Seorang Penulis Harus Lebih Sering Masuk ke Sekolah
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis

Oleh Muhammad Subhan
Penulis—baik sastrawan, wartawan, maupun pegiat literasi—perlu lebih sering masuk ke sekolah. Yang mereka bawa bukan sekadar cerita tentang profesi, melainkan pengalaman hidup, proses kreatif, dan bukti bahwa membaca dan menulis bukanlah kegiatan kebiasaan, melainkan keterampilan hidup yang menumbuhkan daya pikir, empati, dan keberanian bersuara.
SEBUAH pertanyaan kerap mengusik: masih relevankah menghadirkan penulis ke sekolah di tengah menurunnya minat membaca dan menulis siswa di era gawai yang serba cepat dan instan ini?
Jawabannya justru tegas: masih relevan, bahkan semakin mendesak.
Penulis—baik sastrawan, wartawan, maupun pegiat literasi—perlu lebih sering masuk ke sekolah. Yang mereka bawa bukan sekadar cerita tentang profesi, melainkan pengalaman hidup, proses kreatif, dan bukti bahwa membaca dan menulis bukanlah kegiatan kebiasaan, melainkan keterampilan hidup yang menumbuhkan daya pikir, empati, dan keberanian bersuara.
Oleh karena itu, sekolah penting berkolaborasi dengan penulis untuk menyalakan kembali api literasi yang mulai redup di ruang-ruang kelas.
Persoalan literasi di era gawai (digital) bukan semata karena siswa tidak suka membaca atau menulis. Masalah utamanya terletak pada kebiasaan mengonsumsi bacaan instan dan dangkal.
Algoritma media sosial melatih mereka untuk menyukai yang singkat, cepat, dan segera menghibur. Akibatnya, membaca buku dianggap melelahkan, sementara menulis dipersepsikan sebagai tugas berat yang hanya layak dikerjakan demi nilai rapor.
Di titik inilah kehadiran penulis menjadi penting, bukan sebagai pengkhotbah literasi, melainkan sebagai saksi hidup bahwa kata-kata masih memiliki tenaga.
Penulis membawa pengalaman yang tidak selalu memiliki buku pelajaran. Pengalaman itu berupa kisah tentang proses panjang, ketidakpuasan, keraguan, dan kesetiaan pada sebuah tulisan. Ketika siswa bertemu penulis, mereka melihat bahwa menulis bukanlah bakat ajaib yang turun dari langit, melainkan kerja manusia yang penuh jatuh bangun.
Menulis bisa berangkat dari kegelisahan sederhana, dari peristiwa sehari-hari, bahkan dari hal-hal yang mereka temui di layar gawai itu sendiri. Pengalaman semacam ini sering kali jauh lebih mengena daripada teori tentang struktur teks atau kaidah kebahasaan.
Lebih dari itu, penulis membantu mengembalikan semangat pentingnya membaca sebagai pengalaman batin, bukan sekadar kewajiban akademik. Penulis membaca bukan untuk diuji, melainkan untuk memahami kehidupan dan manusia.
Perspektif ini penting diketahui agar siswa tidak memandang buku sebagai beban, melainkan sebagai ruang dialog dengan apa pun masalah yang dihadapinya. Dari sini, membaca tidak lagi soal cepat selesai, tetapi soal keberanian berlama-lama.
Kehadiran penulis di sekolah juga dapat mengubah cara pandang siswa terhadap gawai. Gawai tidak harus bermusuhan. Penulis justru dapat menunjukkan bahwa teknologi adalah alat kreatif. Puisi dapat ditulis di ponsel, pun cerpen, esai, dan catatan lainnya. Dulu mengetik dengan mesin tik, sekarang tulisan bisa dilahirkan di gawai.
Tentu saja, literasi tidak berdiri berseberangan dengan teknologi, tetapi berjalan berdampingan secara kritis.
Tujuan menghadirkan penulis ke sekolah tentu mencetak bukan penulis baru secara massal. Tidak semua siswa harus menjadi penulis. Namun, siswa yang akrab dengan dunia kepenulisan cenderung lebih peka terhadap bahasa, lebih kritis membaca informasi, dan lebih berani mengemukakan gagasan.
Di era banjir informasi dan hoaks, kemampuan ini jauh lebih penting daripada sekadar kecepatan mengakses konten.
