OLeh Ridhazia
Guru honorer Supriyani kembali mengajar di SD Baito 4, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Sabtu (9/11/2024) siang.
Ia sungguh menderita. Selain diteror, ditahan polisi dan jaksa sekarang masih menunggu keputusan hakim pengadilan setelah berurusan dugaan memukul murid.
Meski perkaranya masih disidangkan ia sempat kembali ke sekolah dimana ia ditugaskan.
Tidak terbayangkan, perempuan ini disambut isak tangis guru dan murid sekolah. Juga pelukan dari teman seprofesi tempat ia mengajar. Bahkan lagu Himne Guru serentak dinyanyikan.
Seakan tak percaya, kehadiran sang guru yang sedang ditimpa masalah hukum bisa terjadi. Meski hari itu Supriyani tidak mengajar di kelas
Sapu Ijuk
Supriyani dituduh memukul D dengan menggunakan sapu ijuk sebanyak satu kali pada muridnya pads 24 April 2024 lalu.
Ia ditetapkan menjadi terdakwa dan harus menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Andoolo, Kendari, Sulawesi Tenggara.
Dokter Forensik yang menjadi saksi ahli menerangkan di depan hakim bahwa luka yang dialami korban bukanlah karena pukulan gagang sapu seperti yang dituduhkan kepada Supriyani.
Buntut Berbuntut
Kasus guru Supriyani menjadi isu nasional. Organisasi PGRI memberikan advokasi politik agar sang guru dibebaskan dari segala tuntutan. Sedangkan pihak terkait dengan kasus ini diselidik san jika ditemukan bukti yang cukup diberi sanksi.
Ikhtiar PGRI berbuah. Kapolri merespon kasus ini secara serentak. Kapolsek Baito, Konawe Selatan (Konsel) dicopot dari jabatan. Diduga buntut permintaan uang saat penanganan kasus guru honorer Supriyani. Demikian pula Kanit Reskrim polsek tersebut dicabut penugasannya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti turut menyoroti kasus hukum yang dialami Supriyani.
Kepada media menyeri baru era Presiden Prabowo ini berjanji menyelesaikan kasus secara tuntas. Bahkan menjanjikan mengangkat Supriyani yang sekarang honorer menjadi pegawai negeri.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





