Kolom Sosial Politik

TV PACEKLIK: Bisnis Kuno Terjebak Era Digital

309views

 

Oleh: Ridhazia

Sejumlah stasiun televisi swasta di Indonesia mengalami paceklik. Ribuan pegawai dan profesional media audio-visual itu pun di PHK. Dan, akan terancam menganggur.

Sepanjang 2023 hingga 2024 saja, menurut catatan Dewan Pers sedikitnya 1.200 orang diberhentikan aktivitas kerjanya oleh perusahaan media TV antara lain Kompas TV, iNews, CNN Indonesia TV, TV One, dan Global TV.

Akibat Perubahan

Dalih PHK sebagai respons terhadap perubahan lanskap industri digital global akibat geliat disrupsi digital yang menghantu.

Bisnis industri media elektronik ini kehabisan darah segar karena iklan sebagai urat nadi bisnis karena beralih ke platform streaming media sosial.

Format video pendek yang berbasis algoritma menawarkan konten menarik lebih variatif, interaktif seperti HBO, TikTok, Netflix, YouTube, FB, X dan Instagram ketimbang siaran televisi yang terjadwal.

On-Demand

Padahal di tengah banjir informasi dan kebisingan digital yang serba hoaks, secara teoritis justru televisi dan media kertas seharusnya menjadi jangkar akal sehat.

Tapi tidak demikian senyatanya. Media mainstream harus menerima realitas terpinggirkan. Pergeseran besar publik meninggal televisi tidak bisa dihindari. Media konvensional yang belum seabad usianya kehilangan daya tariknya.

Salah satunya sebab diantara banyak sebab, bahwa publik lebih menyukai konten-konten yang mengarah personal dan mobile.

Yang utama dan pertama konten yang on-demand yakni konten yang tersedia fleksible. Waktunya kapan saja, sesuai dengan permintaan dan kebutuhan. Bukan konten yang sudah dijadualkan.

Dengan kata lain, publik sudah bergeser dari konsumsi tontonan publik yang berbasis waktu (scheduled viewing) ke konsumsi berbasis algoritma.

Terlena Bisnis Kuno

Sejumlah periset menduga keruntuhan industri media TV karena terlena pada model bisnis kuno. Diibaratkan seperti kapal tua yang terjebak dalam badai digital.

Sementara para pebisnis pertelevisian tidak mau mengambil resiko. Lebih menunggu teknologi baru menyelamatkan. Mungkin sudah terlalu merasa nyaman dengan bisnis iklan yang menjadi urat nadi media penyiaran.

Jika dulu melimpah, bahkan iklan televisi mengamputasi iklan pada media kertas, tanpa diduga mengikuti jejak pemirsanya ke platform digital. Jejak untuk bertahan pun nyaris tanpa harapan.

Sementara platform media sosial begitu gencar melakukan diversifikasi pendapatan melalui langganan konten, kemitraan komunitas, event hybrid, dan monetisasi digital untuk membangun  loyalitas, bukan dari jumlah tayang, tetapi dari nilai dan kepercayaan.

Situasi ini persis seperti prediksi teoritis Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh W. Timothy Coombs, bahwa krisis yang dikelola buruk akan memperburuk reputasi.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response