
Bandung, BANDUNGPOS.ID – Olahraga dan bisnis sangat tipis batasannya. Keduanya membutuhkan kerja keras, disiplin dan strategi untuk meraih kesuksesan. Tidak ada jalan pintas untuk mencapai puncak.
“Setiap tetes keringat adalah investasi untuk masa depan. Baik dalam olahraga maupun bisnis, disiplin disertai doa adalah kunci keberhasilan,” ujar Ir. Yudi Diharja, pengusaha muda kelahiran 11 Agustus 1973 membuka obrolan santai di Bandung, Kamis (31/7/2025).
Bagi alumni Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, bulutangkis adalah olahraga yang digemarinya. Lewat bulutangkis pula posisi manajer pernah digenggamnya, yakni manajer tim bulutangkis PON XIX/2016 di Jawa Barat. Lewat tangan dingin Yudi sebagai manajer, bulutangkis Jabar sukses menyabet 2 emas, 2 perak dan 5 perunggu.
Selain di pentas PON, Yudi pun sempat mendapat amanah sebagai manajer bulutangkis Kota Bandung di ajang Porprov 2014. Prestasinyapun tak kaleng-kaleng lantaran Kota Bandung tampil sebagai juara umum dengan perolehan 4 emas.
Mantan Ketua Umum Perguruan Karate Kushin Ryu M Karate-Do Indonesia (KKI) Jabar ini dalam perjalanan hidupnya memang tak bisa dipisahkan dengan dunia olahraga dan bisnis. Olahraga baginya dijadikan sebagai ajang refreshing ditengah geliat kesibukan berbisnis.
“Ketika masuk keorganisasi olahraga, saya jadikan sebagai media untuk menjalin silaturahmi serta menambah jejaring dengan link dunia bisnis yang kita miliki. Namun saya lebih cenderung ke soal ibadah, mengabdikan diri sekaligus bermanfaat bagi orang lain,” ujar Wakil Ketua Umum Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Jabar ini.
Menurut Yudi, di Indonesia – khususnya, olahraga bisa dijadikan sebagai sebuah industri. Di Indonesia peluang industri olahraga bisa didapat dari sepakbola, bulutangkis, bola voli dan bola basket. Biasanya pengusaha yang berminat mensponsori olahraga berawal dari ketertarikan pengusaha tersebut terhadap salah satu cabang olahraga. Kemudian dari sisi bisnis bisa dijadikan ajang untuk promosi.
“Dari pajak yang dibayar oleh pengusaha bisa dialihkan ke CSR (Corporate Social Responsibility) atau lebih dikenal sebagai tanggung jawab sosial perusahaan. Misalnya Djarum, dana CSR nya tidak bisa ke perorangan tapi ke Yayasan. Maka terwujudlah Djarum Foundation. Disini ada bakti sosial dan bakti olahraganya,” ujar Yudi.
Yudi menerangkan, bisnis produk olahraga yang dijalaninya bukan produk jadi, melainkan setengah jadi. Seperti misalnya untuk bahan sepatu, bahan rompi anti pelurudan bahan helm. Dengan demikian tidak bisa melakukan promo langsung. Artinya hanya nama perusahaannya saja yang dicantumkan. Karena bukan produk jadi maka mencari market pasar menjadi tantangan tersendiri bagi Yudi.
Saat ini bisnis yang dijalankan Yudi bergerak dibidang laminating tekstil. Bisnis yang terbilang masih langka ini menempatkan diri sebagai penyuplai bahan kebutuhan yang menyasar ke produk bahan tas, sepatu, helm, karpet, jok mobil serta kebutuhan-kebutuhan militer seperti misalnya rompi dan helm anti peluru.
Yudi mulai membangun pabrik pada awal tahun 2004. Dan pada tahun 2022 Yudi mendirikan perusahaan lewat bendera PT Novena Jaya Utama. Selain bergelut di produk laminating tekstil, Yudipun mulai bergerak melakukan ekspansi ke produk lainnya dengan membangun pabrik untuk pembuatan kasur busa dan ranjang susun lewat bendera PT Renssa Foam.
Keringat hari ini adalah kebanggaan masa depan. Sukses dalam bisnis – seperti dalam olahraga, butuh persiapan dan kerja keras serta doa. Itulah kiat bisnis seorang Yudi Diharja yang membawanya sukses sampai hari ini…. (den)





