
Oleh Muhammad Subhan
Perpustakaan berisiko berubah menjadi ruang eksklusif, sekadar tempat menyimpan buku dan arsip, minim kreativitas untuk menggerakkan koleksi ke luar gedung perpustakaan. Kalaupun ada, program cenderung berulang dari tahun ke tahun, minim kreativitas.
GEDUNG-GEDUNG perpustakaan hari ini makin megah. Arsitekturnya modern, rak-raknya rapi, pendingin ruangannya sejuk, dan koleksinya bertambah dari tahun ke tahun.
Namun, ironi sering muncul: ruang yang indah itu kerap belum maksimal mendatangkan pemustaka.
Buku-buku tersusun rapi, arsip tersimpan aman, tetapi denyut kehidupan intelektual justru terasa melemah. Rendahnya minat baca juga masih menjadi momok.
Perpustakaan berisiko berubah menjadi ruang eksklusif, sekadar tempat menyimpan buku dan arsip, minim kreativitas untuk menggerakkan koleksi ke luar gedung perpustakaan. Kalaupun ada, program cenderung berulang dari tahun ke tahun, minim kreativitas.
Di titik inilah pentingnya alih wahana koleksi perpustakaan menjadi sebuah keniscayaan, bukan sekadar pilihan.
Alih wahana sering dipahami secara sempit sebagai proses mengalihkan buku cetak ke bentuk digital atau memindahkan arsip fisik ke arsip elektronik. Padahal, esensi alih wahana jauh lebih luas, lebih substantif, dan transformatif.
Ia bukan sekadar soal format, melainkan soal mengubah cara pengetahuan hadir dan berinteraksi dengan manusia.
Jika alih wahana berhenti pada proses digitalisasi semata, maka perpustakaan hanya memindahkan benda fisik dari rak ke layar digital.
Di era hari ini, pemustaka tidak lagi menunggu. Mereka bergerak cepat, memilih yang mudah diakses, yang dekat dengan kehidupan, dan yang menyentuh pengalaman personal. Perpustakaan yang hanya menunggu kedatangan pemustaka, seberapa pun megah gedungnya, akan tertinggal.
Karena itu, perpustakaan dituntut keluar dari logika lama: dari sekadar menyediakan sarana dan prasarana, menuju kemampuan memanfaatkan koleksi secara kreatif dan berkelanjutan.
Alih wahana koleksi perpustakaan seharusnya dimaknai sebagai proses kreatif. Buku dapat diolah menjadi audiobook untuk menjangkau penyandang disabilitas netra atau generasi yang akrab dengan budaya dengar. Naskah lama seperti arsip sejarah bisa diadaptasi menjadi film pendek, animasi, komik digital, atau cerita visual di media sosial. Kumpulan puisi, cerpen, novel, dapat diubah menjadi pertunjukan baca puisi, musikalisasi, teater, atau podcast sastra.
Koleksi foto dan manuskrip dapat dikurasi menjadi pameran tematik yang relevan dengan isu-isu kekinian. Bahkan, data dan dokumen bisa diolah menjadi infografik, esai visual, atau materi pembelajaran interaktif.
Namun, alih wahana tidak boleh berhenti pada produk. Di sinilah perpustakaan sering kehilangan momentum.
Setelah koleksi dialihwahanakan, langkah berikutnya yang sama pentingnya adalah menghidupkannya melalui peristiwa. Peluncuran karya, bedah buku atau bedah arsip, diskusi publik, pameran, pemutaran film, hingga residensi kreator berbasis koleksi perpustakaan harus menjadi agenda rutin.
Dan, peristiwa ini harus dirayakan dengan gegap gempita, sebagai siar dan syiar.
Perpustakaan tidak cukup menjadi ruang simpan; ia harus menjadi ruang temu, ruang dialog, dan ruang perayaan gagasan.
Pendekatan ini menuntut perubahan cara pandang pengelola perpustakaan.
Pustakawan tidak lagi semata penjaga koleksi, melainkan kurator pengetahuan dan penggerak ekosistem literasi.
Maka, dibutuhkan keberanian untuk berkolaborasi dengan seniman, sastrawan, penulis, pegiat literasi, akademisi, komunitas, bahkan konten kreator.
Kreativitas menjadi kunci agar koleksi perpustakaan tidak terjebak sebagai benda mati yang hanya hidup di katalog atau di balik dinding mewah perpustakaan.
Tentu, kritik perlu diajukan secara jujur. Banyak program perpustakaan masih terjebak pada simbolisme: acara seremonial, kegiatan formal, atau pameran yang lebih mementingkan dokumentasi ketimbang interaksi. Alih wahana yang sejati seharusnya berangkat dari kebutuhan manusia, bagaimana koleksi itu menjawab kegelisahan, memantik imajinasi, dan membuka percakapan.
Perpustakaan yang humanis adalah perpustakaan yang mau mendengar denyut zamannya tanpa kehilangan akar pengetahuan.
Perpustakaan tidak boleh puas hanya dengan angka koleksi dan luas bangunan. Yang lebih penting adalah sejauh mana koleksi itu bergerak, bersuara, dan menyentuh kebutuhan masyarakat paling dasar.
Alih wahana adalah jalan untuk membuat buku berbicara dengan cara baru, arsip menuturkan ulang sejarah, dan pengetahuan menjelma pengalaman.
Perpustakaan yang hidup adalah perpustakaan yang berani menari bersama zaman, mengajak koleksinya turun dari rak, melangkah ke ruang publik, dan menyapa manusia dengan bahasa yang akrab.
Di sanalah buku tidak lagi diam, arsip tak lagi seperti benda mati, dan perpustakaan kembali menjadi rumah yang berdenyut, hangat bagi pikiran, dan tentu juga damai bagi kemanusiaan.***Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis




