
BANDUNG, BandungPos — “Seorang pemimpin itu tidak harus keras saat memimpin maupun menindak anggotanya, namun harus tegas dan santun dengan mengutamakan kedekatan humanis dan religius,”. Itulah yang diungkapkan Panglima Kodam III Siliwangi Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M.
Baginya, prajurit yang kuat bukan hanya yang unggul secara fisik dan taktis, tetapi juga yang memiliki akhlak, integritas, dan kesadaran spiritual. Pendekatan ini menjadikan nilai keimanan bukan sebagai simbol seremonial, melainkan sebagai landasan etika dalam menjalankan tugas.
Tak heran Kalau Jenderal berbintang dua ini dijuluki sebagai ‘Jenderal Santri’ hal itu tercermin dari gaya komunikasi dan sikap personalnyz . Ia dikenal berbicara lugas namun santun, tegas tanpa arogansi, serta dekat dengan prajurit dari berbagai lapisan. Kepemimpinannya tidak berjarak, melainkan membumi menghidupkan kembali semangat pamong, pengayom, dan pelindung rakyat sebagaimana jati diri TNI.
Jenderal kelahiran Ujung Kulon, Banten tanggal 2 April 1971 ini mengakui perjalanan untuk menjadi seorang Jenderal itu tidaklah mudah. Apalagi latar belakang orang tuanya yang bisa dikatakan sangat sederhana. Bahkan sang ayah secara tegas menginginkan dirinya itu menjadi penerus ayahnya sebagai ustadz.
“Jadi bapak saya itu membri nama Kosasih karena terinspirasi oleh seseorang dimasa itu sebagai seorang tentara yang berwibawa, friendly, lincah, bersahaja, menjadi panutan untuk banyak orang, merakyat dan mudah bergaul tanpa ada sekat, dan beliau adalah R.A. Kosasih yang tak lain adalah Panglima Kodam Siliwangi pada masanya (Pangdam VII periode 1958-1960),” terangnya.
Jadi tentara tanpa sengaja
Diakuinya ia sendiri masuk tentara tanpa sengaja hanya karena ingin memberikan citra baik karena adanya oknum tentara yang berperilaku semena-mena alias arogan. Saat itu, selepas solat Isya ia makan mie ayam langganannya dan kebetilan ada seorang TNI yang juga makan di tempat tersebut dalam keadaan mabuk. Namun saat ditagih bayaran ia malah ngamuk dan menancapkan belati di atas meja.
“Melihat kejadian itu saya kaget dan langsung mengucap istigfar.sambil berdoa mudah-mudahan saya dapat menjadi tentara dan dapat memperbaiki akhlak tentara. Sejatinya tentara harus mengayomi, melindungi dan bahkan membantu masyarakat yang membutuhkannya,” katanya.
“”Begitu ada penerimaan AKABRI saya langsung daftar dan alhamdulillah diterima. Ya walaupun secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua karena pasti tidak diijinkan. Baru setelah dinyatakan lulus dan harus berangkat ke Magelang untuk seleksi tingkat nasional saya bilang ke orang tua. Saya masih ingat saat itu hanya dibekali uang hasil celengan kakak,” sambungnya.
Santri juga bisa jadi jenderal
Terkait kenapa dirinya dijuluki Jenderal Santri bukan karena keiinganya mendapatkan julukan itu. Hanya saja memeng latar belakangnya yang berasal dari santri serta latar belakang sosoknya yang agamis. Selain itu karea keiingananya untuk membuka wawasan masyarakat bahwa santri pun bisa menjadi jenderal.
“Jadi intinya saya ingin membuka wawasan masyarakat sekaligus menginspirasi bahwa santri pun bisa menjadi seorang jenderal. Selama ini paradigma masyarakat bahwa lulusan pesantren maupun sekolah agama itu ujung-ujungnya jadi ustadz. Selama kita punya niat dan keinginan disertai keimanan InsyaAlloh pasti tercapai. Kita mesti ingat Allph tidak akan merubah nasib kaumNya jika kita tidak berusaha untuk merubahnya sendiri,” pungkasnya.***


