IN MEMORIAM

FIKRI JUFRI, Sang Jurnalis Senior

462views

 

Oleh Ridhazia

Dunia jurnalisme Indonesia kehilangan wartawan senior. Guru menulis berita “yang enak dibaca dan perlu”.

Innalilahi wainnailaihi rojiun.

Itu FIKRI JUFRI (1936-2025) wartawan senior Majalah Mingguan TEMPO yang meninggal dunia Kamis, 6 Maret 2025 di Jakarta.

Persemayaman terakhirnya di Karet Bivak, Jakarta.

Pelajari dulu!

Suatu saat saya bertemu dengan almarhum di sebuah pendidikan dan pelatihan jurnalis muda di Jakarta.

Pernyataan almarhum yang masih teringat hingga sekarang dari FJ — begitu ia disapa oleh sesama para wartawan — adalah:

“Pelajari dulu semua bahan, berusaha menyimpulkan bahan itu ke dalam bahasa sehari- hari, kemudian baru menulis.”

Tak Pensiun

Meski sudah senior, bahkan menjadi elit majalah TEMPO, pria flamboyan ini tak pernah pensiun dari dunia jurnalistik.

Ia komit memilih karir sebagai jurnalis sejak dari Koran KAMI hingga Majalah TEMPO. Dan, selalu meliput berita di lapangan meski sudah menjadi pimpinan puncak majalah bergengsi.

Hingga akhir kehidupan dalam usia 89 tahun ia menjadi inspirasi sekaligus sosok jurnalis yang menempatkan jurnalisme sebagai tujuan, bukan sekedar ancang-ancang untuk beralih ke profesi lain

Awal Karir

Di awal Orde Baru tahun 1965, FJ menyaksikan kerusuhan di kawasan Kota, Jakarta. Naluri memaksanya menelepon kantor redaksi Harian KAMI, koran perjuangan pada masa itu.

Ternyata “laporan” FJ dari dimuat esok harinya di halaman depan surat kabar Harian KAMI. Sejak itulah ia mengawali karir profesionalnya sebagai reporter harian itu.

Flamboyan dan Tak Terendus

FJ berbeda dengan jurnalis pada umumnya, yang umumnya tak merawat diri dan serius. Ia malah tampil sebagai lelaki flamboyan yang gaul, dan menebar kegembiraan.

Itu pula yang menjadi kekuatan FJ yang diakui wartawan sezaman. Yakni kekuatan lobi, keahlian dalam mengorek cerita selagi wawancara untuk mendapatkan bahan berita eksklusif yang tak terendus media lainnya.

Tapi di kalangan internal Majalah TEMPO ia redaktur yang korek dan skeptis bila menemukan tulisan yang ruwet dan berliku- liku.

Kekuatan FJ diakui wartwan sezamannga. Yakni kekuatan lobi, keahlian dalam mengorek cerita selagi wawancara, dan – terutama – kemampuannya mendapatkan bahan berita eksklusif yang tak terendus media lainnya.

Nasionalis Sumitro

Sejak berusia belasan tahun FJ kerap berdiskusi politik dengan ayahnya yang merupakan seorang nasionalis hingga kuliah di Universitas Indonesia sebagai mahasiswa fakultas ekonomi atas alasan khusus.

Ia sangat mengagumi pikiran-pikiran Profesor Sumitro Djojohadikusumo, politisi dan menteri sekaligus ayah kandung Presiden Prabowo Subianto.

Bukan Al Capone

Pada ulang tahunnya yang ke-81, Fikri Jufri meluncurkan buku otobiografinya “Saya Al Jufri bukan Al Capone” pada 25 Maret 2017.

Buku ini menginpirasi. Ditulis renyah tapi padat pesan tentang bagaimana seidealnya berprofesi sebagai jurnalis.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response