Ada Apa dengan Penyandang Cerebral Palsy dan ABI
Rafandra kembaran kaosnya dg presiden Dilans@ kang Farhan 🫰❤️disamping Rafandra pembina KKCPBR@ Ummi Rika 😘😘
KOTA BANDUNG, BANDUNGPOS –Bangga mempunyai rekan seperjuangan seperti komunitas Anak Bunda Istimewa (ABI) yang kemarin berulang tahun ke-4. Usianya tidak jauh dari DILANS Indonesia tetapi gerakannya sudah menjangkau lebih dari 600 keluarga Cerebral Palsy (CP) di Bandung Raya. ABI yang dipimpin Rika Yulianti adalah organisasi progresif yang menggerakkan keluarga yang gigih, walaupun dengan sumber daya yang terbatas.
CP adalah gangguan motorik yang berasal dari kelainan otak yang mengakibatkan otot-otot kaku (spastis), gerakan tak terkendali (tardive), keseimbangan, koordinasi tubuh yang buruk (ataksia), atau kombinasi dari ketiganya (CP campuran). Walaupun penyebab persistnya belum diketahui pasti, berbagai publikasi ilmiah menunjukan sebagai bawaan lahir yang proses terjadi ketika anak dalam kandungan karena perkembangan otak yang tidak normal.
Secara global diperkirakan sekitar 18 juta, penyandang CP, 866.770 jiwa diantaranya di Indonesia (5%), yang mencakup Cerebral Palsy dengan klasifikasi ringan, sedang dan berat. Angka prevalensinya 0,09% dari jumlah anak usia 24-59 bulan, terdapat 9 kasus dari 1000 kelahiran (Riskesdas, Kemenkes 2018). Angka besar yang memerlukan intervensi sistemik.
Jaminan BPJS kesehatan belum sepenuhnya menanggung kebutuhan keseharian warga rentan ini yang memerlukan perawatan khusus, pemeliharaan rutin, serta alat bantu yang masih import.
Tidak mudah bagi keluarga CP menjalani kesehariannya, perlunya dukungan dari sekeliling (sistem pendukung) yang tidak meminggirkan dan berempati. Kebijakan publik, aspek medis, psikososial, sains medis dan teknologi diantara tantangannya.
Upaya ini tidak dapat dibebankan pada komunitas, perlu upaya masif dan kongkrit. Itulah diantara perbicangan Farhan Helmy, Presiden DILANS Indonesia, dr. Marietta Shanti, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) Jawa Barat, Irfan Alamsyah, Dinas Sosial Kota Fakultas Bandung, dan juga beberapa calon dokter spesialis rehab medik Kedokteran UNPAD.
Perjalanan masih panjang.
Wajah ceria kemarin mudah-mudah bisa menginspirasi kita semua akan perjuangan dan dedikasi yang konsisten ABI. Meski tidak diungkapkan, kami yakin anak CP mungkin bangga pada orang tua hebat ini. (RM/BNN)





