidak cukup. Di tengah dunia yang semakin bising, literasi adalah satu-satunya cara agar manusia tetap waras. Agar kita tidak sekadar tahu, tetapi juga mengerti. Tidak sekadar ikut, namun juga mampu menilai. Kalau literasi gagal, yang hilang bukan sekadar minat baca. Yang hilang adalah kemampuan kita sebagai bangsa untuk berpikir jernih dan kritis. Dan ketika itu terjadi, kita tidak sedang kekurangan buku. Namun, kita sedang kehilangan arah sebagai sebuah bangsa. **Penulis Ketua I PP GPMB 2023-2027 dan Dewan Penasehat PP GLN Gareulis 2025-2030, bertempat tinggal di Kota Bandung
Editor : Rianto Muradi



