Pendidikan

Perkuat Pendidikan Kewargaan Global Berbasis Kearifan Lokal, GCC Indonesia Gelar Bedah Buku Cerita Rakyat Maphilindo

14views

BANDUNG, BandungPos, — Global Citizenship Education Cooperation Centre (GCC) Indonesia bersama GCC Malaysia dan GCC Philippines menggelar kegiatan Bedah Buku Maphilindo Folktales for Global Citizenship Education di Kantor GCC Indonesia, Gedung Sadarjoen Siswomartojo, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB ini menjadi bagian dari proses penyempurnaan naskah sebelum buku memasuki tahap finalisasi dan penerbitan.
Buku tersebut merupakan karya kolaboratif tiga lembaga GCED dari kawasan Asia Tenggara yang menghimpun cerita rakyat pilihan dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Melalui pendekatan Maphilindo, cerita-cerita dari ketiga negara dipertemukan tanpa menghilangkan kekhasan budaya masing-masing, sekaligus membuka ruang dialogis dan refleksi mengenai nilai-nilai kewargaan global.

Direktur GCC Indonesia, Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si., yang juga bertindak sebagai Ketua Editor buku, menyampaikan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh telaah dan masukan akademik terhadap substansi buku, representasi budaya dari ketiga negara, relevansi nilai-nilai Global Citizenship Education (GCED), pendekatan pedagogis, hingga aspek editorial dan penyajian. Buku ini disiapkan khusus sebagai sumber pembelajaran bagi peserta didik sekolah dasar dan menengah.

“Setiap cerita harus terlebih dahulu hadir sebagai karya naratif yang utuh, kemudian menjadi pintu masuk bagi refleksi kehidupan masa kini dan kewargaan global,” demikian prinsip editorial yang ditekankan dalam penyusunan buku tersebut, dengan mengedepankan penghormatan terhadap tradisi sekaligus refleksi kritis.

Empat cerita rakyat dibedah dalam kegiatan ini, yaitu Lutung Kasarung dari Pasundan, Jawa Barat, yang dikaitkan dengan tema keberagaman, inklusi, dan martabat manusia; Malin Kundang dari Minangkabau, Sumatera Barat, yang mengangkat martabat manusia dan integritas; Puteri Gunung Ledang dari Malaysia, yang menyoroti perdamaian, kebebasan individu, dan batas-batas kekuasaan; serta Pak Kaduk dari Malaysia, yang membahas keadilan sosial, pemikiran kritis, dan ketimpangan relasi kuasa.

Pembedahan cerita Lutung Kasarung disampaikan oleh Prof. Dr. Dedi Koswara, M.Hum., sementara Malin Kundang dibahas oleh Prof. Dr. Usep Kuswari, M.Pd. Adapun dua cerita dari Malaysia dipaparkan oleh Prof. Madya Dr. Rohizani binti Yaaqub bersama tim GCC Malaysia. Sesi tanggapan, diskusi, dan masukan peserta dipimpin langsung oleh Prof. Dasim, dengan Dr. Nisrina Nurul Insani, M.Pd. sebagai notulis sekaligus pembawa acara.

Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah akademisi dan pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan GCC Malaysia — Dr. Syed Mohamad bin Syed Abdullah, Prof. Madya Dr. Rahimi binti Che Aman, serta beberapa perwakilan lain — dan jajaran GCC Indonesia, termasuk Prof. Dr. Ridwan Purnama, S.H., M.Si, Dr. R. Dian Muhammad Johan Johor Mulyadi, M.Hm, dan sejumlah undangan.

Hadirkan rekomendasi konkret

Prof. Dasim berharap kegiatan ini menghasilkan rekomendasi konkret bagi penyempurnaan buku dari sisi kultural, kesastraan, akademik, pedagogis, dan editorial.

“Pada akhirnya, buku ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama Maphilindo, tempat kearifan lokal dapat berbicara kepada tanggung jawab kewargaan global,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam mendorong generasi muda untuk hidup kritis, damai, inklusif, dan saling menghormati di tengah perbedaan.

Dalam sesi bedah cerita, Prof. Dr. Dedi Koswara, M.Hum. mengulas kisah Lutung Kasarung dari tanah Pasundan, Jawa Barat, dengan menyoroti bagaimana narasi transformasi wujud sang tokoh utama dapat dibaca sebagai metafora tentang keberagaman, inklusi, dan penghormatan terhadap martabat manusia yang relevan bagi pembelajaran kewargaan global di sekolah menengah.