Sekolah pada dasarnya adalah ruang terbentuknya manusia, bukan hanya tempat menuntaskan kurikulum. Di tengah keriuhan media sosial dan kurangnya informasi, penulis hadir sebagai pengingat bahwa berpikir membutuhkan waktu, dan kata-kata membutuhkan perenungan.
Oleh karena itu, menghadirkan penulis ke sekolah bukan langkah mundur ke masa lalu, melainkan ikhtiar menyiapkan siswa menghadapi masa depan dengan nalar yang jernih dan hati yang peka.
Penulis memang tidak datang membawa keajaiban instan. Yang dibawanya justru hal-hal sederhana yang kerap hilang di ruang kelas: cerita tentang proses, bukan semata hasil, bahasa yang hidup dan dekat dengan pengalaman siswa, serta keberanian untuk jujur pada pikiran sendiri.
Penulis juga mengajarkan cara membaca yang pelan dan dalam. Membaca untuk memahami, bukan sekadar menghafal. Di tangan penulis, buku dan gawai tidak dipertentangkan, melainkan dijembatani sebagai sumber ide yang dapat diolah menjadi tulisan yang berkesan.
Lalu muncul pertanyaan lanjutan yang sering mengemuka, apakah prospek menjadi penulis masih menjanjikan?
Jawaban jujurnya, menjadi penulis tidak mudah, tetapi tetap relevan dan terbuka.
Jika dibayangkan hidup nyaman hanya dari royalti buku, jalur itu memang semakin sempit. Namun, dunia kepenulisan hari ini jauh lebih luas daripada sekadar menerbitkan buku.
Menulis kini hadir dalam banyak peran. Penulis konten edukatif dan kreatif, penulis naskah video, podcast, dan film pendek, penulis buku ajar dan modul, editor dan kurator konten, penulis opini, biografi, hingga dokumentasi budaya, semua memberi ruang menjanjikan.
Menulis bukan lagi profesi tunggal, melainkan keterampilan inti yang membuka banyak pintu kerja.
Di hampir semua bidang, orang yang mampu menulis dengan baik cenderung lebih diterima, lebih dipercaya, dan lebih tahan terhadap perubahan zaman.
Oleh karena itu, ketika penulis masuk ke sekolah, pesan utamanya bukanlah “jadilah penulis terkenal”, melainkan “kuasai menulis agar kamu mampu bertahan dan dapat mengambil peran di bidang apa pun yang kamu pilih”.
Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang keras dan kompetitif. Mereka terdorong memilih jalan yang tampak pasti, cepat, dan terukur. Ketika mereka ragu pada profesi penulis, keraguan itu bukan karena kurangnya imajinasi, melainkan karena tidak melihat peta masa depan yang jelas.
Meyakinkan mereka tidak cukup dengan slogan romantik, tetapi dengan cara berpikir baru: menempatkan menulis sebagai strategi keterampilan, bukan sekadar cita-cita.
Hampir semua profesi membutuhkan menulis. Dokter menulis laporan medis, menyiapkan proposal proyek, pengusaha menulis presentasi dan negosiasi, guru menulis modul dan refleksi. Menulis adalah fondasi paling dasar dari banyak pekerjaan yang tampak “pasti”.
Kejujuran juga perlu ditegaskan sejak awal. Menulis bukan jalan instan menuju raya kaya, tetapi hampir semua pekerjaan besar menuntut kemampuan menulis yang baik.
Dan, menulis bukan sekedar soal uang, melainkan soal daya hidup. Orang yang mampu menulis tidak mudah hilang di zaman apa pun karena ia bisa berpikir jernih, berempati, dan menyesuaikan diri. Menulis melatih kejelasan sikap, sesuatu yang tak tergantikan oleh teknologi.
Meyakinkan anak-anak bahwa penulis memiliki masa depan bukan dengan memaksa mereka bercita-cita menjadi sastrawan, melainkan dengan menunjukkan bahwa menulis adalah bekal hidup jangka panjang. Mereka bebas memilih profesi apa pun. Namun, jika mereka mahir menulis, masa depan mereka akan selalu memiliki pintu cadangan, dan sering kali, justru pintu utama.
Menulis, adalah kesetiaan pada kata: cara berpikir dan keberanian bersuara. Di dunia tengah yang kian riuh oleh isi gawai, kesetiaan itulah yang membuat manusia tetap manusia.
Mengutip Pramoedya Ananta Toer: “Kau tahu mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
Ya, begitulah. Kata Pram lagi: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Menulis adalah sebuah keberanian.” ***Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis




