DaerahSeni Budaya

Padang Panjang dalam Peta Sastra Nusantara

Padang Panjang dalam Peta Sastra Nusantara

38views

PADANG PANJANG, BANDUNGPOS-– telah lama menjadi simpul temu kegiatan sastra. Orang senang datang ke Padang Panjang karena kotanya kecil, sejuk karena sering disiram hujan, menghadirkan rasa bahagia, dan pulang membawa kenangan.

“Padang Panjang kota yang berbahagia,” tulis AA Navis, pengarang cerpen “Robohnya Surau Kami”, yang tahun kelahirannya diperingati UNESCO bersamaan dengan tahun kelahiran Laksamana Malahayati di Aceh.

Navis berasal dari Padang Panjang. Cerpen “Robohnya Surau Kami” itu pun berlatar Padang Panjang.

Tuan bacalah cerpen itu. Ia menceritakan latar Padang Panjang, meski secara eksplisit tidak tertulis Padang Panjang. Jika Tuan bermukim di Padang Panjang, atau pernah lama menyinggahi kota ini, terasa betul Padang Panjang-nya isi cerpen tersebut.

Buya Hamka, sastrawan Minangkabau yang tersohor itu, juga menjadikan Padang Panjang sebagai latar cerita dalam novel-novelnya, seperti “Di Bawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. Prof. Mursal Esten, mantan Direktur ASKI Padang Panjang, budayawan sekaligus kritik sastra, juga lama bermukim dan berkarya di Padang Panjang.

Padang Panjang adalah kota yang mendatangkan banyak inspirasi dan tempat paling asyik ditempati.

Sejak tahun 2017, Padang Panjang juga masif melakukan gerakan literasi. Banyak kantong-kantong literasi tumbuh. Dan yang paling konsisten membawa sastra dalam berbagai kegiatannya di tengah gelanggang adalah Komunitas Seni Kuflet. Komunitas ini usianya telah lebih dari seperempat abad. Setiap tahun, selalu ada buku sastra yang diterbitkan dan diluncurkan Kuflet.

Selain malang melintasi berbagai teater teater di banyak kota di Indonesia dan sejumlah negara, Kuflet juga berkolaborasi dengan banyak pihak menghelat kegiatan-kegiatan sastra. Pada tahun 2017, Kuflet mengundang lebih dari dua ratus penyair se-Pulau Sumatera untuk menghadiri temu sastra melalui pembacaan puisi bertajuk Petang Puisi Kubu Gadang di Desa Wisata Kubu Gadang, Padang Panjang. Desa dengan lanskap persawahan ini memang asyik menjadi tempat bermukim para penyair dan membacakan karya-karya mereka.

Setahun kemudian, Kuflet bersama Forum Pegiat Literasi Padang Panjang berkolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang menggagas temu sastra yang lebih luas, dengan mengundang tiga ratus penyair Asia Tenggara. Dinas Perpustakaan merespons secara positif, lalu memperjuangkan anggaran hingga perhelatan itu terwujud pada tahun 2018, seiring dengan pencanangan Padang Panjang sebagai Kota Literasi.

Ratusan penyair dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Timor Leste, Vietnam, dan negara lain datang dan bermukim di Padang Panjang. Sepulang dari kota ini, mereka menulis karya sastra—terutama puisi—di media massa dan media sosial di negara masing-masing.

Temu Penyair Asia Tenggara kemudian menjadi “brand” baru perhelatan sastra di Padang Panjang dan juga “membranding” kota ini sebagai kota sastra yang layak diperjuangkan. Setelah itu, Pemerintah Kota Padang Panjang juga mengajukan proposal ke UNESCO untuk merekomendasikan kota ini sebagai salah satu Kota Sastra (Kota Sastra) dunia, meskipun perjuangan itu belum terwujud. Bersamaan dengan proposal yang dikirimkan Jakarta, Padang Panjang, kota kecil ini, mencoba bertaruh taruhan. Namun, pemenangnya adalah Jakarta, kota besar dengan kelengkapan indikator yang disyaratkan. Jakarta memang layak.

Meski begitu, dipilihnya AA Navis sebagai salah satu tokoh dunia yang hari kelahirannya diperingati UNESCO setidaknya mengobati harapan Padang Panjang. Navis lahir di Padang Panjang. Sayangnya, setelah menetapkan itu, di Padang Panjang hampir tak terdengar kabar adanya perayaan sastra untuk menyambut penghargaan tersebut. Tentu saja, ini perlu menjadi perhatian bersama.

Temu Penyair Asia Tenggara II dihelat pada tahun 2022, setelah pandemi Covid-19 mulai merenggang. Orang-orang yang datang ke Padang Panjang masih mengenakan masker. Kegiatan ini awalnya digagas dua tahunan, tetapi baru terwujud empat tahun kemudian setelah pertemuan pertama pada tahun 2018.

Jumlah penerbit yang diundang berkurang, dari tiga ratus menjadi seratus orang, karena keterbatasan anggaran pemerintah kota. Walau pesertanya lebih sedikit, setidaknya event sastra berukuran besar masih bertahan di Padang Panjang.

