Oleh Bachtiar Adnan Kusuma,. S.Sos.M.M
MENGAWALI-– Lembaran tulisan ini, penulis mengutip pernyataan Prof. Dr. H. Abd. Rasyid Masri, S.Ag., M.Pd., M.Si., MM,
Dekan Dakwah dan Komunikasi UIN Fakultas Alauddin yang
mengundang penulis menyampaikan Orasi Ilmiah bertajuk “Membumikan Literasi Dalam Menjaga Tradisi Akademik di Perguruan Tinggi” di depanMahasiswa Baru Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Selasa 3 September 2024 di Auditorium UIN Alauddin, Samata Kabupaten Gowa, Sulsel. Prof Masri berharap dengan hadirnya penulis menyampaikan Orasi di depan 700 lebih Mahasiswa akan memberi semangat dan pencerahan agar
dalam memasuki perkuliahan dapat belajar dengan baik, rajin membaca dan mencintai buku, perpustakaan dan cakap menulis yang memilikiwawasan wawasan luas.
Pernyataan Prof.Dr.H.Abd. Rasyid Masri, mengingatkan penulis
tentang Edwin Louis Cole, penulis buku “Kesempurnaan Seorang Pria”yang menegaskan bahwa Kebodohan adalah hasil dari hilangnya kebiasaanmembaca. Bukankah hanya dengan membaca buku bisa menghancurkan pembusukan manusia?
Benarlah jika Jepang adalah bangsa yang menjunjung tinggi
pentingnya membaca dan menulis. Tak heran, kalau rata-rata bangsa Jepang membaca 6 judul buku baru perbulan, artinya setiap 5 hari.
Bachtiar Adnan Kusuma Tokoh Literasi dan Penulis Nasional
mereka menamatkan membaca satu judul buku baru. Hebatnya lagi, orang Jepang membaca buku bukan hanya buku bacaan yang ringan saja, melainkan mereka membaca buku-buku yang berbobot. Oleh karena itu, Jepang menyadari betul pentingnya membaca buku sebagai bagian utama untuk kemajuan suatu bangsa.
Makanya, jangan heran kalau kemajuan di mana-mana, Jepang selalu terdepan terutama di Asia maupun di panggung
dunia Internasional. Selain mereka menyadari betul bahwa keampuhan membaca buku telah dibuktikan dan menjadi penentu kemenangan peperangan antara Jepang pada abad 20 melawan Rusia pada 1904-1905.
Rusia kalah dalam pertempuran laut di Selat Tsushima pada 27-28 Mei 1905.
Benarlah kata Geoffrey Jukes, dalam bukunya Russo-Japanese War
1904-1905 menekankan bahwa penentu hasil kemenangan itu bukanlah teknologi, tingkat tetapi literasinya yang tinggi. Buktinya, hanya 20 persen personel militer Rusia yang bisa membaca dan menulis. Akibatnyabanyak yang tidak mampu mengoperasikan secara benar persenjataan modern dan sistem telegraf nirkabel yang diimpor dari Jerman.
Serangan salah mengoperasikan jaringan komunikasi. Sebaliknya, tentara Jepang Rusia atas Jepang acapkali salah sasaran karena salah membaca peta dan hampir semua tidak mampu membaca dan menulis, menyebabkan mereka mahir menggunakan senjata militer modern.
Kembali ke Indonesia. Kita menengok data yang dirilis oleh World
Reading Habit 2020, menunjukkan Indonesia ada diperingkat 16 dari 22 negara dengan lama membaca rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku sehari 51 menit, berarti dalam seminggu hanya 6 jam membaca. Hal ini menunjukkan kalau kualitas membaca orang Indonesia belum semaju orang Jepang. Bayangkan saja rasio bahan bacaan di Indonesia hanya menunjukkan 1 : 90. Artinya, 1 Buku diperuntukkan bagi 90 orang.
Padahal standar UNESCO menyatakan idealnya bangsa Indonesia
rasionya 1 Buku dibaca 3 orang (Baca Buku Adin Bondar, Literasi Berawal Diksi, Berakhir Pada Aksi).
