Musik & Budaya

Ngopi Sewarung Edisi Baduy : Cinta Terhadang Adat

Ngopi Sewarung Edisi Baduy : Cinta Terhadang Adat

372views

Ngopi Sewarung Edisi Baduy :

Cinta Terhadang Adat


“Mirsa, semalam kamu sudah mendengar apa kata Jaro?” Tanya Sanin pelan saat Mirsa baru saja keluar dari kamar mandi membawa boboko berisi beras yang baru saja ia cuci.

Mirsa hanya terdiam menerima pertanyaan itu. Tangannya sibuk memindahkan butiran beras di dalam boboko (tempat menampung beras yang terbuat dari anyaman bambu) ke dalam aseupan (wadah berbentuk kerucut terbuat dari anyaman bambu).

“Adat kita harus dijaga. Orang luar sekarang semakin banyak yang datang ke Baduy. Kita harus hati-hati menerima mereka,” papar Sanin dengan suara berat.

“Mulai sekarang kamu jangan dekat-dekat lagi sama orang kota itu,” tegas Sanin sambil menyeruput kopi panas.

Mirsa menekuk wajahnya. Tiba tiba saja dadanya terasa sesak mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut sang ayah. Angin pagi terasa dingin menusuk tubuh, tetapi bagi Mirsa sebaliknya. Hatinya menolak kalimat itu.Ia ingin melawan, memberontak tapi bibir dan lidahnya kaku, tak bisa.

Mirsa masuk ke dalam kamar meninggal ayahnya. Lalu berbaring di tempat tidur. Pikiran dan hatinya mulai gelisah, galau tak menentu. Ia mencoba kembali bangkit membuka jendela kamar. Pandangannya menembus jauh ke luar. Hamparan padi huma di bawah bukit yang hijau sedikit melegakan hatinya. Ingin rasanya ia terbang jauh menembus langit lalu bersembunyi di balik awan daripada hidup tertekan dan dilanda keresahan cinta. Ia membayangkan akan kehilangan cinta yang ia dambakan dari Suten.

Perasaan rindu pada Suten tiba tiba saja datang menyeruak masuk ke dalam sendi -sendi tubuh, mengalir ke seluruh aliran darah hingga masuk ke sumsum tulang. Rasa itu menggetarkan jiwanya.

Di dalam hatinya muncul tumpukan pertanyaan. Ini perasaan apa? Inikah yang disebut cinta? Tapi kenapa harus kepada Suten? Siapa Suten sebenarnya? Adakah Suten memiliki perasaan yang sama? Kalau ya, kenapa sekarang ia tak ada di sini saat ini? Dan kalau belum merasakan seperti apa yang ia rasakan kenapa perasaan rindunya kepada Suten begitu kuat? Lalu, kenapa pula sang ayah yang katanya sayang justru tidak mengerti dengan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya? Kalau betul sayang kenapa harus memaksanya menikah dengan lelaki yang sama sekali belum pernah menggetarkan dan hadir di dalam jiwanya? Adat melarang, kalau begitu buat apa ia harus mengikuti hukum adat kalau hati malah menjerit menolak? Untuk apa hukum adat diciptakan kalau hak-hak dan perasaan pribadi seorang perempuan tidak dihargai dan tak bisa didengar oleh adat? Bukankah perasaan cinta itu hak paling hakiki dari manusia ?!?

Sungguh masih banyak pertanyaan yang menggantung di dalam hati dan pikiran Mirsa. Namun ia bingung kepada siapa ia harus meminta jawaban?!

 

Get the feeling
Mr. Ten

Leave a Response