
Oleh: Ridhazia
MOHAMMAD Hatta atau Bung Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI tepat 1 Desember 1956.
Soekarno- Hatta yang digadang-gadang Dwi Tunggal hanya bertahan 11 tahun. Kedua politisi yang melegenda sejak pra kemerdekaan Indonesia pecah kongsi tahun 1956.
Sejak itulah Bung Karno melenggang sendiri sebagai Presiden hingga peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.
Surat pertama pengunduran diri Bung Hatta dibuat melalui DPR tahun 1955 tidak berbalas. Surat kedua pengunduran diri tahun 1956 baru dikabulkan.
Berbeda
Di dalam autobiografi “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” diungkapkan bahwa orientasi politik Soekarno-Hatta kerap berbeda. Dan, itu sudah terjadi sejak 1920an.
Puncaknya, setelah kemerdekaan. Bung Hatta sebagai wapres kembali tidak sejalan dengan Bung Karno. Saat itu, terkait dengan sistem Kabinet Parlementer dimana peran wapres sudah tidak diperlukan lagi.
Pertentangan antara Bung Hatta dengan Bung Karno yang sangat prinsipiil karena dasar-dasar pemikiran keduanya saling bertolak belakang. Selain sifat dan karakter serta gaya kepemimpinan yang berbeda pula.
Usulan Oto Iskandardinata
Sejarah mencatat sehari setelah pembacaan Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta, Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menyelenggarakan sidang di gedung Volksraad (kini Gedung Pancasila) di Jalan Pejambon Jakarta.
Pada sidang PPKI itulah secara aklamasi mengangkat Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden-Wakil Presiden Republik Indonesia.
Usulan pengangkatan Soekarno-Hatta itu dikemukakan oleh Otto Iskandardinata, Si Jalak Harupat dari Tanah Sunda dan disetujui secara aklamasi oleh peserta rapat.
Berpisah sejak RIS
Soekarno tanpa Hatta dalam jabatan presiden terjadi ketika Indonesia menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat) pada periode 27 Desember 1949 hingga 17 Agustus 1950.
Pada masa itu, Soekarno menjabat sebagai presiden RIS, sementara Mohammad Hatta menjabat sebagai perdana menter
Setelah RIS dibubarkan, Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Soekarno kembali menjadi presiden, namun kali ini bersama Hatta sebagai wakil presiden.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.



