Bandung Raya

Rukyat Hilal Syawal 1447 H di Unisba: Observatorium Albiruni Jadi Lokasi Resmi, Hilal Belum Tampak di Jawa Barat

135views

METRO BANDUNG, bandungpos.id – Universitas Islam Bandung (Unisba) melalui Fakultas Syariah menggelar rukyat hilal dalam rangka menentukan awal Syawal 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Maret 2026 atau bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H. Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Jawa Barat, BMKG Bandung, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam.

Pengamatan hilal dilakukan di Observatorium Albiruni Fakultas Syariah Unisba yang berada di rooftop Gedung Fakultas Kedokteran lantai 10. Lokasi ini memiliki koordinat lintang -6°54’12” LS dan bujur 107°36’32” BT, dengan ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut.

Observatorium Albiruni telah ditetapkan sebagai salah satu titik resmi pemantauan hilal oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Kepala Observatorium Albiruni, Encep Abdul Rojak, M.Sy., menjelaskan bahwa secara astronomis, ijtimak atau konjungsi geosentris terjadi pada pukul 08.23 WIB. Peristiwa ini menandai posisi Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu garis lurus.

Data Astronomi: Hilal Masih Rendah

Rukyat dimulai saat matahari terbenam sekitar pukul 18.00 WIB. Pada saat itu, ketinggian hilal tercatat sekitar +1°52’53”, dengan waktu terbenam Bulan diperkirakan pukul 18.10 WIB. Sementara itu, elongasi Bulan terhadap Matahari mencapai +5°42’15”.

Sebelum pengamatan, tim melakukan berbagai persiapan teknis, termasuk penyeimbangan teleskop yang dilengkapi kamera CCD dan filter Matahari. Kalibrasi alat dilakukan sejak pukul 13.30 WIB dengan mengarahkan teleskop ke Matahari, disertai prosedur keselamatan.

Sekitar 30 menit sebelum pengamatan, teleskop telah diarahkan ke posisi hilal. Hasil tangkapan kamera CCD kemudian ditampilkan melalui layar televisi berukuran 45 inci agar seluruh peserta dapat menyaksikan proses rukyat secara langsung.

Dekan Fakultas Syariah Unisba, Dr. N. Eva Fauziah, M.Ag., menyampaikan bahwa rukyat hilal tidak hanya memiliki dimensi ilmiah, tetapi juga merupakan bagian dari ikhtiar keagamaan umat Islam.

Ia menekankan bahwa kegiatan ini menjadi wujud pertemuan antara ilmu pengetahuan, iman, dan peradaban, di mana penggunaan teknologi astronomi berjalan beriringan dengan tuntunan Rasulullah SAW dalam menentukan awal dan akhir ibadah.

Observatorium Albiruni juga diharapkan menjadi pusat edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam memahami ilmu falak dan astronomi Islam.

Ketua LPI3M Unisba, Dr. Parihat, Dra., M.Si., mengingatkan pentingnya menyikapi perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah dengan bijaksana.

Menurutnya, baik metode hisab maupun rukyat memiliki landasan ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, perbedaan yang muncul hendaknya dipandang sebagai rahmat, dengan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.

Hilal Belum Terlihat di Seluruh Jawa Barat

Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, H. Dudu Rohman, S.Ag., M.Si., mengungkapkan bahwa hasil pemantauan di seluruh titik di Jawa Barat menunjukkan hilal tidak berhasil terlihat, termasuk di Observatorium Albiruni Unisba.

Tujuh titik pengamatan tersebar di Sukabumi, Kabupaten Tasikmalaya, Subang, Cirebon, Banjar, Kota Bandung (Observatorium Albiruni), serta Observatorium Bosscha di Lembang.

Ia menjelaskan bahwa ketinggian hilal yang masih rendah belum memenuhi kriteria visibilitas, ditambah faktor cuaca yang turut menjadi kendala dalam pengamatan.

Seluruh hasil rukyat dari berbagai daerah tersebut selanjutnya disampaikan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia untuk menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah yang digelar pada malam hari di Jakarta.

Keputusan resmi terkait Hari Raya Idulfitri akan ditentukan berdasarkan hasil sidang tersebut.(ask)***

Leave a Response