Anak Korban Tsunami 2004 Asal Aceh Itu Melepas Masa Lajang
Mother Park Behind of the Napa’s Mosque

Oleh Muhammad Subhan
Di atas jembatan, luka dan derita terhampar nyata. Ada yang kehilangan kaki, tangan, bahkan pakaian. Polisi dan tentara membagikan selimut dan makanan kaleng. Di sanalah Maksalmina kembali bertemu dengan beberapa orang yang mengenalnya, lalu bersama-sama berjalan menuju tempat pengungsian.
MUSIBAH mahadahsyat tsunami Aceh tahun 2004 telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Jasad ayah dan ibu hingga kini tak pernah bersua. Di saat raya udara itu tiba, mencabut lantai, dinding, dan atap rumahnya di Alue Naga, Syiah Kuala, Banda Aceh, usianya baru sembilan tahun, atau kelas empat sekolah dasar.
Yang membuat saya takjub, semangat hidup sungguh luar biasa.
Meski sebatang kara, ia mampu berjuang menyelesaikan pendidikannya hingga perguruan tinggi dan lulus pendidikan (S-2).
Ia merupakan alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, dengan konsentrasi studi Penciptaan dan Pengkajian Seni. Di ranah seni Indonesia, ia dikenal sebagai editor film dan editor suara untuk film-film bioskop Indonesia.
Maksalmina, S.Sn., M.Sn., demikian nama lengkap dan gelar akademiknya. Saat esai ini ditulis, saya sedang berada di Payobasung, Payakumbuh, bersama Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., dosen, sutradara teater, dan pendiri sekaligus pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang. Menaiki “Si Biru”—kendaraan operasional Komunitas Seni Kuflet yang beberapa bulan lalu tur literasi di sekitar Aceh—kami mengantarkan Maksalmina.
Dan, di hari baik, Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw, di hadapan penghulu di Masjid Baiturrahman, Payobasung, Payakumbuh, “linto baro” itu lancar menyajikan lafaz ijab kabul di hadapan penghulu, para Saksi.
Sahlah ia menjadi suami dari Dara Payakumbuh, Monicca Faraswatye, S.Sn., M.Sn., yang juga alumni ISI Padang Panjang.
Beberapa hari sebelum ke Payakumbuh, saya menghubungi Maksalmina. Saya mewawancarainya tentang peristiwa tsunami Aceh. Ia pun berkisah, membuka kembali kenangan masa kecilnya, mengingat setiap detail mozaik kehidupan yang tidak hanya menimpa dirinya dan keluarganya, tetapi juga sebagian besar penduduk Aceh pada tahun suram itu.
Pagi Minggu, 26 Desember 2004, sekitar pukul 07.00 WIB, Maksalmina berada di rumah bersama adik-adik yang masih kecil. Mereka menonton acara kartun Doraemon di televisi. Kedua orang tuanya telah berangkat sejak subuh. Ayahnya, seorang nelayan, pergi melaut. Ibunya, meski ibu rumah tangga, berdagang bakso di depan rumah dan harus membeli bumbu serta perlengkapan dapur sejak pagi. Di rumah, tinggal dua anak itu.
Gempa besar datang tiba-tiba. Guncangannya kuat dan berlangsung lama.
Dalam ketakutannya, Maksalmina memutuskan membawa adiknya berjalan menuju rumah kakek, berharap tempat itu lebih aman. Namun, belum lama mereka tiba, orang-orang berlarian dari arah pantai sambil berteriak, “Ie laot ka di ek!”—Air laut naik! Kepanikan pun menjadi tak terkendali.
Dalam kekacauan itu, Maksalmina berpisah dari adik dan kakeknya:
Ia berlari ke arah sungai dan sempat menyalakan sebatang pohon. Dari atas sana, ia menyaksikan gelombang besar tsunami mendekat.
Ia melihat seorang laki-laki tua menggendong bayi sambil berlari, namun gelombang itu menghantam mereka tanpa ampun. Tak lama kemudian, pohon yang dipanjatnya roboh diterjang udara. Tubuh kecil itu pun terseret arus, tergulung, menghantam tanah berulang kali, hingga akhirnya terlepas dari pusaran dan memandang langit dengan sisa napas.
Ia bertahan dengan berpegangan pada apa pun yang bisa diraih: kayu rumah, kasur, benda-benda yang hayut. Di sekelilingnya, teriakan minta tolong, tangisan, dan pekikan “Allahu Akbar” bersahut-sahutan. Menggema dengan getar di udara.
