OpiniPopuler

Bachtiar Adnan Kusuma, Menyulam Kata Merajut Diksi Jadi Makna Sebuah Buku

Bachtiar Adnan Kusuma, Tidak Letih Menyulam Kata Merajut Diksi Jadi Buku

632views

 

Penulis :  Rianto Muradi (Penggerak Literasi Kota Bandung dan Praktisi Jurnalis)

MENULIS  dalam sunyi, tanpa higar bingar populeritas. Jauh dari bisingnya pujian, beliau tak letih menyulam kata, menata kalimat-kalimat Diksi untuk menjadi sebuah buku.

Bachtiar Adnan Kusuma,.S.Sos.MM, akrab disapa BAK sesuai akronimnya. Saya mengenalnya di lautan Medos sebagai senior yang hebat padal BAK sarjana lulusan Fakultas Ilmu Sosial Politik. Akrab dipanggil Bang BAK.

Pada awal mengenal Bang BAK, saya merasa disesaki dengan jutaan referensi. Berbincang dengannya ibarat kita berada di ruang perpustakaan. Bahasanya referensinya sangatal, sarat kutipannya bermakna. Kesimpulannya Bang BAK adalah pegiat buku dan seorang mumpumi literat.

Cerita panjang dilakoninya sebagai penulis lepas di Majalah Panjimas, Amanah, Kartini, Estafet, Tabloid Jumat sejak SMA sampai kuliah. Pada saat ini bang BAK memimpin berbagai organisasi di pusat dan daerah sebagai Sekretaris Jenderal di Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia Pusat (2017-2022), adalah hal yang wajar baginya. Jalan sutera dia menjadi penulis dan tergabung di Rumah Penulis Indonesia, sudah dilakoninya sejak lama. Juga pengurus GPMB (Gerakan Pembudayaan Minat Baca)

Bang BAK dalam pengakuannya terinspirasi oleh ungkapan Napoleon Hill ”Bukan tulisan pada nisan Anda, tapi catatan perbuatan Andalah yang bisa mengabadikan nama Anda setelah Anda meninggal”, inilah yang memberikan inspirasi awal, mengapa ia memilih profesi menulis buku dalam kesunyian.

Menulis dalam keheningan, tanpa higar bingar popularitasitas. Jauh dari bisingnya pujian, BAK tidak membiarkan menyulam kata, menata kalimat menjelma sebuah buku yang jumlahnya ratusan.

Dalam sunyi terdengar pesan sang mahaguru KHAbdurrahman Arroisi seperti denting harpa, “Aku ingin meletakkan artefak-artefak sejarah dalam hidup ini, ya minimal menggoreskan karya terbaik. takkan kamu dikenang sejarah jika kamu tak menulis, maka menulislah dan buatlah sejarah”.

Tak sekadar Penulis Buku Biografi Tokoh Nasional dan Daerah

Menulis profil atau tokoh menjadi gaya utama buku karyanya. Alasannya sederhana dengan menulis biografi orang-orang sukses, dirinya dapat belajar dan menggali kisah-kisah sukses dari sang tokoh yang ia tulis.

Pada awalnya tokoh-tokoh itu ditulis untuk dimuat majalah dan koran harian. Namun dari sanalah BAK membangun hubungan sosial dan peluang bisnis perbukuan yang bernilai keuntungan.

Kolaborasinya dengan penulis Alif we Onggang, Achmad TR, Aprial Hasfah, melahirkan buku “Tentang Sejumlah Orang-Orang Sulsel” pada tahun 1995 dan diluncurkan di Hotel Cempaka Putih, Jakarta Pusat berisi Menteri Penerangan Letjen TNI Purn. Muhammad Yunus Yospiah.

Buku tersebut merupakan kumpulan tulisannya dari berbagai media antara lain Panjimas, Amanah, Estafet dan Tabloid Jumat dibukukan kurang lebih 200 orang tokoh.Dan, BAK sendiri telah melahirkan buku yang merangkum tokoh Sulsel yang sukses di Nusantara. **( Penulis Pojka Literasi Pemkot Bandung, bertempat tinggal di Kota Dodol Garut)

 

Leave a Response