
Oleh: Ridhazia
ABSURDITAS adalah keadaan yang tidak masuk akal, tidak bermakna, atau sangat tidak masuk akal sehingga tidak rasional adalah kesia-siaan dalam hidup. Tidak ada tujuan atau makna bawaan dalam eksistensi manusia.
Solusi yang ditawarkannya adalah melakukan pemberontakan atas hidup (revolt). Menghadapi hidup dengan berani tanpa perlu takut pada bahaya kematian yang bisa datang setiap saat tanpa diketahui.
Filsafat Perang
Kata “absurd” yang berarti mustahil, tidak masuk akal, menggelikan, dan menertawakan sering menjadi bahasan dalam konteks filsafat perang yang mencoba memahami mengapa negara terlibat dalam konflik bersenjata.
Selain mempertanyakan apakah perang itu bagian tak terhindarkan dari sifat manusia atau bukan, dan apakah konflik antar negara yang berperang dapat dihindari melalui perubahan sifat manusia melalui rekayasa politik.
Terlebih lagi, filsafat perang juga membahas masalah etika dalam perang, seperti keadilan perang (jus ad bellum) dan perilaku yang adil dalam perang (jus in bello).
Perang itu absurd
Menurut Malcolm Gladwell dalam buku: The Bomber Mafia: A Dream, a Temptation, and the Longest Night of the Second World War (2021) kalau peperangan itu absurd. Apapun latar belakangnya.
Bagaimana mungkin tidak disebut absurd, selama ribuan tahun, manusia memilih untuk menyelesaikan perbedaan di antara negara bermusuhan dengan melenyapkan satu sama lain.
Dan, jika tidak mampu melenyapkan dalam waktu yang telah ditentukan, manusia menghabiskan waktu dan perhatian dapat melenyapkan pihak lain di waktu yang akan datang.
Tak ada Pemenang
Tak ada pemenang dalam perang absurd. Cepat atau lambat, itu negara yang berperang harus pindah dari medan perang ke meja perdamaian.
Melanjutkan perang secara moral tidak dapat diterima, tidak dapat dipertahankan secara politik apalagi secara militer karena tidak masuk akal.
“Dengan ukuran apa pun – bahkan dengan perhitungan yang paling cerdas sekalipun – inilah saatnya untuk menghentikan pertempuran dan memberikan kesempatan bagi perdamaian. Sudah waktunya untuk mengakhiri perang yang tidak masuk akal yang mengerikan ini,” tambah dia. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhatui psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





