Ramadhan bersama Baznas: Dompet Tipis Tak Apa, Asal Hati Tidak Pelit
Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas: “Perumamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah : 261)

Oleh: Ashar Tamanggong
Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas: “Perumamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah : 261)
ADA--satu penyakit yang tidak bisa dideteksi lewat cek darah, tapi dampaknya luar biasa: pelit. Uniknya, penyakit ini tidak mengenal kelas sosial. Orang miskin bisa pelit, orang kaya apalagi. Bahkan terkadang, semakin tebal dompet, semakin tipis hati.
Padahal Islam tidak pernah memerintahkan kita punya dompet tebal. Yang diwajibkan justru punya hati yang lapang. Soal isi dompet, itu bonus. Soal isi hati, itu urusan iman.
Banyak orang merasa tidak pantas bersedekah karena dompetnya “masih tipis”. Padahal, dompet tipis itu biasa saja. Yang tidak biasa—dan berbahaya—adalah hati yang pelit. Dompet bisa kosong hari ini, terisi besok. Tapi hati pelit, kalau dibiarkan, bisa menghabiskan seumur hidup.
Kita sering terjebak pada kalimat klasik: “Nanti kalau sudah kaya.” Masalahnya, orang yang menunggu kaya untuk berbagi, biasanya tidak akan pernah merasa kaya. Karena pelit bukan soal jumlah harta, tapi soal cara pandang.
Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas: “Perumamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah : 261)
Allah tidak bertanya: “Seberapa tebal dompetmu?”
Yang ditanya adalah: “Mau ditanam atau tidak?”
Sedekah itu bukan soal kaya atau miskin. Ia soal percaya atau tidak percaya. Percayalah bahwa memberi tidak membuat miskin. Percayalah bahwa rezeki tidak berhenti di tangan kita. Percayalah bahwa Allah tidak pernah salah menghitung.
Banyak orang lebih percaya promo diskon daripada janji Allah. Diskon 50 persen dikejar. Tapi janji dilipatgandakan sampai 700 kali? Masih ragu. Katanya beriman, tapi urusan dompet tetap minta bukti dulu.
Islam tidak membiarkan kita memberi sampai bangkrut. Namun Islam juga tidak mendidik kita hidup dengan penimbunan mental. Karena harta yang ditahan terlalu lama akan berubah fungsi: dari alat ibadah menjadi sumber kecemasan.
Orang yang pelit itu sebenarnya hidup capek.
Takut berkurang. Takut habis. Takutnya tidak cukup.
Padahal, yang bikin cukup bukan jumlah, tapi rasa syukur.
Ada orang yang dompetnya tipis, tapi hidupnya tenang.
Ada juga yang dompetnya tebal, tapi tidurnya tidak nyenyak.
Bedanya? Yang satu ringan tangan, yang satu berat hati.
Sedekah itu seperti olahraga hati. Sedikit tapi rutin, bikin iman sehat. Tidak perlu menunggu besar. Yang penting konsistensi. Karena di hadapan Allah, nilai sedekah bukan di nominal, tapi di keikhlasan dan keberanian melawan pelit.
Terkadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang keluar, sampai lupa menghitung apa yang masuk. Nafas masih gratis. Kesehatan masih diberi. Kesempatan hidup masih diperpanjang. Tapi giliran diminta berbagi, kami tiba-tiba merasa paling kekurangan.
Padahal, hati yang tidak pelit itu sumber kebahagiaan. Orang yang mudah memberi biasanya lebih mudah tersenyum. Lebih jarang iri. Lebih cepat bersyukur. Karena sedekah itu bukan hanya mengalirkan harta, tapi membersihkan hati dari rasa takut kehilangan.
Islam ingin umatnya kuat, bukan hanya kaya. Dan kekuatan itu lahir dari solidaritas, bukan dari saldo semata. Zakat, infak, dan sedekah adalah cara Islam memastikan: yang kuat tidak meninggalkan yang lemah, dan yang punya tidak menjaminn wajah dari yang membutuhkan.
Kalau hari ini dompet kita tipis, itu bukan aib.
Tapi kalau hari ini hati kita pelit, itu alarm iman.
Karena dompet tipis masih bisa terisi.
Tapi hati yang pelit, kalau tidak dibor berbagi, bisa mati rasa.
Sedekah tidak menunggu kaya. Justru seringkali, sedekahlah yang mengantarkan seseorang pada rasa cukup.
Maka jangan tunggu dompet tebal untuk berbagi.
Cukup pastikan satu hal: hati kita masih hidup, masih lembut, dan masih mau memberi. Karena di hadapan Allah, yang paling mahal bukanlah isi dompet kita— melainkan isi hati kita. Wallahu A’lam..Penulis bertempat Tinggal di Kabupaten Maros.
Editor : Rianto Muradi





