Metro Bandung

Suara yang Pulang dari Jepang: Dari IPDF Online ke DILANS Voices

Suara yang Pulang Dari Jepang: Dari IPDF Online ke DILANS Voices

182views

KOTA BANDUNG, BANDUNGPOS--Dua puluh tahun yang lalu, saya bersama rekan-rekan mahasiswa di Tokyo Institute of Technology (TITech) mendirikan sebuah radio berani sederhana bernama Indonesia Policy Dialogue Forum (IPDF) Online. Dari ruang kecil mahasiswa di Jepang, kami menyiarkan percakapan, kegelisahan, dan harapan di tengah masa transisi demokrasi Indonesia.

Dengan teknologi yang sangat terbatas pada masanya, radio ini menghubungkan warga, diaspora, dan para pengambil kebijakan, menghadirkan ruang publik alternatif ketika partisipasi kanal-kanal masih sangat terbatas. Indonesia IPDF Online bahkan sempat diliput NHK World Japan dalam siaran prime time, “Ohayo Nihon”.

Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika kami meliput Pemilihan Presiden langsung pertama di Indonesia, yang akhirnya memilih Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden. Dalam wawancara jarak jauh yang serba sederhana, berbagai tokoh nasional hadir dalam siaran, di antaranya Hidayat Nurwahid, saat itu Ketua MPR. Di lingkaran yang sama, ada pula sahabat saya Brian Yuliarto, yang kala itu masih pelajar, dan kini dipercaya sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Waktu berjalan, peran berubah, tetapi keyakinan tentang pentingnya ruang suara publik tetap sama.

Kini, dua dekade kemudian, suara itu pulang. Saya, bersama kawan-kawan di DILANS Indonesia dan para rekan, melanjutkan perjalanan tersebut melalui DILANS Voices – Inclusion on Air. Ini bukan sekedar hobi, apalagi nostalgia romantis. Ini adalah keinginan nilai: bahwa media, apapun pun, selalu membawa konsekuensi sosial dan politik. Bedanya, hari ini keberpihakan itu saya wujudkan dengan lebih tegas.

DILANS Voices hadir untuk memastikan mereka yang paling sering terjadi di ruang publik: penyandang disabilitas, lanjut usia, dan kelompok rentan lainnya, tidak hanya menjadi objek pembahasan, tetapi juga subjek yang bersuara. Bukan sekadar diwawancarai, tetapi dilibatkan. Bukan hanya didengar, tetapi diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan.

DILANS Voices lahir dari satu sikap yang jelas: suara tidak pernah netral. Dua puluh tahun lalu, saya menggunakan media untuk membuka ruang dialog di tengah perubahan politik. Hari ini, saya, bersama jaringan DILANS, menggunakannya untuk mengganggu kenyamanan: menantang sistem yang terus meminggirkan kelompok rentan dari percakapan publik dan kebijakan yang menentukan kehidupan mereka.

Suara yang pulang dari Jepang ini hadir dengan keberpihakan yang tegas: berpihak pada mereka yang paling terdampak, paling jarang didengar, dan paling sering dibicarakan tanpa dilibatkan.

Inilah undangan kami: dengarkan, libatkan, dan beri ruang. Karena inklusi bukan soal belas kasihan, melainkan soal keadilan. Dan keadilan hanya mungkin terwujud ketika mereka yang paling terdampak ikut bersuara, dan sungguh-sungguh didengar.**(Release-FH/BNN)

Leave a Response