Olahraga

Carut Marut Piala Suratin 2026 Dibongkar Klub Jabar

17views

BANDUNG, Bandungpos.id – Klub-klub sepakbola di Jawa Barat mulai angkat bicara terkait kinerja PSSI Provinsi Jawa Barat dalam menyelenggarakan Kompetisi Piala Soeratin Jabar 2026.

Sejumlah persoalan mulai dari proses verifikasi di sistem SIAP hingga penunjukan venue dinilai belum ada perbaikan dari tahun ke tahun.

Biaya pendaftaran yang dikeluarkan klub pun disebut tidak berbanding lurus dengan kualitas pelaksanaan oleh Bidang Kompetisi PSSI Provinsi Jawa Barat.

“Pelaksanaan pertandingan seharusnya dipersiapkan secara matang agar seluruh peserta dapat mengikuti kompetisi dengan nyaman dan sesuai regulasi,” tegas Tony Supardi, Ofisial Tim sekaligus Pelatih Klub R2B Legend dari Bandung.

Menurut Tony, persiapan yang terburu-buru berpotensi menimbulkan persoalan di lapangan. Ia menilai Bidang Kompetisi PSSI Jabar tidak seharusnya memaksakan pertandingan sebelum seluruh kebutuhan teknis, administrasi, dan sarana prasarana benar-benar siap.

“Pada Piala Soeratin 2026 ini nampaknya belum siap untuk melaksanakan pertandingan. Seharusnya pertandingan tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. Khusus untuk lapangan perlu perhatian penyelenggara. Lapangan yang digunakan harus standar. Ini perlu direport karena lapangan yang kita gunakan saat ini tidak memenuhi standar,” ungkap Tony.

Lapangan Jadi Sorotan Utama
Hal senada disampaikan Manajer Tim Cimahi Putra, Dadan Rohimat. Ia sejumlah persoalan dalam pelaksanaan Piala Soeratin 2026 di Jawa Barat adalah kondisi lapangan.

Dadan menilai, kualitas lapangan menjadi faktor penting dalam menentukan mutu kompetisi. Pertandingan tingkat provinsi, katanya, tidak hanya mengejar terlaksananya agenda, tetapi juga harus memperhatikan kelayakan fasilitas agar pemain muda bertanding dengan aman dan nyaman.

“Yang pertama itu lapangan. Penunjukan tuan rumah selalu menjadi persoalan karena klub disarankan menjadi tuan rumah, dengan alasan anggaran tidak ada atau tidak cukup,” ujar Dadan, Rabu 19 Agustus 2026.

Menurutnya, persoalan lapangan bukan baru terjadi tahun ini. Dari tahun ke tahun keluhan mengenai lapangan yang belum memenuhi standar masih terus dirasakan klub peserta.

“Masalah lapangan ini dari tahun ke tahun masih saja sama. Minimal lapangan harus memenuhi standar. Bagaimana kompetisi mau bagus dan kualitas pertandingan meningkat kalau lapangannya tidak standar,” tegasnya.

Selain lapangan, Dadan juga menyoroti biaya pendaftaran yang terus naik. Pada 2026, biaya untuk kategori U-15 sebesar Rp 4 juta dan U-17 sebesar Rp 4,5 juta per tim. Untuk wilayah Bandung Raya, jumlah peserta Piala Soeratin 2026 cukup banyak. Khusus U-15 tercatat sekitar 30 peserta. Angka itu belum termasuk U-13, U-17, dan zona lainnya. Secara keseluruhan ada sekitar lima zona di Jawa Barat.

PSSI Jangan Jadi EO
Di tengah berbagai persoalan, Dadan berharap PSSI lebih aktif hadir mendampingi klub, bukan hanya menjalankan agenda kompetisi.

“Harapan saya, PSSI itu hadir di tengah-tengah klub, bukan malah seperti menjadi EO (Event Organizer). Kalau pihak swasta menjadi EO dan menarik biaya itu wajar, tetapi kalau PSSI, kami berharap lebih hadir mendampingi klub,” katanya ketus.

“Keluhan klub itu harus didengar. Jangan hanya sebatas menggugurkan kewajiban menerbitkan surat izin, tetapi nilai kehadirannya tidak dirasakan oleh klub,” tambahnya.

Ia pun mempertanyakan kualitas penyelenggaraan tingkat provinsi dibanding kompetisi kota/kabupaten. Fasilitas di tingkat Askot/Askab justru kerap lebih baik.

“Kalau kompetisi berbayar, bisa dibilang PSSI tidak hadir. Di tingkat kota juga sama-sama berbayar, apalagi di kabupaten. Seharusnya, di tingkat provinsi pelaksanaannya bisa lebih baik,” ujarnya.

“Kenapa pelaksanaan di tingkat provinsi malah kurang dibandingkan di tingkat kota/kabupaten. Menurut saya, lebih baik Askot karena di tingkat kota atau kabupaten lapangannya justru bagus,” lanjut Dadan.

Sebagai Manajer Cimahi Putra, Dadan memastikan klubnya menurunkan tim di U-15 dan U-17. Total biaya yang harus disiapkan mencapai Rp9,5 juta.

“Biaya tersebut menjadi tanggung jawab bersama antara manajemen klub dan orang tua pemain melalui sistem iuran. Mereka ikut urunan, kemudian sebagian kekurangannya ditambah oleh manajemen,” ungkapnya.

Karena itu, Dadan mengaku keberatan dengan besarnya biaya jika tidak diikuti peningkatan kualitas penyelenggaraan.

“Ya, sangat keberatan. Setiap even tiba harus berbayar dengan biaya yang cukup mahal. Kalau memang berbayar mahal, kami berharap ada perubahan sistem, lapangannya bagus dan penyelenggaraannya lebih baik,” tegasnya.

Masalah sistem kompetisi juga jadi sorotannya. Dadan menilai format satu grup yang hanya berisi tiga tim membuat setiap klub hanya bermain dua kali. Jumlah itu dinilai terlalu minim untuk pembinaan pemain usia muda.

“Apalagi kalau sistemnya liga, seharusnya pertandingan lebih banyak. Ini satu grup hanya tiga tim, jadi kami hanya bermain dua kali. Untuk sebuah kompetisi pembinaan, menurut kami jumlah pertandingan itu masih sangat minim,” kataya memungkasi. *(Den)

Leave a Response