
Oleh: Lukman Priyandono
BAYANGKAN suatu pagi kamu membuka laptop di ruang tamu rumah. Tidak ada kemacetan jalan raya, tidak ada antrean lift kantor, dan tidak ada suara mesin absensi. Yang ada hanya secangkir kopi, koneksi internet, dan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan. Selamat datang di dunia Work From Home (WFH).
Belakangan ini wacana WFH kembali ramai dibicarakan. Pemerintah bahkan mendorong sebagian pegawai untuk bekerja dari rumah setidaknya satu hari dalam seminggu sebagai upaya mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan kemacetan kota. Di atas kertas, ide ini terdengar sederhana: lebih sedikit orang berangkat ke kantor berarti lebih sedikit kendaraan di jalan.
Tapi di balik kebijakan itu muncul pertanyaan yang lebih dalam: ketika kantor pindah ke rumah, siapa yang memastikan pekerjaan tetap dijalankan dengan penuh tanggung jawab? Selama puluhan tahun, budaya kerja kita dibangun di atas satu hal sederhana: kehadiran fisik. Datang tepat waktu, duduk di meja kerja, lalu pulang setelah jam kantor selesai. Bagi banyak organisasi, kehadiran di kantor sering dianggap sebagai tanda disiplin.
WFH Mengubah Semuanya
Ketika bekerja dari rumah, atasan tidak lagi melihat langsung aktivitas bawahannya. Tidak ada lagi pengawasan rutin di ruang kerja. Batas antara ruang kerja dan ruang pribadi juga menjadi kabur. Di satu sisi, ini memberi kebebasan bagi pekerja. Tapi di sisi lain, ia juga membuka peluang baru: menunda pekerjaan, kehilangan fokus, atau sekadar bekerja “seadanya”.
Di sinilah masalahnya. Sistem kerja fleksibel seperti WFH sebenarnya bukan sekadar soal teknologi atau internet cepat. Ia menuntut sesuatu yang jauh lebih mendasar: integritas pribadi. Bekerja dari rumah pada dasarnya adalah ujian kepercayaan. Perusahaan mempercayai karyawannya untuk tetap bekerja dengan baik meskipun tidak diawasi secara langsung. Sebaliknya, karyawan diharapkan mampu mengelola waktu, tanggung jawab, dan komitmen terhadap pekerjaannya.
Masalahnya, tidak semua orang siap dengan kepercayaan itu. Sebagian orang tetap produktif meskipun bekerja dari rumah. Mereka menyelesaikan tugas tepat waktu, menjaga komunikasi dengan tim, dan tetap berkomitmen pada kualitas kerja. Tapi tidak sedikit pula yang justru kehilangan ritme kerja ketika pengawasan berkurang. Di titik inilah diskusi tentang WFH sebenarnya berubah menjadi diskusi tentang karakter manusia dalam bekerja.
Amanah dalam Bekerja
Dalam perspektif Islam, bekerja bukan sekadar mencari nafkah. Pekerjaan adalah amanah—sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh kesungguhan. Al-Qur’an mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa: 58)
Makna amanah dalam bekerja sangat sederhana namun dalam: ketika seseorang diberi tugas, ia harus menjalankannya dengan jujur, bertanggung jawab, dan sebaik mungkin. Bahkan ketika tidak ada orang yang mengawasi.
Nilai ini menjadi sangat relevan dalam sistem kerja seperti WFH. Ketika atasan tidak melihat langsung apa yang kita kerjakan, yang menjadi pengawas sebenarnya bukan lagi manusia, melainkan kesadaran moral dalam diri kita sendiri.
Dalam tradisi Islam, kesadaran ini dikenal sebagai muraqabah—perasaan bahwa setiap tindakan selalu berada dalam pengawasan Allah. Karena itu, keberhasilan WFH sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau teknologi digital. Faktor yang paling menentukan justru adalah budaya kerja dan nilai yang dipegang oleh para pekerjanya.
Jika pekerjaan dipandang sekadar rutinitas administratif maka WFH mudah berubah menjadi ruang kelonggaran yang disalahgunakan. Namun jika pekerjaan dipahami sebagai amanah, di mana pun seseorang bekerja—di kantor maupun di rumah—ia tetap akan menjaga tanggung jawabnya.
Dalam konteks ini, WFH justru bisa menjadi cermin yang memperlihatkan kualitas etos kerja sebuah organisasi.
Tantangan bagi Dunia Kerja Indonesia
Bagi Indonesia, perubahan pola kerja ini menghadirkan tantangan tersendiri. Banyak organisasi masih sangat bergantung pada budaya kerja berbasis pengawasan. Kehadiran fisik sering kali lebih dihargai daripada hasil kerja. Padahal dunia kerja modern mulai bergerak ke arah yang berbeda: kepercayaan, fleksibilitas, dan tanggung jawab personal. Jika organisasi ingin memanfaatkan sistem kerja fleksibel seperti WFH secara efektif, mereka perlu membangun budaya kerja yang tidak hanya berbasis aturan, tetapi juga berbasis nilai. Nilai amanah, tanggung jawab, dan integritas seharusnya menjadi fondasi utama dalam pengelolaan sumber daya manusia.
Pada akhirnya WFH mungkin bisa mengurangi kemacetan dan menghemat BBM. Tapi keberhasilan sistem kerja ini tidak ditentukan oleh seberapa cepat internet di rumah kita, melainkan oleh seberapa kuat rasa tanggung jawab dalam diri kita. Karena ketika kantor berpindah ke rumah, pengawasan memang berkurang. Tetapi amanah tidak pernah berkurang. Dan pada akhirnya, di mana pun kita bekerja—di gedung kantor atau di ruang tamu rumah—yang menentukan kualitas pekerjaan kita bukanlah lokasi kerja, melainkan integritas manusia yang menjalankannya.***