Arus membawa tubuhnya dari Alue Naga ke arah kota melalui Sungai Krueng Cut. Di tengah derasnya udara, ia melihat jembatan dan orang-orang yang menutupi beton jembatan itu karena tak menyadari bahaya di belakang mereka. Ia memilih menyelam agar selamat, lalu kembali hanyut melewati jembatan.
Kok terakhirnya adalah sebuah jeriken bensin. Dalam kondisi yang hampir tak berdaya, ia melihat seorang teman sekampung yang juga meminta bantuan. Dengan sisa tenaga, mereka bertahan bersama, berdua menggenggam satu jeriken.
Saat arus mulai surut kembali ke laut, arus tersebut terbawa lagi ke arah jembatan Krueng Cut. Di atas jembatan, polisi dan tentara telah bersiaga. Sebuah kabel listrik besar dilemparkan. Mereka dipegang, ditarik ke atas, dan akhirnya selamat.
Di atas jembatan, luka dan derita terhampar nyata. Ada yang kehilangan kaki, tangan, bahkan pakaian. Polisi dan tentara membagikan selimut dan makanan kaleng. Di sanalah Maksalmina kembali bertemu dengan beberapa orang yang mengenalnya, lalu bersama-sama berjalan menuju tempat pengungsian.
Hari-hari berikutnya diisi dengan panas.
Mereka berjalan kaki berhari-hari, menginap di pinggir jalan, di Stadion Dirmutala Lampriet, yang bangku kayunya bergoyang karena gempa susulan. Tidur tak pernah nyenyak. Bantuan datang dari warga yang tak terdampak: nasi, air minum, pakaian, selimut.
Akhirnya, ia tiba di pengungsian Ulee Kareng. Halaman masjid dipenuhi tenda darurat. Di sanalah ia akhirnya bertemu bibiknya.
“Sementara, ayah, ibu, dan adik saya tak pernah kembali,” ujarnya dengan bola mata berkaca-kaca.
Setelah pencarian selama sebulan, jasad orang-orang yang dicintainya tidak ditemukan.
Rumah mereka di Alue Naga menghilang bersama sebagian besar organisasi lainnya. Tsunami itu merenggut seluruh keluarga inti dan meninggalkan Maksalmina seorang diri sebagai penyuntas.
Pemulihan berjalan lambat. Sekolah-sekolah rusak. Anak-anak belajar di tenda-tenda relawan, dengan fasilitas seadanya, selama lebih dari setahun.
Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang untuk saling menguatkan. Hingga akhirnya mereka menempati sebuah barak di Neuheun, Aceh Besar, dan kehidupan perlahan kembali berjalan.
Meski melalui hari-hari yang berat, dan setelah keadaan agak normal, Maksalmina melanjutkan pendidikannya, tinggal bersama keluarga yang tersisa. Ia berhasil menamatkan SD, SMP, hingga menyelesaikan pendidikannya di SMK di Banda Aceh.
Setama SMK, kehidupan baru ia mulai. Ia menjejakkan kaki di Kota Pendidikan Padang Panjang setelah sang kepala sekolah dan bidang kesiswaan menanyakan rencana masa depan. Pihak keluarga terdekat sempat meminta agar ia melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya.
Namun, dukungan sekolah mengubah segalanya. Ia dibantu mendaftar beasiswa Bidik Misi dan diterima di ISI Padang Panjang, Program Studi Televisi dan Film. Dari sanalah hidupnya bertumbuh kembali, di kota yang diberi kesempatan kedua untuk hidup lebih baik.
Di Padang Panjang, ia belajar dengan sungguh-sungguh. Ia menekuni dunia film dan pertelevisian di samping bersungguh-sungguh pula aktif di Kuflet, komunitas yang turut menggembleng bakat dan minatnya sebagai seorang seniman muda.
Kini, dua dekade setelah tsunami, anak kecil yang terseret amuk air laut ganas itu berdiri tegak sebagai seorang pemuda gagah, sosok seniman mumpuni dan praktisi film yang diperhitungkan.
Ia mampu mengatasi trauma masa lalu, keterbatasan, dan kesepian karena ketiadaan ayah dan ibu.
Ia membuktikan bahwa hidup, betapapun kerasnya tabrakan, selalu menyisakan ruang bagi harapan, selama seseorang memilih untuk bertahan dan terus berjalan. Selamat menempuh hidup baru, Maksalmina dan pasangan. Selamat berbahagia. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.

