Ke Semarang beli pie susu.
Membeli tas penyimpanan permata biru.
Berbuat curang bikin alamat palsu.
Kualitas pendidikan haruslah merata.
Oleh Susanti
JUMAT PAGI--, antarmuka pengguna ponsel menampilkan berita dengan judul bertajuk “Diskualifikasi 94 Calon Siswa yang Terbukti Curang di SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung Dinilai Sudah Tepat”, judul yang panjang tapi cukup menggelitik. Ini sudah bisa ditebak soal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), kata batin saya akan menutup layar tanpa terus membacanya.
Sabtu setelah makan siang, barulah menyempatkan diri membaca beritanya. Intinya, banyak orangtua membuat Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) baru untuk memanipulasi alamat tempat tinggal agar anak-anak mereka dapat diterima di sekolah melalui jalur zona.
Saat ruang memori menyeruak ke permukaan. Ingatan mulai bermunculan. Salah satunya ketika pulang kembali ke tanah air setelah rencana menetap di Malaysia 3 tahun tiba-tiba jadi 3 bulan, karena Malaysia lockdown dan mewajibkan pelajar kembali ke negara asalnya sampai keadaan membaik. Saat itu anak pertama saya masih SMP homeschooling, mengibaratkan istilah gen halilintar mobileschooling karena dalam mobilitas itu pun mereka belajar.
Singkat cerita, putra pertama kami ketika itu mengikuti ujian sinonim di PKBM untuk mendapatkan ijazah SMP. kali ini dia memutuskan ingin sekolah. Dulu keputusan home schooling juga atas kemauannya. Ijazah SMP pun terbit, sementara PPDB sudah hampir ditutup. Kami kehabisan kabut.
PPDB sekolah swasta sudah tutup, kalau pun diterima dengan biaya yang lebih mahal. Beberapa sekolah swasta memang menerapkan pola siapa cepat dia dapat, ada banyak keuntungan yang didapat bila mendaftar PPDB lebih awal, uang pangkal bisa didiskon. PPDB Sekolah negeri yang zonasinya dekat dengan tempat tinggal kita tidak ada, semuanya melebihi jarak maksimal jalur zonasi untuk calon siswa SMA/SMK, yaitu 9 hingga 10 kilometer dari domisili sesuai KK. Alamak!
Namun, sejak menikah dan mengelola lembaga pendidikan informal, kami berprinsip, “apa pun sekolahnya yang penting orangtuanya”, ini merefleksikan sedemikian rupa potret pendidikan dan sekolah di Indonesia.
Jika sekolah mampu mengantarkan anak sampai wisuda, maka orangtua mesti mampu mengantarkan anaknya sampai ke pintu surga. Itu artinya!
Sekolah negeri, pilihan alternatif yang memungkinkan saat itu, pada saat seluruh uang tabungan kami terkuras untuk biaya administrasi kuliah dan biaya hidup sekeluarga selama saya belajar di Malaysia. Usaha travel umroh dan haji pun batal karena Saudi lockdown, umroh ditutup sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Kami bisa apa!
Beruntungnya, setelah berburu, kami mendapatkan sekolah yang terkenal masih baru didirikan tahun lalu. Sekolahnya sudah lama, namun bangunannya masih baru karena pindah lokasi. Secara zonasi masih belum memenuhi syarat, akhirnya saya mendaftarkan menggunakan jalur transfer tugas Orang Tua/Wali dan Anak Guru/Tenaga Kependidikan. Berbekal surat keterangan dari pimpinan tempat kerja dan diterima.
Ada rencana, kuliahnya nanti akan di Turki karena akreditasi sekolah dan segala administrasinya tidak akan berpengaruh, karena tujuannya sendiri. Terima kasih.
Tak terasa, dua tahun sekolah disana banyak hal yang berubah. Setelah kami mengamati sistem pendidikan tinggi di Turki sekaligus pengalaman alumninya, musyawarah dan istikharah, akhirnya kami mengusulkan rencana awal menguliahkan putra kami ke Turki. Opsi lain adalah Singapura tetapi pilihan akhirnya tetap pada Putra kami sendiri yang akan menjalaninya, bukan?! Pilihannya kuliah di negeri dengan jalur prestasi dan laporan (SNBP).
Pada tahun ketiga, putra kami tetap berusaha menjaga stabilitas nilai laporannya. unggul dengan prestasinya secara akademis maupun non akademis. Tercatat secara akademis meningkat dan menjadi juara umum pada program IPS. Ia juga terpilih sebagai pelajar pertukaran ke Thailand. Prestasi lainnya sebagai juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk mata pelajaran Ekonomi, PKN, dan Bahasa Inggris. Lolos Parlemen Remaja melenggang ke DPR dan juara bakat lainnya yang membuatnya optimis dapat lolos seleksi ke Universitas impiannya melalui jalur raport dan prestasi (SNBP).