Nah, penulis mengajak kembali melihat bagaimana wajah kampus
menempatkan membaca dan menulis sebagai sesuatu yang sangat
mendasar. Bayangkan saja jumlah dosen dan guru masih sangat sedikit yang membaca, apalagi menulis. Dari seratus responden, terdapat 56 orang (56%) yang belum pernah menulis buku dan 44 responden (44%) yang telah menulis buku, tetapi belum terpikirkan menerbitkannya. Dari 56 responden yang belum menulis tadi, beralasan karena tidak tahu cara menulis (46,3%), tidak ada waktu (35,7%), tidak percaya diri (7,3%), tidak punya bakat (7,3%) , tidak ada motivasi (3,6%).
Menurut Widaryanto yang dikutip Suroso (2004) baru seperdelapan persen (0,125%) dosen dari 45 Perguruan Tinggi Negeri dan 1.400 PTS di Indonesia dengan jumlah 1.850 000 orang pengajar yang menulis artikel di surat kabar, jurnal dan buku. Rupanya penyebab utama minimnya jumlah penulis di Indonesia, apalagi dari kalangan kampus karena masih kurangnya minat membaca dan budaya menulis belum tumbuh
subur.
Minat baca yang tinggi efeknya menciptakan ekosistem penulis
bisa tumbuh berkembang Selain itu karena hanya dengan minat baca yang tinggi semua pihak untuk menjadi bangsa yang besar dan maju. Penulis selalu menekankan pentingnya mendorong terus menerus minat membaca dan minat menulis dari kalangan kampus sebagai Life Style.
Selanjutnya, mengapa minat baca rendah? Minat baca rendah karena adanya efek domino. Misalnya saja, anak-anak akan lebih gemar menonton dan bermain game daripada membaca buku. Anak-anak kita kekurangan waktunya anak-anak kita memainkan game utama di depan laptop atau HP sekitar 1.600 jam. Padahal Perpustakaan adalah “maha gudangnya” ilmu. Kendalipun, kita
habis waktunya di depan game sekitar 30-35 jam dalam sepekan.
Artinya, setahun seriusi bersama bahwa kondisi perpustakaan sekarang benar-benar menjadi gudang ilmu. Kondisinya memang tetap gudang, berantakan dan berdebu. Belum lagi Indonesia adalah rumah bagi ”tweeps” dan ”twitterian” paling aktif di dunia menurut sebuah studi yang dilakukan Semiocast.
Indonesia melampau New York, Tokyo, London dan Sao Paulo. Tak hanya Jakarta menduduki peringkat kedua kota top dunia di Facebook, diikuti Bangkok peringkat pertama. Artinya menunjukkan kalau Indonesia melalui Jakarta sangat aktif di media sosial.
Darurat Akses Penulis dan Buku Hemat penulis, menyebabkan kurangnya akses buku-buku berkualitas di Indonesia, selain karena minimnya penulis yang berasal dari dunia kampus, juga budaya membaca belum menjadi budaya memassal.
Efeknya menimbulkan krisis buku di Indonesia. Bayangkan saja, jumlah buku baru terbit pertahun di Indonesia hanya berkisar 28.512.996 buku, sementara Jepang menghasilkan 40.000 judul buku baru pertahun, Amerika Serikat 100.000 judul buku baru, India 60.000 judul bukubaru pertahun.
Ironisnya, Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar
273,8 juta jiwa hanya mampu menerbitkan buku baru pertahun sekitar 28.512.996 buku. Artinya jika saja penduduknya berjumlah 273,8 juta jiwa, maka kita membutuhkan kekurangan buku sekitar 792.887.004.
Di sisi lain, kami mendorong terus menerus masyarakat agar gemar
membaca buku, namun di sisi lain tidak mendorong gemar menulis
buku. Akibatnya, terjadi kekurangan akses buku-buku berkualitas di tengah masyarakat karena kurangnya buku berkualitas yang terbit dan ditulis penulis buku.