Sejak tahun 2022 hingga awal tahun 2026, belum lagi terdengar kabar Temu Penyair Asia Tenggara berikutnya: ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Entah memang tak diadakan lagi, atau terhenti karena pergantian kepemimpinan kota dan kepala dinas pun berganti.

Kita membutuhkan acara yang berkelanjutan di Padang Panjang. Jika sepenuhnya diharapkan kepada pemerintah, memang terasa agak sulit—meski selalu ada peluang dan harapan—karena terkait kebijakan, anggaran, pergantian pejabat, dan persoalan lainnya. Kegiatan sastra juga kerap tidak menjadi prioritas, karena dianggap sebatas acara kumpul-kumpul. Padahal, dari kumpul-kumpul itu, dampaknya besar: orang datang, bermukim, berbelanja, menulis, bercerita, lalu informasi tentang kota tersebar luas. Multiplier effect-nya sangat besar, meski sering tak terasa langsung.

Sastra sendiri mendapat tempat terhormat di dunia. Karya sastra bersanding dengan Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Perdamaian, dan Ilmu Ekonomi yang diganjar Nobel—penghargaan tertinggi dunia. Sayangnya, hingga kini sastrawan Indonesia belum ada yang meraihnya. Pramoedya Ananta Toer telah memohon berkali-kali, namun belum mendapat perhatian dewan juri Nobel.

Setidaknya, melalui perhelatan sastra, ruang temu perlu terus dibangun. Bukan sekedar silaturahmi, namun juga sebagai sumber inspirasi bagi calon-calon penyair dan sastrawan. Padang Panjang memiliki potensi besar sebagai “rumah tempat pulang” bagi para sastrawan, jika perhelatan sastra dapat diselenggarakan secara konsisten dari tahun ke tahun.

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) adalah salah satu contoh perhelatan sastra yang baik dan rutin dihelat setiap tahun. Dipusatkan di Ubud, daerah yang sama-sama rancak seperti Padang Panjang. Namun, UWRF dikelola oleh swasta, bukan pemerintah. Saya belum melihat ada perhelatan sastra di Indonesia yang diselenggarakan secara berkelanjutan oleh pemerintah. Yang ada, sekali muncul lalu hilang.

Semoga di masa mendatang, melalui semangat kolaborasi, lebih banyak perhelatan sastra dapat diselenggarakan oleh pemerintah daerah, khususnya di Padang Panjang.

Dan Selasa, 20 Januari 2026 lalu, di Perpustakaan Daerah Kota Padang Panjang, Kuflet kembali memulai kegiatan sastranya. Kali ini dengan meluncurkan buku antologi puisi bertajuk “Air Mata Sumatera”, yang diinisiasi sebagai bentuk penyelamatan dan empati atas bencana ekologis di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Sebanyak 150 saringan lolos kuras dalam buku ini. Mereka berasal dari Aceh hingga Papua Pegunungan, termasuk dari Malaysia, Singapura, Mesir, dan Afrika Selatan. Lebih dari dua ratus penyair—dan bukan penyair—mengirimkan karya ke Kuflet. Antusiasme terhadap buku ini sungguh luar biasa.

Di Perpustakaan Daerah Kota Padang Panjang, secara simbolik Kuflet menyerahkan buku yang telah diterbitkan kepada sejumlah penyair yang hadir, di antaranya Isbedy Stiawan ZS, Paus Sastra Lampung. Ia datang jauh-jauh dari Lampung, semata-mata ingin bernostalgia dengan Padang Panjang sekaligus menghadiri peluncuran dan diskusi buku tersebut.

Dalam sesi diskusi bersama narasumber Prof. Asril, S.Skar., M.Hum. dan Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., saya menyampaikan bahwa Kuflet telah menerbitkan dua jilid buku antologi bertema bencana. Jilid pertama terbit pada tahun 2024 dengan judul “Negeri Bencana”, merespons sejumlah bencana alam di berbagai daerah di Indonesia. Pada awal tahun 2026, Kuflet kembali menerbitkan antologi puisi bencana jilid II berjudul “Air Mata Sumatera”. Dan, pada penutup acara itu, saya menyampaikan harapan: semoga jangan ada lagi buku jilid III, karena bencana telah menyebutkan terlalu banyak luka—kehilangan, kerusakan, dan Penderitaan

Namun sastra, seperti juga doa, tetap perlu dihadirkan sebagai pengingat dan peringatan. Ia tidak mencegah hujan turun atau tanah longsor, tetapi mampu menjaga hati nurani agar tidak ikut terkikis. Melalui buku-buku, pertemuan, dan literasi kerja-kerja seperti yang dilakukan Kuflet, Padang Panjang kembali menegaskan dirinya: sebuah kota kecil yang percaya bahwa kata-kata masih punya daya untuk merawat kenangan, empati, dan harapan, bahkan di tengah duka yang berulang. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis/BNN

 

Leave a Response