Sayangnya, harapan itu ada sebelum berkembang. Pasalnya, oknum guru yang menebar virus pesimis dan belief system yang dimilikinya justru berkembang di guru BK (Bimbingan Konseling) yang sejatinya perlu untuk menjaga marwah pendidikan itu sendiri, dengan membesarkan jiwa-jiwa peserta didik melalui semangat dan optimisme menggapai prestasinya. Meski setelah saya temui untuk berbincang, berlindung di balik kata “mesti realistis”. Ya, realistis bahwa kuota jalur prestasi SNBP bagi sekolah yang berakreditasi B serta belum memiliki alumni di PTN yang dituju tidak akan bisa meluluskan peserta didik sekalipun memenuhi prestasi akademik maupun non akademik. Saya mengelus dada, menarik napas panjang dan dalam, “ini bak balapan di lintasan yang tidak merata”, akan mengakibatkan kekecewaan yang mendalam, hffh… agar ia lepas dan kembali dengan bentuk lain yang lebih baik.
Karena rasa bersalah kami sebagai orangtua, alih-alih pendidik mulai menghantui. Beberapa diskusi kecil setiap habis sholat Isya mulai memanas jika membahas kualitas sekolah dan keputusan yang dulu, dinilainya tidak tepat strategis.
Penerimaan membutuhkan proses, pemaafan dan pemrosesan selalu terbaca. Entah berapa kali kita mengajukan argumen dalam memproyeksikan rencana pendidikannya ke depan. Kami sadar bahwa kami menghadapi aturan, bukan kata hati.
Sejak saat itu, karena kami menilai sekolah dengan berbagai kondisi dan regulasi yang ada, tidak dapat berbuat banyak untuk seleksi melalui jalur SNBP maka kami putuskan fokus ke jalur SNBT.
Setelah pengumuman SNBP tidak lolos. Kami datang untuk memberikan bimbingan belajar yang memfasilitasi persiapan masuk PTN jalur SNBT. Satu per satu yang kami kunjungi, terdekat di Brain Academy (BA) Setiabudi Bandung, dengan harapan baru tentunya. Lebih dari dua jam saya berada di BA hanya untuk mengobservasi semua hal termasuk tenaga pengajar, kurikulum, sistem belajar, fasilitas dan kami menilai jauh lebih baik dibandingkan di sekolah. Hingga akhirnya bismillah, kami putuskan untuk mendaftarkan putra kami disana. Sebagai pil, itulah kesalahan kami dulu.
Saya tegaskan, utamakan ke BA meskipun harus mengizinkan pulang lebih awal dari sekolah jika jadwalnya BA. Upaya Zaidan mempersiapkan seleksi SNBT tidak kaleng-kaleng. Salam!
Ada “monster alam bawah sadar” yang menggelayut setiap kali kita berbicara rencana belajar. “Anaknya adek (menunjukkan kepada adiknya yang saat ini masih SMP di sekolah negeri di pusat kota), jangan kayak abang…jangan sampai salah ambil sekolah..jangan sampai memilih sekolah yang tidak bisa mendukung prestasi kita”, nada suaranya berat.. .terdengar ingin menyuarakan dengan jujur bahwa kualitas sekolahnya saat ini tidak mendukung kapasitasnya.
Dalam diam, aku takut. Situasi ini terjadi pada lintasan balapan yang tidak merata, lintasan balapan menggambarkan perbedaan kualitas (fasilitas, guru, sumber daya) antara sekolah-sekolah di berbagai zona. Ada yang bagus (garis mulus), sementara sekolah lainnya kurang (garis bergelombang). Pembalapnya (siswa), yang harus bersaing untuk mencapai tujuan mereka, harapannya diterima di PTN. Mereka berusaha, mempersiapkan diri lahir batin, bahkan rohani, untuk ujian UTBK. Pengaturan zonasi mengikuti aturan balapan. Sistem zonasi diatur untuk memberikan kesempatan yang adil bagi semua siswa. Aturan balapan yang mengharuskan pembalap memulai lintasan tertentu sesuai dengan tempat tinggal masing-masing. Nah, kasus alamat palsu ini analoginya menggantikan lintasan. Beberapa orangtua memanipulasi alamat agar anak mereka dapat dikirim ke sekolah dengan kualitas yang lebih baik (mengganti pelatihan balapan). Ibarat seorang pembalap yang mencoba bergerak ke lintasan yang lebih mulus untuk meningkatkan peluang menang. Sementara itu, kebijakan PTN pada garis finis mulai bergeser. Pasalnya, persyaratan administrasi yang menekankan akreditasi sekolah dan riwayat alumni untuk penerimaan PTN adalah garis akhir yang bergeser. Siswa dari sekolah dengan lintasan bergelombang harus berlari lebih cepat dan lebih keras, tetapi dihadapkan pada ketidakadilan karena garis finish lebih mudah dicapai oleh mereka yang memulai dari lintasan yang lebih mulus. Paham kan?
