DaerahKabupaten/Kota

Yuliza Zen dan Kubu Gadang, dari Desa Wisata ke Panggung Dunia

Pegiat Desa Wisata Kubu Gadang Panjang, Yuliza Zen, menerima penghargaan di sela-sela menghadiri kegiatan Conference Asia Marketing Association yang diikuti 13 negara di Asia mengenai arah pemasaran lima tahun ke depan, 11-16 November 2025. Beberapa foto lainnya kegiatan wisata dan seni budaya di Desa Wisata Kubu Gadang. (Foto: Dok. Pokdarwis Desa Wisata Kubu Gadang) 

247views

PADANG PANJANG, BANDUNGPOS– punya pegiat pariwisata yang gigih. Yuliza Zen namanya. Seorang ibu muda. Ia bersama masyarakat Kubu Gadang di Kelurahan Ekorlubuk, Padang Panjang Timur, mengembangkan desa wisata. Hingga kini, Desa Wisata Kubu Gadang terus bertahan dan tumbuh.

Saya mengenal Yuliza Zen sejak membawakan kegiatan Petang Puisi, kolaborasi Komunitas Seni Kuflet dengan Desa Kubu Gadang, pada Januari 2017. Petang Puisi menghadirkan penyair se-Sumatera dan mengundang mereka membaca puisi di tengah persawahan Kubu Gadang.

Desa ini memang dikelilingi sawah-sawah penduduk. Lanskap itu membuat Kubu Gadang berpanorama rancak, yang tentu saja menjadi modal utama dalam membangun industri pariwisata.

Setahun kemudian, pada tahun 2018, saya ikut merekomendasikan Desa Wisata Kubu Gadang menjadi lokasi Temu Penyair Asia Tenggara. Kegiatan itu merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Padang Panjang melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang bersama Forum Pegiat Literasi Padang Panjang. Sebanyak 300 penyair se-Asia Tenggara dimukimkan di rumah-rumah penduduk di Kubu Gadang. Para peneliti berinteraksi langsung dengan masyarakat, menikmati kuliner khas Kubu Gadang, dan merasakan kehidupan kampung.

Pada tahun 2022, Temu Penyair Asia Tenggara II Padang Panjang kembali dihelat. Seratus ekosistem Asia Tenggara diundang, dan dimasukkan kembali ke Desa Wisata Kubu Gadang.

Setelah itu, Desa Kubu Gadang terus menggeliat dengan berbagai program. Meski saya tidak terlibat langsung dalam pengelolaan desa wisata itu, tetapi komunikasi dan interaksi melalui diskusi-diskusi dengan Yuliza Zen tetap intens.

Kebertahanan Yuliza Zen dan kawan-kawannya dalam mengelola desa wisata ini patut diacungi jempol. Hingga akhir tahun 2025, banyak prestasi dan penghargaan berhasil diraih.

Pada 11–16 November 2025 lalu, Yuliza Zen diundang menghadiri Conference Asia Marketing Association di Kolombo, Sri Lanka. Konferensi ini diikuti 13 negara Asia dan fokus pada arah pemasaran pariwisata dunia lima tahun ke depan.

Hadirnya Yuliza Zen di forum tersebut membuktikan bahwa Desa Wisata Kubu Gadang Padang Panjang memang patut berada di tingkat dunia.

Di Kolombo, Yuliza Zen menerima penghargaan sekaligus mengikuti sejumlah agenda. Ia mengunjungi pusat kerajinan tangan Sri Lanka sambil menelusuri sejarahnya, menghadiri jamuan makan malam bersama Duta Besar Indonesia untuk Sri Lanka, berdialog dengan Hermawan Kartajaya yang seorang pakar pemasaran Indonesia, serta disambut tuan rumah Sri Lanka Marketing Association.

Yuliza Zen mengatakan, penghargaan di Sri Lanka merupakan bagian dari Asia Marketing Awards yang diselenggarakan Asia Marketing Federation. Ia terpilih sebagai Asia’s Top Outstanding Youth Marketeer of the Year 2025. Yuliza Zen masuk dalam ajang penghargaan itu atas rekomendasi Indonesia Marketing Association (IMA), setelah menjadi pemenang IMA UMKM Award pada tahun 2024.

Pada saat seleksi tingkat Asia, usianya masih 32 tahun sehingga ia masuk kategori pemasar muda.

Tahapan yang dilalui Yuliza Zen tidak singkat. Tidak juga mudah.

Sejak tahun 2024, ia berkompetisi dengan sekitar 800 UMKM dari seluruh Indonesia. Proses eliminasi berlangsung melalui lima tahapan hingga menyisakan enam besar nasional yang digelar di Jakarta, dan Yuliza Zen keluar sebagai juara pertama.

