Kolom Sosial Politik

Di Balik Alasan BUNUH DIRI

811views

 

Oleh Ridhazia

Kematian gantung diri yang dilakukan seorang guru di Flyover (Jembatan Layang)  Cimindi atau kasus nekat seorang perawat rumah sakit berinisial H yang juga tergantung seutas tali di pintu kamar kontrakannya di kawasan Kopo Bandung dan aksi bunuh diri atlet dari Jakarta berinisial RP diri dengan melompat dari lantai sebuah apartemen di kawasan Ciumbuleuit, Kota Bandung menjadi data terbaru kematian sia-sia itu.

Bunuh Diri Nasional dan Global

Di Indoensia kasus bunuh diri cenderung meningkat jumlahnya. Berdasarkan Data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI (Polri), terdapat 971 kasus bunuh diri yang tercatat di Indonesia sepanjang 2023. Angka tersebut telah melampaui kasus bunuh diri pada tahun 2022 yang berjumlah 900 kasus. Belum diketahui data 2024.

Sedangkan secara global sebagaimana dilansir Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat dari seluruh populasi Bumi lebih dari 700.000 manusia juga memilih mati bunuh diri setiap tahunnya. Jumlah tersebut lebih banyak lagi yang mencoba bunuh diri.

Putus Asa

Bunuh diri itu keniscayaan putus asa. Alih-alih tegar menghadapi kesulitan hidup, malah memilih kematian secara tragis yang dianggap sebagai penyelesaian akhir.

Para peneliti menduga penyebab kematian bunuh diri itu terbesar keempat di antara kematian lainnya. Dan, pelaku nekad ini rentan terjadi pada kelompok usia 15-29 tahun.

Secara global 77% kasus bunuh diri global dipicu faktor ekonomi dan kebijakan politik yang carut marut. Terutama terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Terbukti kematian bunuh diri secara impulsif terjadi di saat-saat krisis ekonomi karena hilangnya kemampuan untuk mengatasi tekanan hidup.

Krisis Moral

Sedangkan di negara maju dengan penghasilan yang tinggi, tindakan nekad bunuh diri sering diakibatkan depresi.

Penggunaan alkohol, rasa terisolasi dan diskriminasi menjadi alasan dibalik kematiam bunuh diri. Belakangan kematian terkait krisis moralitas seperti lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks (LGBTI).

Tetapi tindakan tersebut belum bisa diketahui secara pasti. Karena melalui berbagai barang bukti yang ditemukan atau keterangan saksi, segala faktor bersifat menduga. Bisa berawal dari masalah keluarga, percintaan atau ekonomi.

Apa kata Emile Durkheim?

Merujuk Emile Durkheim (1858-1917) alasan di balik kematian sia-sia itu semua karena ikatan sosial yang lemah, terutama dalam lingkup keluarga yang lazim disebut tipe egoistic suicide.

Atau, altruism suicide yakni karena ikatan sosial yang terlalu kuat yang menyebabkan kepatuhan yang ekstrim sebagaimana kematian massal yang dilakukan sekte tertentu.

Ada juga karena perubahan-perubahan yang mendadak seperti krisis ekonomi dan covid yang menyebabkan norma yang berlaku sebelumnya dilepaskan yang disebut anomie suicide.

Juga bunuh diri yang terjadi karena norma dan aturan yang kuat ini terlalu berlebihan yang menyebabkan individu tertekan oleh norma dan tatanan nilai yang berlaku. Kondisi ini dalam studi sosiologi sebagai fatalistic suicide. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawagan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response