Ah, meski demikian kita perlu haqqul yaqin bahwa manusia bisa berencana, Allah mewujudkannya dengan cinta-Nya. Zaidan, akhirnya lulus di FH (Fakultas Hukum Merah Putih) Universitas Diponegoro, Semarang. Padahal dulu waktu bayi saya tidur (sambil tidur) afirmasi lewat kalimat penutup hari minggu:
Néléngnéngkung-néléngnéngkung
Geura gede geura jangkung
(Cepat besar cepat tinggi)
Geura sakola ka Bandung
(Agar sekolah di Bandung)
Geura makayakeun indung
(Agar dapat berterima kasih kepada Ibu)
Néléngnéngkung-néléngnéngkung
Geura gede geura jangkung
(Cepat besar cepat tinggi)
Geura bisa talang tulung
(Agar dapat membantu/menolong)
Ka bapa reujeung ka indung
(Pada bapak dan ibu)
Cepat-cepat-cepat
Geura gede geura jangkung
(Cepat besar cepat tinggi)
Geura sakola sing jucung
(Cepat sekolah sampai selesai)
Manggih kapusing tong bingung
(Dapat masalah jangan bingung)
Néléngnéngkung-néléngnéngkung
Geura gede geura jangkung
(Cepat besar cepat tinggi)
Nagara kudu dijunjung
(Negara harus dijunjung)
Dihormati dipunjung-punjung
(Dihormati dan dijunjung)
Nilingningnang-nilingningnang
Ulah waka senang-senang
(Jangan mendahului bersenang-senang dahulu)
Diajar ulah kapalang
(Belajar jangan putus di tengah jalan)
Semua pelajaran yang tidak penting
(Semua ilmu dapat diraih)
Ku indung dipunjung-punjung
(Ibu yang menjunjung)
Ku bapa didama-dama
(Bapak yang menjaga)
Reup deungdeung talaga tisuk
Reup sakeudeung nepi ka isuk
(Tidur sebentar sampai pagi)
Ternyata yang mengafirmasi hanya utamanya pada bagian “geura gede geura jangkung” (cepat besar cepat tinggi), sekolahnya kan ke Semarang (sekolahnya ternyata ke Semarang).
Kelemahan sistem zonasi di Indonesia pada jalur SMA, terutama terkait dengan persyaratan seleksi jalur prestasi dan rapor (SNBP), yang sangat dipengaruhi oleh ketimpangan mutu pendidikan antar sekolah, persyaratan akreditasi sekolah yang ketat, dan riwayat alumni di PTN. Manipulasi alamat dan tekanan sosial ekonomi menambah kompleksitas masalah ini. Agar sistem zonasi efektif, perlu adanya upaya pemerataan mutu pendidikan, memperketat pengawasan, dan menyelaraskan kebijakan penerimaan siswa di PTN melalui jalur SNBP.
Faktanya, penerimaan mahasiswa baru melalui jalur KIP (Kartu Indonesia Pintar) pun menghadapi tantangan, setidaknya 20 jam yang lalu dilaporkan bahwa pusat data nasional dibobol Hacker. Data 800.000 mahasiswa pendaftar KIP raib, tanpa backup. Alih-alih kita punya untuk ahli TIK, masa saya kalah strategi dengan calon sarjana yang file backup skrpisinya sampai disimpan dengan rename yang beragam: skripsi fix, skripsi revisi fix, skripsi fix jadi. Perbaikan Skripsweet sudah selesai! Serangan ransomware itu menyebabkan data dari ratusan instansi pemerintahan tak dapat diperbaiki. Hanya 44 instansi yang datanya terselamatkan karena memiliki cadangan. Sedangkan 238 instansi lainnya tidak memiliki data cadangan, sehingga tidak dapat dikembangkan.
Penundaan pengumuman penerima KIPK tentu memengaruhi ribuan siswa yang mengandalkan bantuan tersebut untuk melanjutkan pendidikan. Pemulihan jiwa bagi masyarakat penerima KIP kuliah! Pasti ada jalan…!
Ayu tingting keliling pasar
Cari alamat palsu kesana kemari.
Penting untuk belajar dari kesalahan.
Selamat laku bijaksana hati.
Bunda Susan @susan_motherpreneur (Dosen Biblioterapi di Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi, Depkurtekpen, FIP UPI Bandung). Founder Komunitas Biblioterapi Indonesia.
Follow IG @bibliotherapy.id (Rumah Terapi Buku Wangunsari). Penulis buku seri biblioterapi, penyedia layanan biblioterapi).
Surel: susanti@upi.edu.





