Oleh Bambang Prakoso ( Dosen Ilmu Perpustakaan, Ketua GPMB Jawa Timur)
Indonesia bukan hanya mempunyai kekayan sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga warisan intelektual, kesenian kebudayaan dari leluhur yang artistik, mewah, menakjubkan. Indonesia mempunyai jumlah aksara tradisonal sejumlah 600, jumlah Bahasa 714. Magnum opus yang diakui dunia seperti pararaton, negarakertagama, juga deposit peradaban lainnya seperti Sotasoma, Lagaligo, karya-karya ulama Nusantara yang juga tersebar di berbagai negeri diantaranya Maroko, Kairo, Ingris, Belanda. Alat music lebih dari 300 lebih diantaranya gendang, gong, gambang, seruling, gesso, siter, celempung. jenis musik gamelan pelok, slendro, angklung, keroncong, kulintang, sasando dan masih banyak lagi.
‘’GEMAH— Ripah Loh Jinawi Toto Raharjo Ademdiem Tentrem’’ ini adalah idiom luhur yang diakrabi oleh Masyarakat Indonesia khususnya jawa. Menggambarkan kondisi kekayaan sumber daya alam yang melimpah, tatanan negara yang adil, dan kesejahteraan masyarakat. Tapi fakta pengejawatahanya sampai hari ini belum sepenuhnya dirasakan oleh rakyat Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote terbentang luas hamparan surga yang disebut Indonesia. Pemerintah juga tidak punya agenda serius merawat warisan kekayaan tata nilai kebangsaan, kesenian dan kebudayaan adiluhung.
Sumber daya alam Indonesia
Luas wilayah 1.904.569 km², hutan terluas ketiga di dunia 99 juta hektar dari bagian barat dan bagian timur, potensi hutan yang sangat besar ragam satwa, hayati, pepohonan beragam jenis dan manfaat. Potensi ikan laut Indonesia 6 juta Ton pertahun, tambang minyak lepas dan pasir besi, penghasil batu bara terbesar kelima di dunia ekspor ke Taiwan, China, Korea Selatan, Jepang, India, Italia dan negara eropa lainya.
Indonesia adalah sebuah negara kepulauan terbesar didunia terdapat 17.000 pulau, setiap pulau dikelilingi perairan beberapa diantaranya dibatasi oleh selat. Indonesia memiliki 4 Chokepoint dari 10 Chokepoint didunia, 4 selat ini menjadi jalur tranportasi juga perdagangan dunia sejak beabad-abad, Keempat chokepoint tersebut berada di Selat Malaka (antara dataran Asia dan Pulau Sumatera), Selat Sunda (antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa), Selat Lombok (antara Pulau Bali dan Nusa Tenggara Barat), dan Selat Ombai-Wetar (antara Pulau Alor dan dataran Sunda Kecil).
Warisan intelektual, Seni dan budaya
Indonesia bukan hanya mempunyai kekayan sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga warisan intelektual, kesenian kebudayaan dari leluhur yang artistik, mewah, menakjubkan. Indonesia mempunyai jumlah aksara tradisonal sejumlah 600, jumlah Bahasa 714. Magnum opus yang diakui dunia seperti pararaton, negarakertagama, juga deposit peradaban lainnya seperti Sotasoma, Lagaligo, karya-karya ulama Nusantara yang juga tersebar di berbagai negeri diantaranya Maroko, Kairo, Ingris, Belanda. Alat music lebih dari 300 lebih diantaranya gendang, gong, gambang, seruling, gesso, siter, celempung. jenis musik gamelan pelok, slendro, angklung, keroncong, kulintang, sasando dan masih banyak lagi.
Indonesia, tanah yang kaya akan budaya dan tradisi, memiliki berbagai kesenian yang telah berkembang selama berabad-abad. Setiap daerah di tanah air menpunyai kekayaan seni dan warisan budaya yang unik mengagumkan, mencerminkan keluasan wilayah, keragaman suku, bahasa, dan tradisi masyarakatnya, beberapa kesenian Indonesia juga diakui oleh dunia seperti wayang kulit, angklung, batik, reog ponorogo, tari kecak, tari pendet.
