Oleh Ridhazia
Babak baru ormas keagamaan di Indonesia : bisnis pertambangan !
Entah di negara lain, apakah ada kesempatan organisasi keagamaan mendapat keistimewaan serupa sebagaimana di Indonesia ketika organisasi keagamaan begitu dimanjakan.
Padahal selama ini ormas keagamaan sebatas urusan dakwah dan pendidikan. Lebih jauh lagi merambah konsesi politik.
Sedangkan bisnis pertambangan dalam bayangan awam sebagai bisnis yang padat modal dan teknologi yang tinggi sebagaimana Freeport atau Pertamina atau Antam yang berkelas dunia.
Eksplorasi Bumi
Bisnis pertambangan itu bisnis eksplorasi alam ketika seluruh bahan mineral di bawah tanah dan air laut yang mengandung bahan mineral atau sumber daya alam lainnya diolah menjadi komoditas bisnis.
Mineral alam dimaksud meliputi minyak bumi, batubara, bijih besi, emas, intan, berlian, tembaga, perak, nikel, bauksit, timah dan lain sebagainya.
Dan, permukaan Bumi Indonesia memiliki semua sumber daya alam itu. Bahkan batu bara untuk energi utama dalam pembangkit listrik dan industri melimpah dibanding negara lain. Sedikitnya terdapat potensi 24 miliar ton di negeri ink atau 2% dari total cadangan batu bara dunia.
Demikian pula minyak bumi. Indonesia memiliki kandungan minyak bumi terbaik dengan total cadangan minyak sebesar 4,2 miliar barel.
Lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri jika diolah menjadi bahan bakar kendaraan, pembangkit listrik, bahan industri serta rumah tangga, dan lain sebagainya.
Komoditas emas yang merupakan jenis logam mulia yang bernilai sangat mahal, Indonesia pun bisaa menjadi produsen emas terbesar di Asia Tenggara sebagaimana dikelola oleh PT. Freeport Indonesia di Papua.
Demikian juga tembaga dari Papua. Indonesia memiliki cadangan tembaga terbaik lebih dari 12,6 juta ton. Sedangkan bauksit masih dicadangkan sebanyak 3.286 juta ton yang tersebar di daerah Kalimantan, Riau, dan Bangka Belitung. Nikel dari Indonesia bisa memenuhi 60% cadangan nikel dunia.
Miskin dan Korupsi Jumbo
Mungkin karena potensi Bumi Indonesia begitu melimpah, maka korupsi di komoditas pertambangan pun paling terbesar. Malah menjadi konsesi politik para politisi untuk menambah kantong pribadinya.
Faktanya, setelah deretan kasus korupsi jumbo seperti PT Asabri dan Jiwasraya, publik dikagetkan dengan kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam tata niaga komoditas timah dan emas yang menembus angka ratusan triliun.
Penikmatnya segelintir pebisnis yang dibeking para politisi.
Berbanding terbalik dengan kenyataan, bisnis pertambangan tidak siginifikan menambah negara ini makmur. Kemiskinan justru bertambah sebagaimana di Papua yang berlimpah emas.
Ditambah lagi kerusakan akibat penambangan karena kerusakan lingkungan. Antara lain kerugian ekologis dan kerugian ekonomi yang harus dipulihkan yang berimplikasi langsung pada penduduk setempat. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.




