Disabilitas

Teknologi Destigmatisasi Asistif untuk Dilans Indonesia

Teknologi Destigmatisasi Asistif

180views

Oleh Farhan Helmy
ASCODI Lab/Progressive Insights Host

REFLEKSI– ini berawal dari sebuah candaan.Beberapa sahabat saya menggoda saya, mengatakan bahwa saya “terlalu mudah bergerak.” Mereka diam-diam mengamati betapa cepatnya saya berpindah dari satu tempat ke tempat lain menggunakan kursi roda elektrik.

Nampaknya mereka iri, melihat kesigapan saya.

Ironisnya, dalam situasi dan kondisi tertentu sebagian dari mereka sebenarnya bisa mendapatkan manfaat dari dukungan. Namun mereka tidak akan pernah mempertimbangkannya, bukan karena kegunaannya, tetapi karena mereka tidak ingin dipersepsikan sebagai “penyandang disabilitas.”

> Tidak iri pada stigma, iri pada efisiensinya.

Momen itu mengungkap sesuatu yang lebih dalam dari sekadar candaan. Stigma telah melekat bukan hanya pada manusia, tetapi juga pada alat.

Bagi saya, kursi roda elektrik adalah infrastruktur. Ia sahabat sejati. Nyawa keseharian saya untuk bergerak dari rumah ke kantor atau ke berbagai tempat lainnya.
Tentunya tidak untuk perjalanan jauh.

Biasanya saya menggunakan mobil bersama supir yang juga berperan sebagai asisten pribadi. Ini cara yang saya praktekan sejak saya berkursi roda sejak lima tahun lalu.

Namun secara sosial, kursi roda jarang dipahami sebagai rekayasa untuk mobilitas. Ia dipahami sebagai identitas. Alih-alih sebagai alat bantu, ia sudah menjadi label dari disabilitas.

Cara pandang ini bersifat struktural.

Sistem sosial kita nampaknya tanpa sadar telah mendefinisikan kemandirian sebagai ketiadaan bantuan yang terlihat. Arsitektur mengasumsikan aksesibilitas untuk tubuh tanpa kendala. Dunia kerja memberi penghargaan pada stamina tanpa jeda. Media menggambarkan kekuatan sebagai kemandirian absolut. Simbol yang seringkali merancukan realitas.

Bahkan lebih jauh, berisiko secara sosial. Penggunaan tongkat, alat bantu dengar, serta kursi roda dianggap sebagai kelemahan dan ketidakmampuan.

Alat bantu menjadi simbol keterbatasan, walaupun mempunyai nilai guna ditengah keterbatasan mobilitas dan komunikasi.

Karena struktur sosial inilah mereka lebih memilih ketidaknyamanan daripada pelabelan. Mereka takut bahwa penggunaan alat bantu yang terlihat, akan menjadi karakteristik yang menempel dan menghilangkan kelebihan mereka yang sebenarnya.

Padahal peradaban manusia sendiri dibangun di atas bantuan. Kita menggunakan mobil untuk bergerak lebih cepat. Kita menggunakan lift untuk mengatasi gravitasi. Kita menggunakan perangkat lunak untuk memperluas memori dan kognisi. Seluruh teknologi ada karena tubuh dan pikiran manusia memiliki batas.

> Teknologi asistif bukanlah anomali. Ia adalah pengakuan yang jujur atas kondisi universal tersebut.

Stigma tidak muncul dari kursi roda. Ia muncul dari sistem yang memberi peringkat pada tubuh berdasarkan seberapa dekat ia dengan ideal imajiner tentang kemandirian. Mungkin juga berakar pada budaya dan keyakinan.

Ketika kursi roda menjadi label, mobilitas dimoralkan. Ketika alat bantu menjadi identitas, kemampuan dipertanyakan. Ketika alat dipisahkan menjadi “normal” dan “disabilitas,” ketimpangan diperkuat secara diam-diam.

Bantuan bukanlah kekurangan. Kursi roda bukanlah pengakuan ketidakmampuan, melainkan strategi partisipasi.

Jika kita sungguh menginginkan masyarakat yang inklusif, kita harus menormalisasi dukungan alat bantu sebagai bagian dari kemanusiaan. Bukan sebagai belas kasihan. Bukan sebagai pengecualian. Bukan sebagai reduksi identitas. Melainkan sebagai infrastruktur.

Destigmatisasi teknologi asistif bukan sekadar soal mengubah sikap. Ia tentang merancang ulang sistem.

Ketika ruang publik membangun ramp sebagai tambahan belakangan, ia memperkuat gagasan bahwa dukungan mobilitas adalah pengecualian. Ketika produktivitas kerja diukur dari ketahanan fisik tanpa jeda, tubuh tertentu diistimewakan dibanding yang lain. Ketika media membingkai perangkat asistif melalui lensa rasa iba atau inspirasi, alih-alih fungsi, reduksi identitas kembali ditegaskan.

Stigma bukanlah kebetulan. Ia tertanam dalam desain, bahasa, arsitektur, dan kebijakan.

Jika teknologi asistif diperlakukan sebagai perlengkapan khusus untuk “orang-orang khusus,” maka eksklusi menjadi hal yang wajar. Namun jika ia dipahami sebagai bagian dari adaptasi universal manusia, salah satu dari sekian banyak alat yang kita gunakan untuk meningkatkan kapasitas, maka hierarki tubuh perlahan akan runtuh.

Karena itu, destigmatisasi harus bersifat struktural. Ia menuntut kita meninjau ulang cara kita mendefinisikan kemandirian, produktivitas, dan kekuatan. Ia menuntut pergeseran dari budaya yang mengagungkan swasembada menuju budaya yang mengakui interdependensi sebagai fondasi masyarakat.

Perubahan struktural inilah yang menjadikan inisiatif seperti Inclusive District Platform (IDP) relevan. Inklusi tidak boleh berhenti pada kampanye kesadaran atau representasi simbolik. Ia harus tertanam dalam perencanaan di tingkat kecamatan, desain infrastruktur, sistem mobilitas, layanan publik, dan indikator produktivitas. Ketika inklusi dilembagakan dan disistematisasi, teknologi asistif tidak lagi diperlakukan sebagai pengecualian, melainkan sebagai bagian dari infrastruktur publik yang biasa.

Setiap orang bergantung pada infrastruktur teknologi asistif, baik yang kasat mata atupun tak terlihat.

Kursi roda elektrik yang saya gunakan tidak mengurangi agensi saya; ia memperluas radius partisipasi saya. Ia memungkinkan saya terlibat, memimpin, dan berkontribusi.

Jika kita ragu menggunakan alat yang sebenarnya dapat mendukung mereka karena stigma, keraguan itu bukan kelemahan pribadi. Itu adalah bukti bahwa sistem kita masih menyamakan bantuan yang terlihat dengan nilai diri yang berkurang.

Tantangan yang sesungguhnya bukanlah perangkatnya. Melainkan, apakah kita bersedia merancang ulang sistem yang memberi makna pada perangkat tersebut.

Dan makna mobilitas yang sebenarnya, sepenuhnya berada dalam kuasa masyarakat untuk mengubahnya.**( Farhan.rm/BNN)

Leave a Response