Kolom Sosial Politik

Negeri Toxic

150views

 

Oleh: Ridhazia

INTERAKSI  politik di negara toxic meracuni dan menghakimi itu menjadi kelaziman. Tak berlebihan kalau sebagian besar penduduknya didera perasaan frustrasi, sedih, atau bahkan cemas.

Setiap diksi perkataan dan narasi tulisan, bahkan foto dan gambar pun disajikan ke ruang publik bersifat manipulatif.

Ekspresinya jauh dari rasa empati. Alih-alih lebih suka pun merendahkan, dan menyakitkan. Pokoknya, betapa senang jika menghina, membuli, membohongi dan melihat penderitaan orang lain.

Jauh dari keinginan memahami atau merasakan perasaan orang lain itu bahagia, tenang, senang. Tak berlebihan kalau di negeri toxic mementingan diri dan kelompoknya sepenuhnya untuk memuasai hasrat nafsu bejat.

Menguras seluruh energi pikiran dan perasaan untuk menyingkirkan eksistensi orang lain dan kelompok yang dibenci sebagai keharusan. Apapun cara dan strateginya.

Di negeri toxic pemaafan sudah tidak berlaku lagi. Tidak ada konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Sulit menemukan kesadaran sebatas belum memuasi seluruh nafsunya.

Di atas segalanya membanggakan diri sendiri secara berlebihan. Sok paling benar, paling berjasa, paling patriotis, paling nasionalis dan seterusnya.*

 * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response