Banyak Masalah Negeri yang Bisa Dikritik, Kenapa Harus Mengolok-olok Fisik
Banyak Masalah Negeri yang Bisa Dikritik, Kenapa Harus Mengolok-olok Fisik (

Ngopi Sewarung
Banyak Masalah Negeri yang Bisa Dikritik, Kenapa Harus Mengolok-olok Fisik (Body Shaming) Pemimpin Negeri
SUNGGUH — Banyak obyek masalah di tanah air yang bisa jadi bahan sasaran kritik. Ada kebijakan dan kejahatan lingkungan yang mengakibatkan bencana alam, korupsi dan prilaku koruptor yang menyebabkan rakyat terjebak dalam jerat kemiskinan, prilaku politik transaksional dan balas budi sebagian besar para elite, jual beli kasus hukum. Juga soal sikap hedon sebagian pejabat dan anggota dewan, mark-up dan pemborosan APBN dan APBD. Ada juga kelompok orang yang senang menjual idiom-idiom agama untuk kepentingan politik, prilaku kelompok agama yang senang mencaci maki golongan lain dan merasa paling benar atau paling surga. Soal sekelompok elite yang selalu nyinyir dengan semua prestasi dan kebijakan pemerintah. Prilaku pungutan pembohong (pungli) yang merebak di hampir semua instansi pemerintah. Belum lagi soal meluasnya sebaran konten kebencian dan hoaks, prilaku sebagian Gen-Z yang kehilangan semangat nasionalisme dan kepedulian terhadap budaya bangsa sendiri, sebagian anak-anak muda yang mulai kehilangan kesantunan dalam berbicara.
Dan masih banyak lagi masalah-masalah lain yang jika terus dibiarkan bisa menimbulkan akar dan landasan nilai-nilai persahabatan serta mengancam keutuhan persatuan bangsa (disintegrasi)
Kritik terhadap semua masalah tersebut dapat disampaikan dalam berbagai bentuk. Lewat tulisan, orasi, karya seni, termasuk juga lewat pentas stand-up commedi.
Pertanyaannya, mengapa seseorang harus melakukan body shaming (pelecehan fisik) kepada para tokoh pemimpin negeri yang sedang sibuk bekerja untuk rakyat jika kritik dimaksudkan untuk membenahi keadaan. Mengapa kebijakan dan keputusan para elite itu tidak dikritik?
Apakah para pelaku body shaming itu kurang banyak membaca buku dan memahami realitas permasalahan bangsa ini, atau sengaja mengambil tindakan body shaming untuk alasan tertentu. Misalnya, mungkin saja agar bisa tampil lebih lucu, atau ada motif politik tertentu!? Apakah para pelaku body shaming itu mempunyai misi atau membawa muatan politik tertentu? Bisa juga ingin menurunkan peringkat reputasi para pemimpin elit negeri yang sudah dipilih oleh sebagian besar rakyat misalnya. Atau sengaja hendak mendelegitimasi unit-unit pemerintahan yang dipimpin oleh para elite seperti yang biasa dilakukan oleh kelompok proksi asing? Apa mungkin mereka juga bagian dari jaringan proxy asing? Atau hanya sedang diperalat oleh kekuatan politik tertentu?!
Karena jika seorang komika ingin tampil sekadar melucu kan tidak harus melakukan body shaming kepada para pemimpin negeri seperti yang dilakukan Pandji Pragiwaksono. Komedian hebat pasti mempunyai banyak cara agar tampil dapat menarik perhatian audiens tanpa harus memberi batasan pribadi orang lain. Seorang komedian Mongol misalnya bisa sangat lucu dan menarik bahkan menjadi komedian termahal di Indonesia tanpa pernah melakukan body shaming. Juga yang dilakukan oleh para komedian legendaris :Benyamin Sueb, Bagito, Bagio, dll yang bisa tampil lucu tanpa menjelaskan fisik pribadi pemimpin negeri. Malah dibalik kelucuan mereka tersimpan nilai nasionalisme dan menjaga keutuhan kebersamaan anak bangsa yang mereka sampaikan di sela -sela kelucuan. Begitulah sehingga mereka menjadi legenda yang terus dikenang.
Nah, yang dilakukan oleh Pandji Pragiwaksono yang saat ini namanya lagi viral dengan perbuatan body shaming-nya di Panggung Mensrea hendak menunjukkan dan menyampaikan nilai apa?
.
Tindakan body shaming bukan sekedar perbuatan kurang etis yang bisa merugikan hati orang lain, tapi juga melanggar nilai-nilai etik kolektif ketimuran bangsa kita. Kesannya kurang beradab yang jika dibiarkan bisa menimbulkan rasa benci (tidak suka) kolektif dan hilangnya rasa hormat serta kepercayaan publik kepada para figur pemimpin negeri.
Panji Pragiwaksono, seorang komedian dan public speaker hebat penuh prestasi. Ia dianugerahi kemampuan berbicara di depan publik yang luar biasa. Harusnya seorang public speaker dan public figur bisa menyadari bahwa pada dirinya sudah melekat tugas dan tanggung jawab moral untuk menyebarkan cahaya keilmuwan, cinta, kasih sayang, kebenaran, kebaikan dan inspirasi bagi kehidupan masa depan bangsa dan bagi kehidupan banyak orang agar lebih baik. Bukan malah membuat kegaduhan dengan memenuhi fisik pribadi orang.
Pahami perasaannya,
Tuan Sepuluh.



