DisabilitasOpini

Seni & Desain Inklusif, What’s Next?

SENI & DESAIN INKLUSIF, WHAT'S NEXT?

413views

Oleh Faran Fahmy (President Dilans Indonesia)

BERTEMU — kembali dengan tiga manusia langka: Agung Hujatnika, Imaniar Rizki, dan Dolly Ismawan pada acara dialog dari rangkaian kegiatan pameran Tab Space yang menampilkan berbagai karya dan pencapaian sejak berdirinya di tahun 2022. Pameran masih berlangsung hingga 12 Mei 2024 di Fragment Project.

Ketiganya diantara yang menjadi inspirasi dengan caranya masing-masing untuk mendialogkan gagasan seni dan desain inklusif dalam pemahaman yang lebih luas. Kepada mereka, saya selalu mengatakan pentingnya seniman dan desainer melalui kurasinya bisa menjadi bagian dari perubahan perilaku sistemik dan melembaga yang menjangkau para pemangku kepentingan maupun warga negara.

Agung Hujatnika seorang seniman, kurator sekaligus akademisi di FSRD-ITB. Agung telah membuka kesempatan saya untuk menjadi bagian dari proyek survei Open Arms serta mengundang saya sebagai panelis dalam membahasnya. “Seni Dimata Kami dan Dialog Terpumpun”, Maret 2023.

Proyek yang berdurasi setahun ini telah menghasilkan pembelajaran yang luar biasa, bukan saja bagi Selasar Sunaryo dimana dia menjadi salah satu penggeraknya, tetapi memperluas lanskap dalam isi dan karya yang dapat dinikmati dalam beragam media, khususnya yang dapat dinikmati warga difabel.

Tergabungnya sekitar 10 museum dalam inisiatif ini telah membuka inspirasi untuk mendorong interaksi dan kolaborasi yang terbuka di kalangan seniman (non) difabel, serta kurasi pameran yang berhubungan dengan konteks kekinian, diantaranya soal kemiskinan, krisis iklim dan inklusi sosial.

Dialog itu juga memperkenalkan saya pada Imaniar dari Tab Space yang saat itu meramaikan dialog yang mengajarkan praktisi seni, akademisi, aktivis difabel, perwakilan museum, dan para aktivis difabel. Tertarik dengan apa yang dikerjakannya saya mengunjungi studionya yang berkantor di Fragment Project Bandung.

Dari perbincangan itukah akhirnya saya memutuskan DILANS Indonesia untuk berkantor bergabung bersama tujuh studio lainnya di gedung inj. Interaksi terus berlangsung hingga kini.

Selanjutnya, dari berbagai interaksi itu pula memperkenalkan saya pada Dolly Ismawan dari NuArt Sculture Park dan memberikan kesempatan pada saya dan aktivis DILANS Indonesia untuk mengunjunginya. Galery luar biasa yang memamerkan berbagai karya Nyoman Nuarta yang sudah menghiasi banyak instalasi penting di berbagai wilayah di tanah air.

Setahun begitu cepat berlalu, dari berbagai interaksi ini telah menginspirasi banyak inisiatif dan karya. Termasuk pendalaman kritis tentang karya seni dan desain yang benar-benar otentik dan dapat dikatakan sebagai “seni inklusif”.

Pada dialog yang menampilkan Prananda Luffiansyah, Amanda Ariawan dan Agung saya sampaikan tentang pentingnya apa yang sudah dan sedang dilakukan ini membahas secara masif. Termasuk mendekatkan seniman dan karyanya ke kantung-kantung dimana warga difabel berada.

Adanya pameran dan galeri di gang adalah salah satu yang juga telah menginpirasi banyak aktivisme BBC76 Community Arts and Science for Everyone untuk mewujudkannya. Inklusivitas harus menjangkau sampai tingkat ini.

Dunia tidak sedang baik-baik saja. Krisis Iklim, bencana, carut marut tata kelola dalam berbagi wilayah, serta berbagai permasalahan sosial yang menyertainya merupakan tantangan bersama yang harus diselesaikan. Seni dan Desain mempunyai peran penting dalam mentransformasikannya pada kehidupan inklusif dan keinginan bumi. Penulis Ptesident Dilans Indonesia, Bertempat tinggal di  Bandung.

Leave a Response