
Oleh: Ridhazia
PERANG Dunia III dimulai. Tapi tersembunyi dan menyebar di seluruh lini: dari militer hingga narasi informasi.
Bahkan platform Tiktok disebut-sebut sudah masuk pusaran perang terbarukan ini.
Kemenangan dalam konflik kali ini tidak diukur dari pendudukan wilayah, melainkan dari keberhasilan menggagalkan rencana musuh konflik dengan melakukan sabotase ekonomi, agitasi sosial, serta destabilisasi internal.
Diawali dari Ukraina
Keterlibatan langsung negara-negara NATO dalam konflik Ukraina vs Rusia menjadi pertanda perang dunia ketiga sudah terjadi.
Amerika Serikat yang cenderung agresif dan konfrontatif kakl ini masih bisa ditekan oleh kekuatan Cina dan Rusia. Kedua negara itu menjadi ancaman terhadap dominasi geopolitik dan ideologi Barat.
Perseteruan ini mencerminkan konflik strategis dua kekuatan besar yang memperebutkan pengaruh internasional dengan penguasaan teknologi menjadi kunci dominasi.
Graham Allison dalam bukunya Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap? (2017) mengungkap ketegangan dua negara itu terjadi karena China bukan hanya tumbuh ekonominya, melainkan juga pengaruh politik dan terutama teknologi yang menantang dominasi AS.
Berbeda dengan pada Perang Dingin (Cold War) antara AS dan sekutu melawan Uni Soviet pada periode 1947-1991 yang fokus pada kekuatan militer dan nuklir, dengan perbedaan ideologi yang membelah dunia, perang dunia sekarang lebih fokus pada teknologi dan dominasi ekonomi digital.
Adidaya Cina
Seiring pertumbuhan populasi dan ekonomi, China telah menjadi adidaya baru dalam sains ketika mahadata dan algoritma merupakan bagian penting dari perang teknologi.
Apalagi sejak 2018. Cina pun menjadi negara dengan publikasi ilmiah terbanyak di dunia, terutama di bidang strategis, seperti AI, ilmu material, dan energi terbarukan.
Tiktok!
Dan, fenomena perang dunia terbarukan ini, media sosial Tiktok disebut-sebut berada dalam pusaran perang ini.
AS menuduh Tiktok bisa menjadi alat bagi Pemerintah China untuk mengakses data pribadi. Platform media sosial ini yang dibuat ByteDance dan didirikan oleh Zhang Yiming di Beijing, awalnya berfokus pada agregasi berita.
Tapi bagi AS Cina platform ini telah menjadi senjata untuk memengaruhi opini publik dunia yang mengkhawatirkan. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