Bedah cerita Malin Kundang

Diskusi kemudian berlanjut pada pembedahan cerita Malin Kundang dari Minangkabau, Sumatera Barat, yang dipaparkan Prof. Dr. Usep Kuswari, M.Pd.; ia menekankan bahwa kisah klasik tentang durhaka dan kutukan ini menyimpan lapisan makna lebih dalam terkait martabat manusia dan integritas, sehingga dapat diajak dibaca ulang bukan sekadar sebagai pesan moral yang sudah baku, melainkan sebagai ruang refleksi kritis bagi siswa mengenai relasi keluarga, tanggung jawab, dan konsekuensi pilihan hidup.

Sesi berikutnya menghadirkan pembedahan dua cerita rakyat Malaysia oleh Prof. Madya Dr. Rohizani binti Yaaqub bersama Tim GCC Malaysia, yang diawali dengan kisah Puteri Gunung Ledang. Dalam pemaparannya, narasi legendaris tentang sang puteri dan tujuh syarat mustahilnya dibaca sebagai representasi nilai perdamaian, kebebasan individu, martabat, serta batas-batas kekuasaan yang relevan diperbincangkan dalam konteks kewargaan global masa kini.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan cerita Pak Kaduk, sosok rakyat jelata yang kerap dijadikan cermin sindiran sosial dalam tradisi lisan Melayu; melalui kisah ini, Prof. Rohizani menyoroti tema keadilan sosial, pemikiran kritis, hak, serta ketimpangan relasi kuasa yang dinilai masih relevan untuk mengajak siswa sekolah menengah merefleksikan struktur sosial di sekitar mereka.

Perspektif yuridis

Dari perspektif yuridis kebijakan pendidikan, kegiatan Bedah Buku ini juga membuka wacana penting mengenai peluang pemanfaatan Cerita Rakyat Maphilindo sebagai muatan lokal di satuan pendidikan Jawa Barat. Mengacu pada semangat otonomi kurikulum yang memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan muatan lokal berbasis kearifan dan budaya setempat, kehadiran cerita Lutung Kasarung dari Pasundan dalam buku ini dinilai selaras dengan upaya pelestarian identitas budaya Jawa Barat sekaligus penguatan pendidikan kewargaan global bagi peserta didik.

Sejumlah akademisi dalam forum berharap agar hasil penyempurnaan buku ini dapat ditindaklanjuti hingga tahap kajian kebijakan oleh dinas pendidikan setempat, sehingga ke depan berpeluang diusulkan dan diberlakukan sebagai salah satu buku bacaan wajib dalam kurikulum muatan lokal di sekolah menengah se-Jawa Barat, sebagai bagian dari ikhtiar menanamkan nilai kearifan lokal berdampingan dengan wawasan kewargaan global sejak usia dini.

Dari sisi konstitusional, Prof. Dr. Ridwan Purnama, S.H., M.Si, menyinggung penyelenggaraan pendidikan nasional memperoleh landasan kuat dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 31 yang menegaskan hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan serta kewajiban pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional guna meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ketentuan ini beririsan dengan Pasal 32 UUD NRI 1945 tentang kewajiban negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya, termasuk bahasa dan cerita rakyat daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Amanat konstitusi tersebut diturunkan lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), yang menempatkan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi diri, masyarakat, bangsa, dan negara. Undang-undang ini juga membuka ruang bagi kurikulum muatan lokal sebagai wujud penghormatan terhadap keragaman budaya, dengan memberi kewenangan kepada satuan pendidikan dan pemerintah daerah untuk mengembangkan materi ajar yang bersumber dari kearifan lokal setempat, sepanjang tetap selaras dengan tujuan pendidikan nasional.

Secara keseluruhan, kegiatan Bedah Buku Maphilindo Folktales for Global Citizenship Education ini menegaskan bahwa cerita rakyat dari Indonesia dan Malaysia — Lutung Kasarung, Malin Kundang, Puteri Gunung Ledang, dan Pak Kaduk — memiliki kekuatan naratif sekaligus muatan nilai yang relevan bagi pendidikan kewargaan global, mulai dari keberagaman dan martabat manusia, integritas, perdamaian dan kebebasan individu, hingga keadilan sosial dan pemikiran kritis. Forum diskusi menghasilkan masukan konstruktif dari sisi akademik, kultural, pedagogis, dan editorial untuk menyempurnakan naskah sebelum memasuki tahap finalisasi, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi Maphilindo antara GCC Indonesia, GCC Malaysia, dan GCC Philippines sebagai ruang bersama dalam memajukan pendidikan kewargaan global yang berakar pada kearifan budaya masyarakat Asia Tenggara.***ujn

Leave a Response