Menyusul kompetisi itu atas kemauan sendiri tentu menuntut keyakinan bahwa apa yang dikerjakan memiliki daya saing, di tengah menganggapan pesimistis bahwa hal itu tidak mungkin dimenangkan. Dalam proses tersebut, Yuliza Zen mengaku menikmatinya karena selaras dengan latar belakang keilmuannya di bidang ekonomi bisnis yang dipadukan dengan kemampuan ‘public speaking’.

Bencana alam berupa banjir bandang dan galodo yang terjadi beberapa waktu lalu diakui Yuliza Zen sangat berdampak pada minat kunjungan wisata ke Sumatera Barat, khususnya Padang Panjang. Akses jalan utama di kawasan Jembatan Kembar dan Lembah Anai yang sempat terputus, serta trauma masyarakat terhadap bencana, menjadi persoalan yang harus segera diatasi. Banyak destinasi yang terdampak, dan hal itu berpengaruh pula pada destinasi lain karena sebagian perjalanan wisata saling berhubungan, termasuk Desa Wisata Kubu Gadang. Ia berharap kondisi ini dapat segera pulih.

Yuliza Zen mengakui, menggerakkan Desa Wisata Kubu Gadang dalam kondisi pascabencana membutuhkan strategi khusus. Salah satunya dengan memaksimalkan kembali pasar lokal melalui program-program edukasi, serta menyasar segmentasi wisatawan yang tidak melewati daerah dengan akses jalan rawan.

Pada tahun ini, Desa Wisata Kubu Gadang sedang dalam proses persiapan program edukasi bahasa Inggris dan tahfiz dengan target edu-tourism yang lebih mendalam. Program itu diarahkan pada peningkatan keterampilan, sehingga pengelolaan pariwisata tidak hanya fokus pada jumlah wisatawan, tetapi juga pada lama tinggal dan kualitas pengalaman wisata.

Yuliza Zen juga mengakui bahwa tantangan terbesarnya dalam mengelola desa wisata adalah tidak banyak generasi muda potensial yang mau tinggal di kampung dan mengembangkan kampung halaman. Padahal, dari sisi sosial kemasyarakatan dan sumber daya manusia, Kubu Gadang memiliki bahan dasar yang cukup kuat dalam pengembangan pariwisata, baik dari segi atraksi, akses, amenitas, maupun kelembagaan.

Menurutnya, yang dibutuhkan adalah dorongan bersama dari berbagai pihak. Kubu Gadang memerlukan peningkatan wahana dan fasilitas, serta peran pemerintah dan investor berbasis masyarakat—bukan hanya berpola swasta—untuk bersama-sama memperkuat Kubu Gadang agar menjadi ikon baru yang mampu menghasilkan pendapatan bagi kota. Hal ini, menurutnya, memerlukan kajian khusus.

Sejumlah prestasi nasional dan internasional telah diraih Desa Wisata Kubu Gadang, di antaranya: Desa Wisata Terbaik Sumatra Barat 2020, Runner Up Pokdarwis Terbaik Sumatra Barat 2021, Desa Wisata Bersertifikasi Berkelanjutan Skala Nasional 2021, serta masuk delapan kategori besar Desa Wisata Terbaik maju dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2023.

Sepanjang perjalanannya, kegiatan Desa Wisata Kubu Gadang meliputi berbagai atraksi budaya seperti Silek Lanyah (bersilat di dalam lumpur sawah—pen.), atraksi Gandang Tambua, dan pertunjukan seni tradisi lainnya. Selain itu, terdapat edukasi wisata tentang kearifan lokal Minangkabau, kuliner tradisional seperti Lamang Tapai, Rendang, dan Itiak Lado Mudo, serta pengalaman menginap di homestay milik warga.

Beragam aktivitas lain juga dikembangkan, seperti membatik dan sesi trauma healing, semuanya dikemas dalam konsep pariwisata berbasis komunitas yang melibatkan masyarakat setempat.

Atraksi budaya dan seni menjadi daya tarik utama Desa Wisata Kubu Gadang. Wisata edukasi dan komunitas memberi ruang bagi pengunjung untuk belajar langsung tentang budaya dan kehidupan desa, berinteraksi dengan tokoh lokal, mengikuti workshop membatik, serta kegiatan pemulihan pascabencana bagi anak-anak.

Kuliner tradisional disajikan di tepi sawah, sementara homestay menghadirkan pengalaman tinggal bersama masyarakat lokal.

Desa Wisata Kubu Gadang tumbuh sebagai ruang belajar bersama yang dirawat dengan kesabaran dan keyakinan. Apa yang dilakukan Yuliza Zen dan masyarakat Kubu Gadang menunjukkan bahwa pariwisata tidak harus meninggalkan akar budaya. Kubu Gadang bergerak pelan namun pasti, menjaga kekayaan lokalitas sambil terus membuka diri di dunia.** (Muhammad Subhan/bnn)

 

Leave a Response