Bahasa jawa yang berlapis, ada Tiga tingakatan yaitu ngoko, kromo, dan kromo inggil, setiap tingkatan memiliki makna dan fungsi khusus. Bahasa yang berlapis tersebut untuk memperjelas dengan siapa kita berkomunikasi, dengan teman sebaya biasanya menggunakan Bahasa ngoko, dengan yang lebih tua menggunakan kromo, berbicara kepada orang tua atau guru menggunakan kromo inggil. Ada penggunaan Bahasa yang lebih rigit lagi misalkan yang disebut padi adalah ketika masih di sawah, disebut gabah ketika sudah lepas dari batang, disebut beras ketika lepas kulitnya, disebut nasi ketika sudah matang, ketika diolah dibungkus daun pisang dikasih lauk namanya jadi lemper, Ketika dimasak dengan tekstur lembek namanya jadi bubur dan seterusnya, ini menandakan bangsa ini memiliki perjalanan sejarah pengalaman yang matang dan panjang.
Negara ekuator
Indonesia adalah negara yang dilalui garis khatulistiwa atau ekuator. Garis khatulistiwa adalah garis imajiner yang membagi bumi menjadi dua belahan bumi utara dan Selatan, memiliki iklim tropis, memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan, memiliki tiga iklim, yaitu tropis, muson, dan laut, kepulauan dan gunung berapi, tanahnya subur menanam apapun sepanjang tahun bisa hidup sangat jauh berbeda dengan negara non ekuator atau negara kering.
Surga yang disamarkan diberi nama Indonesia ini tidak dirawat dengan penuh kesadaran, terutama penyelenggara negara yang ugal-ugalan mengelola sumber daya alam, maupun tata nilai kebangsaan juga warisan leluhur. Bagaimanapun hidup di Indonesia dengan seluruh persoalannya masih lebih baik dibandingkan dengan hidup di negara kering, di Eropa misalnya jika musim salju datang Empat sampai Tujuh bulan menanam apapun tidak bisa tumbuh, peliharaan seperti anjing harus diberi penghangat jika tidak maka akan mati, dibeberapa negara bahkan melarang orang cangkruk’an seperti di warkop, forum-forum bebas, diskusi, pengajian, juga kegiatan lainnya. Dengan kondisi seperti diatas maka negara kering ini harus menyiapkan energi, mineral, gandum, susu, dan seterusnya jika terjadi krisis global maka negara-negara kering ini akan lumpuh, selain itu juga tidak ada kultur kebebasan bersosial.
Korupsi dan ketimpangan
Yang perlu menjadi perenungan adalah kenapa kita tinggal dinegara kaya raya tetapi masyarakatnya miskin, lebih tepatnya dimiskinkan dan dibodohkan oleh penyelenggara negara yang berhianat terhadap bangsanya sendiri, bagaimana tidak korupsi yang dilakukan oleh penyelenggara pemerintahan begitu terstruktur sistematis dan masiv dari hulu hingga hilir, yang terbaru 2024 kasus timah yang merugikan negara 271 T, kasus lama seperti BLBI pada Tahun 1997, penyerobotan tanah lahan negara di Indragiri Hulu Riau, Jiwaseraya, Asabri dan masih banyak lagi.
Ketimpangan perekonian di Indonesia selain disebabkan korupsi juga dominasi para kapitalis, di Indonesia ini ada 1 orang yang kekayaanya sama dengan 100 juta penduduk Indonesia, 50 pejabat kekayaanya sama dengan 50 juta penduduk Indonesia, 10 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 75,3 persen total kekayaan secara nasional. Kekayaan alam Indonesia masih dinikmati segelintir orang saja. Kita lihat saja ketimpangan begitu ekstrim bukan hanya pengeluaran tapi harta dan lahan, ketimpangan tabungan diperbankan antara sikaya dan miskin, bidang agraria rasio gini mencapai 0.8 menunjukan kepemilikan lahan dikuasai segelintir individu dan korporasi berskala besar.
Generasi muda Indonesia punya banyak alasan untuk mencintai bangsanya, untuk tetap tinggal, #kaburajadulu bukan genetic bangsa indonesia, bahkan tidak diragukan mengenai nasiolismenya. Perjalanan sejarah yang matang dan panjang bangsa ini menegaskan bawasanya ini bangsa besar. #kabursajadulu adalah puncak ekspresi keputusasaan sekaligus kritik terhadap penyelenggara pemerintahan yang split personality pemimpin yang berwajah ganda, mungkin penyelenggara negara ini lebih cenderung memakai mazab homo homoni lupus “man is a wolf to man” manusia adalah srigala bagi sesama manusia. Mereka tidak punya pertimbangan pikiran, pertimbangan batin yang matang mengelola bangsa besar ini, tapi bagaimanapun kesadaran secara kolektif untuk memahami, mentadaburi bangsa ini harus terus tumbuh, jika tidak maka negara ini hanya akan menjadi cerita saja, dibajak oleh para penghianat dan penjajah. **Bambang Prakoso
Dosen Ilmu Perpustakaan, Ketua GPMB Jawa Timur