Penulis memberikan apresiasi kepada sejumlah tokoh-tokoh Nasional dan Lokal yang secara terus menerus mendorong budaya masyarakat dengan memberi contoh dan teladan sekaligus mendorong budaya menulis buku. Di antaranya, Wakil Ketua MPR RI Dr.HMAmir Uskara, dengan inisiatif dan swakarsa menulis pribadi, menerbitkan buku karyanya, kemudian diwakafkan di sejumlah perpustakaan sekolah, desa, lorong, kampus dan komunitas baca yang ada di Indonesia, khususnya di
Sulawesi Selatan. Demikian pula Bupati Maros Dr.HASChaidir Syam, S.IP.MH selain membukukan pemikiran dan kiprahnya membangun Kabupaten Maros juga merintis dan menggerakkan Guru Menulis Buku dorongan Dr.HASChaidir Syam, S.IP.MH Dr. Adin Bondar, M.Si., Prof.Dr.Jasruddin Daud Malago, M.Si. Politisi Prof.Dr.Mohammad Jafar Hafsah, Dr.H.Alimuddin, SHMKn. Andi Muhammad Irfan AB yang telah menulis buku dan mewakafkan ke sejumlah perpustakaan yang pertamakali penulis gagas pada April 2021, kemudian diprogramkan Dinas Pendidikan Kabupaten Maros sebagai program tahunan atas yang ada di Sulawesi Selatan maupun di sejumlah kabupaten dan kota di Indonesia.
Tepat sekali jika mendorong dan menggugat budaya baca dan budaya menulis dimulai dari kampus akademik. Penulis memberikan penghargaan tinggi kepada Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin dan segenap Sivitas Akademika UIN Alauddin yang menggelar kegiatan Orasi Ilmiah yang dtujukan kepada para mahasiswa baru. Tujuannya, selain menggugat budaya baca dan budaya menulis siswa, juga mengembalikan kampus sebagai ekosistem akademika yang berciri berbudaya baca tinggi dan budaya menulis mumpuni.
Penulis yakin dan percaya hanya siswa yang membaca buku dapat menciptakan ekosistem PTN yang mumpuni, besar dan maju. Tak ada kampus yang bisa maju tanpa membaca dan menulis.
Mendidik Generasi Aktif Literasi. Mengapa orang tua sulit memilihkan bacaan anaknya? Pertama, orang tua kurang pengalaman tentang sebuah buku-buku baru. Kedua, menikmati pengalaman membaca bagi orang tua. Ketiga, kurang kesungguhan dalam mengerjakan kedua faktor di atas. Orang yang membaca buku menaruh perhatian pada berita dan informasi tentang
sebuah buku. Caranya, mereka suka membaca resensi buku-buku baru yang setiap pekan diturunkan di berbagai media nasional dan lokal.
Mendidik anak aktif literasi seharusnya dimulai sejak Pra menikah,
Menikah dan Pasca Menikah. Penguatan literasi sebaiknya diberikan sejak pasangan muda mudi sebelum menikah telah dididik, didorong dan diarahkan pentingnya nutrisi literasi diberikan sejak dini. Hanya dengan calon pasangan usia subur yang memiliki kemampuan literasi tinggi, akan mampu menciptakan keluarga aktif literasi. Penulis yakin betul hanya dengan kemampuan literasi yang tinggi yang dimiliki oleh calon pasangan
suami istri, berikutnya menciptakan keluarga yang aktif literasi setelah mereka menikah. Apalagi pasca menikah, kedua pasangan ini, melahirkan dan mendidik serta membesarkan anak-anaknya dengan asupan nutrisi literasi yang tinggi.
***Tokoh Literasi dan Penulis Nasional, bertempat tinggal di Kabupaten Maros.
Akhirnya, penulis dan kita semua menyadari bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang membaca. Takkan ada bangsa yang maju, tanpa menjadikan membaca sebagai budaya dan gaya hidup masyarakat.**




